Syeh Wali Lanang dan Joko Samudro

Syeh Wali Lanang dan Joko Samudro

Kerajaan Blambangan (Banyuwangi) sedang dilanda kesedihan. Mereka sedang diserang wabah penyakit mematikan. Sudah banyak rakyat yang meninggal dan belum ada tabib yang bisa mengusir atau menyembuhkan wabah penyakit ini.

Putri Sekardadu, anak dari Prabu Menak Sembuyu (Raja Blambangan) sedang sakit terkena wabah ini. Sudah beberapa minggu ini sang putri hanya tergolek tidur. Badannya sampai kurus kering. Raja dan permaisuri yang sedih dan ketakutan kehilangan anak satu-satunya ini, lalu mengumumkan sayembara. Siapapun yang bisa menyembuhkan sakit sang putri, jika laki-laki akan menjadi menantunya. Dan jika perempuan akan diangkat menjadi anak angkat raja. Namun tidak ada yang bisa memenangkan sayembara ini.

Hingga akhirnya sang Prabu mengutus patihnya, Patih Bayul Sengara, untuk mencari seseorang yang sakti di lereng gunung Merawan. Tersiar kabar bahwa di gunung yang terletak di perbatasan antara Jember – Banyuwangi ini, ada seorang pertapa yang sakti, yang bernama SYEHK WALI LANANG.

Patih Bayul pun berangkat ke sana. Dengan ditemani oleh beberapa pengawal pilihan, Patih Bayul pergi mencari pertapa sakti itu. Di tengah hutan, patih Bayul melihat seorang pencari kayu bakar di depan sana. Berniat bertanya, patih Bayul berniat menyusul orang itu. Tapi anehnya, semakin cepat sang patih dan pengawalnya berjalan, semakin jauh orang itu meninggalkannya. Bahkan beberapa kali mereka terkaget karena tiba-tiba orang itu sudah berada di tempat yang jauh hanya dengan melangkah pelan. Sampai ketika sang patih dan pengawalnya kelelahan, mereka malah dihadang oleh harimau.

Ketika sang patih dan pengawalnya hendak menyerang harimau yang lapar itu, sang pencari kayu muncul dan melarang mereka menyakiti binatang itu. Bahkan ketika harimau itu mendekati sang pencari kayu dan hendak menyerangnya, sang pencari kayu hanya diam tersenyum. Ketika harimau itu melompat hendak menyerangnya, sebelum menyentuh tubuh sang pencari kayu, harimau itu sudah terpental. Harimau itu lalu menjadi lemah. Sang pencari kayu mendekatinya dan dalam satu kali usap, harimau itu sudah pulih dan segera meninggalkan sang pencari kayu dan kelompok patih Bayul. Patih Bayul sangat takjub dengan kehebatan sang pencari kayu itu. Sang pencari kayu itu lalu mengaku bernama MAULANA ISHAK.

Singkat cerita, Patih Bayul pun bertanya tentang di mana dia bisa menemukan seorang pertapa yang bernama SYEHK WALI LANANG. Maulana Ishak ini pun lalu menyuruh Patih Bayul mengikuti seekor merpati putih yang bertengger di pikulannya. Merpati yang putih bersinar itu lalu terbang dan diikuti oleh Patih Bayul dan anak buahnya.

Sempat kehilangan jejak sang merpati, Patih Bayul malah bertemu lagi dengan Maulana Ishak. Sang Patih heran kenapa orang itu bisa menyusul mereka padahal mereka mengendarai kuda sementara Maulana Ishak hanya berjalan kaki.

Setelah melihat merpati putih itu lagi, Patih Bayul melanjutkan perjalanannya. Di sebuah air terjun, patih dan pengawalnya kehilangan merpati itu lagi. Tapi patih melihat air terjun yang jatuhnya berbelok. Setelah mendekat, ternyata air terjun itu tidak dapat menyentuh tubuh seseorang yang sedang sholat di bawah air terjun itu. Tubuh orang itu seperti diselimuti oleh sinar energi yang tidak dapat ditembus oleh air terjun yang jatuh deras itu. Setelah mendekat, orang itu seperti mirip dengan pencari kayu yang tadi bernama Maulana Ishak. Tapi patih Bayul tidak yakin kalau dia adalah orang yang sama.

