Adab,Rukun, syarat berinterkasi dengan Alqur’an

Adab,Rukun, syarat berinterkasi dengan Alqur’an

Ketika manusia mencoba mengupas keagungan Al-Qur’an Al-Karim, maka ketika itu pulalah manusia harus tunduk mengakui keagungaan dan kebesaran Allah swt. Karena dalam Al-Qur’an terdapat lautan makna yang tiada batas, lautan keindahan bahasa yang tiada dapat dilukiskan oleh kata-kata, lautan keilmuan yang belum terpikirkan dalam jiwa manusia, dan berbagai lautan lainnya yang tidak terbayangkan oleh indra kita.

Oleh karenanya, mereka-mereka yang telah dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an sepenuh hati, dapat merasakan ‘getaran keagungan’ yang tiada bandingannya. Mereka dapat merasakan sebuah keindahan yang tidak terhingga, yang dapat menjadikan orientasi dunia sebagai sesuatu yang teramat kecil dan sangat kecil sekali. Sayid Qutub, di dalam muqadimah Fi Dzilalil Qur’annya mengungkapkan, “Hidup di bawah naungan Al-Qur’am merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang tiada dapat dirasakan, kecuali hanya oleh mereka yang benar-benar telah merasakannya. Suatu kenikmatan yang mengangkat jiwa, memberikan keberkahan dan mensucikannya.”

Cukuplah menjadi bukti keindahan bahasa Al-Qur’an seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Imam Zuhri (Abu Syahbah, 1996 : I/312), “Bahwa suatu ketika Abu Jahal, Abu Lahab, dan Akhnas bin Syariq secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah saw. pada malam hari untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah saw. dalam shalatnya. Mereka bertiga memiliki posisi yang tersendiri, yang tidak diketahui oleh yang lainnya. Hingga ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan. Mereka bertiga saling mencela dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah Rasulullah saw.

Namun pada malam berikutnya, ternyata mereka bertiga tidak kuasa menahan gejolak jiwanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka bertiga mengira bahwa yang lainnya tidak akan datang ke rumah Rasulullah saw., dan mereka pun menempati posisi mereka masing-masing. Ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka pun memergoki yang lainnya di jalan. Dan terjadilah saling celaan sebagaimana yang kemarin mereka ucapkan.

Kemudian pada malam berikutnya, gejolak jiwa mereka benar-benar tidak dapat dibendung lagi untuk mendengarkan Al-Qur’an, dan merekapun menempati posisi sebagaimana hari sebelumnya. Dan manakala Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga kembali memergoki yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat mu’ahadah (perjanjian) untuk sama-sama tidak kembali ke rumah Rasulullah saw. guna mendengarkan Al-Qur’an.

Masing-masing mereka mengakui keindahan Al-Qur’an, namun hawa nafsu mereka memungkiri kenabian Muhammad saw. Selain contoh di atas terdapat juga ayat yang mengungkapkan keindahan Al-Qur’an. Allah mengatakan, “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (Al-Mujadilah: 21)

 

Definisi Al-Qur’an

Kata “qur’an” menurut bahasa adalah sama dengan kata “Qiroah” yaitu isim masdar (infinitif) dari kata Qoroa-yaqro-u-qiroatan. Demikian lah menurut sebagian ulama. Hal ini berdasarkan firman Allah

“Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkan (dalam dadamu) dan (membuatnya pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai embacanya maka ikutilah bacaannya.” ( Q.S Al-Qiyamah : 17)

Sedangkan menurut Istilah, Al-qur’an didefinisikan sebagai: Kalam Allah yang tiada tandingannya (mu’jizat), yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dengan perantaraan Malaikat Jibril, yang tertulis didalam mushaf dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Naas, yang sampaikepada kita secara mutawatir serta membacanya merupakan ibadah.