Sang patih heran dengan apa yang sedang dilakukan orang itu. Berdiri bersedekap dan bersujud, duduk, dll (gerakan sholat). Ketika patih bertanya tapi tidak dijawab oleh orang yang sedang sholat itu. Merasa diremehkan, sang patih menyuruh pengawalnya untuk menyerang orang itu. Tapi baru beberapa langkah mereka mendekat, tubuh mereka sudah terpental masuk ke dalam air dengan tubuh lemah. Sang patih yang marah, lalu melemparkan kerisnya ke arah orang itu. Tapi keris itu juga terpental dan berbalik arah ke arah patih. Patih mengelak dan keris itu menancap di sebuah batu kali. Keris itu tertancap dalam sehingga hanya terlihat hanya gagangnya saja.
Setelah yakin dengan kehebatan orang itu, lalu sang patih menunggu orang itu selesai dengan ritualnya. Namun setelah orang itu selesai dengan ritualnya, tubuhnya malah seperti hilang tertelan air terjun. Patih lalu melihat merpati putih lagi. Patih pun melanjutkan perjalanannya mengikuti merpati putih itu sehingga sampai di sebuah goa. Dari dalam goa itu, terpancar sinar yang sangat terang. Setelah masuk, patih bertemu dengan seorang yang sedang berdzikir. Ternyata sinar yang terpancar sampai keluar itu berasal dari tubuh orang itu. 

Orang yang akhirnya mengaku sebagai LANANG (WALI LANANG), itu akhirnya berbicara dengan Patih Bayul. Ternyata benar dugaan sang patih bahwa Syekh wali Lanang yang dia cari sebenarnya adalah sang pencari kayu hutan dan pertapa di bawah air terjun yang mereka temui sebelumnya. Syekh Wali Lanang bahwa sudah tahu niat sang patih mencarinya. Syekh Wali Lanang pun menyanggupi dan menyuruh sang patih kembali ke kerajaan.

Namun ketika sang patih menghadap Prabu Sembuyu, ternyata Syekh Wali Lanang sudah berada di sana terlebih dahulu. Bahkan sang patih dimarahi karena keterlambatannya.

Tiga malam Syekh Maulana Ishak melakukan tirakat untuk mengobati Dewi Sekardadu. Di malam keempat, sesudah melaksanakan shalat sunnah hajat, ditiupnya wajah sang putri tiga kali. Seketika sang putri membuka matanya. Syekh Wali lanang lalu membimbing Dewi Sekardadu mengucap 2 kalimat syahadat. Setelah mengucapkan 2 kalimat Syahadat, Dewi Sekardadu bisa bangkit dari tidurnya. Seluruh isi istana gembira menyaksikan hal itu terlebih permaisuri dan Prabu Menak Sembuyu.

Tanpa menuntut hadiah, Wali Lanang bahkan berkeliling kerajaan untuk menyembuhkan banyak rakyat. Ketika berkeliling inilah, Wali Lanang menyampaikan bahwa Allah adalah Maha Penyembuh. Hanya Dia yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Namun di balik itu semua, manusia wajib memohon kepadanya dengan cara sholat dan berdoa. Selain itu, Wali Lanang juga mengajarkan cara hidup bersih kepada semua rakyat agar mereka terhindar dari penyakit lagi. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Terkuaklah bahwa penyebab wabah di Blambangan adalah cara hidup yang tidak bersih. Makanan sehari-hari mereka banyak yang mengandung racun dan penyakit karena tidak dimasak dan dicuci dengan benar. Cara mereka buang hajat disembarang tempat dan mereka jarang mandi atau membersihkan tubuh mereka.

Setelah Maulana Ishak memberikan penyuluhan merawat kesehatan dan membersihkan diri serta lingkungan tempat tinggal. Dan nasehat itu dilaksanakan maka banyaklah rakyat Blambangan yang sembuh dari sakitnya. Namun semua itu tidak mudah karena dia harus menghadapi DULMIN, seorang tukang sihir yang mengeruk banyak keuntungan dari rakyat yang sakit. Dia meminta bayaran tinggi jika orang ingin disembuhkannya. Padahal tidak satupun yang berhasil sembuh. Hanya antek-anteknya yang pura-pura sakit yang bisa disembuhkannya (pura-pura).

Gaya hidup bersih sangat ditentang oleh Dulmin dan anak buahnya. Namun Syekh Wali Lanang yang anti kekerasan ini, selalu menghindari perkelahian. Karomah yang dimilikinya membantunya terhindar dari niat jahat Dulmin dan anak buahnya. Sampai akhirnya, ketika Dulmin yang malah terkena sakit, Syekh Wali Lanang malah bisa menyembuhkannya. Dulmin pun berterima kasih dan insyaf. Dulmin pun masuk Islam dan rela menjadi pelindung Sang Syekh. Ke manapun Syekh pergi, Dulmin akan menemaninya dan berusaha membantunya.

Selain itu, tanpa diketahui oleh siapapun, ternyata Patih Bayul berusaha melenyapkan Syekh Wali Lanang agar tidak dinikahkan dengan Dewi Sekardadu sebagai hadiah atas keberhasilannya menyembuhkan putri raja itu. Namun Allah melindungi orang suci ini. Patih Bayul semakin kesal dan takut ambisinya untuk menikahi Dewi Sekardadu jadi gagal. Syekh Wali Lanang cepat terkenal.

Dan ketika Sang Putri Sekardadu sudah pulih seperti sedia kala, kecaktikannya kembali terpancar dari wajahnya. Beberapa rakyat yang ditemui oleh Syekh Wali Lanang, sempat mengatakan padanya kalau Sang Prabu telah berjanji akan menikahkan siapapun orang yang berhasil menyembuhkan Putri Sekardadu, dengan Putri Sekardadu. Tapi Sang Syekh sama sekali tidak menuntut hadiah apapun dari Sang Raja.

Malah sang Prabu Menak Sembuyu yang memaksa Sang Syekh untuk menerima hadiah darinya. Raja haruslah orang yang bisa dipegang teguh janjinya. Maka Prabu menak Sembuyu memaksa Syekh Wali Lanang mau menikahi putrinya. Namun Sang Syekh mengatakan kalau dia tidak bisa menikahi wanita yang bukan muslim. Ternyata, Sang Putri Dewi Sekardadu yang mendengar pembicaraan ini, bersedia masuk Islam atas kemauannya sendiri. Namun Sang Syekh tetap tidak bisa menikahi Sang Putri karena wali dan saksi atas pernikahannya haruslah juga muslim. Demi menjaga wibawa raja (karena telah berjanji dalam sayembaranya), akhirnya Prabu Menak Sembuyu dan permaisuri bersedia masuk Islam untuk menikahkan anaknya dengan Syekh Wali Lanang.

Syekh wali lanang pun akhirnya menikah dengan Dewi Sekardadu.
Dalam upacara pernikahan yang diselenggarakan itu sudah terjadi ketegangan antara Syekh Maulana Ishak dengan pihak keluarga kerajaan. Yaitu di saat jamuan makan dikeluarkan. Ternyata makanan yang dihidangkan kepada Syekh Mulana Ishak kebanyakan adalah terdiri dari daging binatang haram, seperti babi hutan, harimau, ular, kera dan lain-lain.

Posisi Syekh Mulana Ishak pada saat itu sungguh sulit sekali. Kalau dia tidak mau menyantap hidangan itu nantinya disangka bersikap sombong dan menghina Prabu Menak Sembuyu. Jika disantap dagingnya terdiri dari hewan yang diharamkan agama Islam. Maka diapun berdoá kepada Allah, memohon jalan keluar yang terbaik. Seusai berdoá terjadilah sesuatu keajaiban. Daging-daging binatang haram yang sudah dimasak itu tiba-tiba berubah menjadi binatang hidup berloncatan ke sana-ke mari. Yang asalnya dari ular menjadi ular, yang berasal dari harimau menjadi harimau, yang asalnya babi hutan menjadi babi hutan. Tentu saja suasana menjadi panik. Pesta meriah geger, tapi Syekh Wali Lanang terhindar dari memakan makanan yang diharamkan agama Islam.

Setelah menikah, akhirnya Syekh wali Lanang diberi daerah kekuasaan sebagai seorang adipati. Di kadipaten yang diperintahnya ini, Syekh Wali Lanang tetap berdakwah dan mengajak rakyatnya masuk Islam.  Tapi juga tidak mudah karena secara diam-diam Patih Bayul mengirimkan banyak anak buahnya untuk meneror Syekh Wali Lanang dan menakuti rakyat agar tidak mengikuti ajaran yang dibawa Syekh Wali Lanang. Tantangan dan ancaman banyak dialami oleh Syekh Wali Lanang dan santrinya.

Selain itu, Patih Bayul juga menghasut Prabu Menak Sembuyu. Prabu Menak Sembuyu terhasut juga. Dia keluar dari Islam dan berniat menyerang kadipaten yang dipimpin oleh Syekh Wali Lanang, karena Patih Bayul mengatakan kalau Sang Syekh berniat merebut kekuasaan Sang Prabu dengan cara menghimpun kekuatan.

Patih Bayul pun bersiap menyerang kadipaten yang dipimpin Syekh Wali Lanang. Syekh Wali Lanang yang sudah mendengar rencana ini, lalu memutuskan untuk pergi menghindar. Bukan karena takut, tapi karena dia lebih memikirkan keselamatan hidup rakyatnya. Jika perang, menang atau kalah, pasti akan banyak kerugian harta dan nyawa di kedua pihak.