A. nama-nama Al-qur’an

terdapat beberapa nama untuk alqur’an sebagai man telah disebut kan oleh Allah sendiri

1. Al – Qur’an ( Slalu dijaga dan dihafal )

Firman Allah ; “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. ( QS Al Isro’ : 9 )

2. Kitab ( Ditulis diatas lembaran-lembaran yang tersusun)

Firman Alah, “ telah Kami turunkan

kepadamu Al-Kitab yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu” ( QS Al-Anbiya : 10 )

3. Furqon ( Pembeda )

Firman Allah; “ Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqon kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada semsta”. ( QS. Al-Furqon : 1 )

4. Adz-Dzikr ( Peringatan / pelajaran )

Firman Allah; “Sesunggahnya Kami lah yang menurunkan Adz-Dzikr ( Al-Qur’an ), dan sesungguhnya kami pulalah yang benar-benar akan menjaganya.” (QS. Al-Hijr : 9 )

5. At-Tanzil ( yang diturunkan )

Firman Allah, “Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan (Tanzil ) oleh Tuhan semesta aalam.” (QS. Asyura’ : 192 )

Dari kelima nama tersebut diatas yang paling popular disebut aalah Al-Qur’an dan Kitab. Penamaan Qur’an dengan kedua nama iini memberika isyarat bahwa selayaknya lah ia dipelihara dalam bentuk hafalan dan tulisan. Dengan demikian apabila salah satunya melencengmaka yang lain akan melurusnya. Kita tidak menyandarkan pada hafalan seseorang sebelum hafalannya sesuai dengan tulisan yang telah disepakati oleh para sahabat, yang dinukilkan kepada generasi ke generasi menurut keadaan sewaktu dibuat pertama kali.dan kitapun tidak menyandarkan hanya pada tulisan penulis sebelum tulisan itu sesuai dengan hafalan ttersebut berdasarkan sanad yang shohih dan mutawatir.

sejarah turunnya Alquran

 

Periode Turunnya Al-Quran

Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari 114 surah dan susunannya ditentukan oleh Allah SWT. dengan cara tawqifi, tidak menggunakan metode sebagaimana metode-metode penyusunan buku-buku ilmiah. Buku-buku ilmiah yang membahas satu masalah, selalu menggunakan satu metode tertentu dan dibagi dalam bab-bab dan pasal-pasal. Metode ini tidak terdapat di dalam Al-Quran Al-Karim, yang di dalamnya banyak persoalan induk silih-berganti diterangkan.

Persoalan akidah terkadang bergandengan dengan persoalan hukum dan kritik; sejarah umat-umat yang lalu disatukan dengan nasihat, ultimatum, dorongan atau tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta. Terkadang pula, ada suatu persoalan atau hukum yang sedang diterangkan tiba-tiba timbul persoalan lain yang pada pandangan pertama tidak ada hubungan antara satu dengan yang lainnya. Misalnya, apa yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 216-221, yang mengatur hukum perang dalam asyhur al-hurum berurutan dengan hukum minuman keras, perjudian, persoalan anak yatim, dan perkawinan dengan orang-orang musyrik.

Yang demikian itu dimaksudkan agar memberikan kesan bahwa ajaran-ajaran Al-Quran dan hukum-hukum yang tercakup didalamnya merupakan satu kesatuan yang harus ditaati oleh penganut-penganutnya secara keseluruhan tanpa ada pemisahan antara satu dengan yang lainnya. Dalam menerangkan masalah-masalah filsafat dan metafisika, Al-Quran tidak menggunakan istilah filsafat dan logika. Juga dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Yang demikian ini membuktikan bahwa Al-Quran tidak dapat dipersamakan dengan kitab-kitab yang dikenal manusia.

Tujuan Al-Quran juga berbeda dengan tujuan kitab-kitab ilmiah. Untuk memahaminya, terlebih dahulu harus diketahui periode turunnya Al-Quran. Dengan mengetahui periode-periode tersebut, tujuan-tujuan Al-Quran akan lebih jelas.