Akhirnya dengan sedih, Syekh Wali Lanang dilepas oleh Dewi Sekardadu yang telah mengandung 7 bulan. Sebelum pergi, Syekh Wali Lanang berpesan agar memberi nama RADEN PAKU, jika anak mereka lahir laki-laki. Kepada rakyatnya, Syekh Wali Lanang menyarankan untuk menyerah saja agar tidak terjadi pertumpahan darah. Syekh hanya berpesan agar mereka tetap berpegang teguh pada Islam dan terus menjaga sikap bersih diri, bersih keluarga dan bersih lingkungan agar terhindar dari penyakit.

Setelah merebut kadipaten, Patih Bayul Sengara membawa Dewi Sekardadu kembali ke Blambangan. Anak yang dikandung Dewi Sekardadu pun lahir dengan wajah dan tubuh yang mengeluarkan sinar. Bayi laki-laki itu lalu dinamakan Raden Paku. Tapi Patih Bayul yang ternyata berambisi menikahi Dewi Sekardadu agar mewarisi kerajaan, kembali menghasut Prabu Menak Sembuyu. Bayi anak Syekh Wali Lanang harus disingkirkan karena nantinya pasti akan membalas dendam pada raja setelah tahu kalau ayahnya diusir.

“Apa maksudmu dengan melenyapkan bekas peninggalan Syekh Wali Lanang itu?” tanya Sang Prabu.
“Salah satu di antaranya ialah bayi keturunannya, Gusti Prabu !” Maksudmu aku harus membunuh cucuku sendiri ?” Benar Gusti Prabu ! Cepat atau lambat bayi itu akan menjadi bencana di kemudian hari. Wabah penyakit inipun menurut dukun-dukun terkenal di Blambangan ini disebabkan adanya hawa panas yang memancar dari jiwa bayi itu !” kilah Patih Bajul Sengara dengan alasan yang dibuat-buat. Saat itu memang wabah penyakit kembali mewabah karena orang yang mengikuti ajaran Syekh dihukum oleh Patih Bayul Sengara. Rakyat pun kembali kepada kebiasaan lama yang tidak hidup bersih.

Akhirnya Bayi Raden Paku di buang ke tengah laut. Setiap hari Dewi Sekardadu duduk termenung memandang laut dengan mata basah oleh air mata. Bayi yang terapung di tengah laut itu seperti dilindungi oleh sinar menyerupai Syekh Wali Lanang sampai akhirnya ditemukan oleh perahu saudagar, lalu oleh Nyai Gede Pinatih diberi nama JOKO SAMUDRO. Sementara, Patih Bayul yang siap meminang Dewi Sekardadu, terkejut sekaligus kecewa karena Dewi Sekardadu menghilang entah ke mana.

11 TAHUN KEMUDIAN….

Nyai Gede Pinatih membawa Joko Samudro menemui Sunan Ampel. Melihat sorot mata dan sinar di wajah Joko Samudro, Sunan Ampel langsung bisa mengenali kalau Joko Samudro adalah Raden Paku, putra dari Syekh Maulana Ishak atau Syekh Wali Lanang.

Dan di Blambangan, Patih Bayul Sengara sudah tidak punya harapan lagi untuk merebut kekuasaan dengan menikahi Dewi Sekardadu yang menghilang. Akhirnya dia memberontak dan Prabu Menak terdesak. Dalam mimpinya, Prabu Menak Sembuyu bertemu dengan Syekh Wali  Lanang. Syekh wali Lanang mengatakan: kembalilah pada imanmu dan Allah pasti akan menolongmu.

Prabu menak Sembuyu kembali masuk Islam dan sholat tahajud meminta pertolongan kepada Allah. Sehari sebelum penyerangan, semua pasukan Patih Bayul terkena penyakit. Akhirnya Patih Bayul pun ditangkap tanpa perlawanan karena seluruh pasukannya telah lemah.

10 TAHUN KEMUDIAN…..

Raden Paku yang sudah dewasa bertemu dengan ayah kandungnya Syekh Wali Lanang alias Syekh Maulana Ishak di pasar. Lambangan mungkin menjadi hakmu. Tapi Allah tidak mentakdirkanmu memerintah di sana. Carilah tempat untukmu sendiri agar kamu bisa menegakkan Islam di sana. Carilah tempat yang mempunyai tanah yang persis seperti tanah ini. Itulah nasehat Syekh Wali Lanang kepada Raden Paku sambil memberikan sebungkus tanah.

Raden Paku akhirnya menemukan tanah yang dimaksud di bukit di desa Sidomukti daerah Kediri. Daerah itu lalu dinamakan Giri (yang artinya Gunung). Raden Paku lalu terkenal sebagai Sunan Giri. Bersama dengan Syekh Wali Lanang, Sunan Giri berdiri melihat sebuah mushola yang sudah berdiri di sana.

http://www.mnctv.com

About these ads

Perihal edywitanto
wira wiri mlaku bareng angin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 149 pengikut lainnya.