Para ulama ‘Ulum Al-Quran membagi sejarah turunnya Al-Quran dalam dua periode: (1) Periode sebelum hijrah; dan (2) Periode sesudah hijrah. Ayat-ayat yang turun pada periode pertama dinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan ayat-ayat yang turun pada periode kedua dinamai ayat-ayat Madaniyyah. Tetapi, di sini, akan dibagi sejarah turunnya Al-Quran dalam tiga periode, meskipun pada hakikatnya periode pertama dan kedua dalam pembagian tersebut adalah kumpulan dari ayat-ayat Makkiyah, dan periode ketiga adalah ayat-ayat Madaniyyah. Pembagian demikian untuk lebih menjelaskan tujuan-tujuan pokok Al-Quran.

Periode Pertama

Diketahui bahwa Muhammad saw., pada awal turunnya wahyu pertama (iqra’), belum dilantik menjadi Rasul. Dengan wahyu pertama itu, beliau baru merupakan seorang nabi yang tidak ditugaskan untuk menyampaikan apa yang diterima. Baru setelah turun wahyu kedualah beliau ditugaskan untuk menyampaikan wahyu-wahyu yang diterimanya, dengan adanya firman Allah: “Wahai yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan” (QS 74:1-2).

Kemudian, setelah itu, kandungan wahyu Ilahi berkisar dalam tiga hal. Pertama, pendidikan bagi Rasulullah saw., dalam membentuk kepribadiannya. Perhatikan firman-Nya: Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan sampaikanlah. Dan Tuhanmu agungkanlah. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah kotoran (syirik). Janganlah memberikan sesuatu dengan mengharap menerima lebih banyak darinya, dan sabarlah engkau melaksanakan perintah-perintah Tuhanmu (QS 74:1-7).

Dalam wahyu ketiga terdapat pula bimbingan untuknya: Wahai orang yang berselimut, bangkitlah, shalatlah di malam hari kecuali sedikit darinya, yaitu separuh malam, kuranq sedikit dari itu atau lebih, dan bacalah Al-Quran dengan tartil (QS 73:1-4).

Perintah ini disebabkan karena Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu wahyu yang sangat berat (QS 73:5).

Ada lagi ayat-ayat lain, umpamanya: Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat. Rendahkanlah dirimu, janganlah bersifat sombong kepada orang-orang yang beriman yang mengikutimu. Apabila mereka (keluargamu) enggan mengikutimu, katakanlah: aku berlepas dari apa yang kalian kerjakan (QS 26:214-216).

Demikian ayat-ayat yang merupakan bimbingan bagi beliau demi suksesnya dakwah.

Kedua, pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat dan af’al Allah, misalnya surah Al-A’la (surah ketujuh yang diturunkan) atau surah Al-Ikhlash, yang menurut hadis Rasulullah “sebanding dengan sepertiga Al-Quran”, karena yang mengetahuinya dengan sebenarnya akan mengetahui pula persoalan-persoalan tauhid dan tanzih (penyucian) Allah SWT.

Ketiga, keterangan mengenai dasar-dasar akhlak Islamiah, serta bantahan-bantahan secara umum mengenai pandangan hidup masyarakat jahiliah ketika itu. Ini dapat dibaca, misalnya, dalam surah Al-Takatsur, satu surah yang mengecam mereka yang menumpuk-numpuk harta; dan surah Al-Ma’un yang menerangkan kewajiban terhadap fakir miskin dan anak yatim serta pandangan agama mengenai hidup bergotong-royong.

Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun dan telah menimbulkan bermacam-macam reaksi di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi tersebut nyata dalam tiga hal pokok:

  1. Segolongan kecil dari mereka menerima dengan baik ajaran-ajaran Al-Quran.
  2. Sebagian besar dari masyarakat tersebut menolak ajaran Al-Quran, karena kebodohan mereka (QS 21:24), keteguhan mereka mempertahankan adat istiadat dan tradisi nenek moyang (QS 43:22), dan atau karena adanya maksud-maksud tertentu dari satu golongan seperti yang digambarkan oleh Abu Sufyan: “Kalau sekiranya Bani Hasyim memperoleh kemuliaan nubuwwah, kemuliaan apa lagi yang tinggal untuk kami.”
  3. Dakwah Al-Quran mulai melebar melampaui perbatasan Makkah menuju daerah-daerah sekitarnya.

Periode Kedua

Periode kedua dari sejarah turunnya Al-Quran berlangsung selama 8-9 tahun, dimana terjadi pertarungan hebat antara gerakan Islam dan jahiliah. Gerakan oposisi terhadap Islam menggunakan segala cara dan sistem untuk menghalangi kemajuan dakwah Islamiah.

Dimulai dari fitnah, intimidasi dan penganiayaan, yang mengakibatkan para penganut ajaran Al-Quran ketika itu terpaksa berhijrah ke Habsyah dan para akhirnya mereka semua –termasuk Rasulullah saw.– berhijrah ke Madinah.

Pada masa tersebut, ayat-ayat Al-Quran, di satu pihak, silih berganti turun menerangkan kewajiban-kewajiban prinsipil penganutnya sesuai dengan kondisi dakwah ketika itu, seperti: Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu (agama) dengan hikmah dan tuntunan yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya (QS 16:125).

Dan, di lain pihak, ayat-ayat kecaman dan ancaman yang pedas terus mengalir kepada kaum musyrik yang berpaling dari kebenaran, seperti: Bila mereka berpaling maka katakanlah wahai Muhammad: “Aku pertakuti kamu sekalian dengan siksaan, seperti siksaan yang menimpa kaum ‘Ad dan Tsamud” (QS 41:13).

Selain itu, turun juga ayat-ayat yang mengandung argumentasi-argumentasi mengenai keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamat berdasarkan tanda-tanda yang dapat mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti: Manusia memberikan perumpamaan bagi kami dan lupa akan kejadiannya, mereka berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-tulang yang telah lapuk dan hancur?” Katakanlah, wahai Muhammad: “Yang menghidupkannya ialah Tuhan yang menjadikan ia pada mulanya, dan yang Maha Mengetahui semua kejadian. Dia yang menjadikan untukmu, wahai manusia, api dari kayu yang hijau (basah) lalu dengannya kamu sekalian membakar.” Tidaklah yang menciptakan langit dan bumi sanggup untuk menciptakan yang serupa itu? Sesungguhnya Ia Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya bila Allah menghendaki sesuatu Ia hanya memerintahkan: “Jadilah!”Maka jadilah ia (QS 36:78-82).

Ayat ini merupakan salah satu argumentasi terkuat dalam membuktikan kepastian hari kiamat. Dalam hal ini, Al-Kindi berkata: “Siapakah di antara manusia dan filsafat yang sanggup mengumpulkan dalam satu susunan kata-kata sebanyak huruf ayat-ayat tersebut, sebagaimana yang telah disimpulkan Tuhan kepada Rasul-Nya saw., dimana diterangkan bahwa tulang-tulang dapat hidup setelah menjadi lapuk dan hancur; bahwa qudrah-Nya menciptakan seperti langit dan bumi; dan bahwa sesuatu dapat mewujud dari sesuatu yang berlawanan dengannya.”7

Disini terbukti bahwa ayat-ayat Al-Quran telah sanggup memblokade paham-paham jahiliah dari segala segi sehingga mereka tidak lagi mempunyai arti dan kedudukan dalam rasio dan alam pikiran sehat.

Periode Ketiga

Selama masa periode ketiga ini, dakwah Al-Quran telah dapat mewujudkan suatu prestasi besar karena penganut-penganutnya telah dapat hidup bebas melaksanakan ajaran-ajaran agama di Yatsrib (yang kemudian diberi nama Al-Madinah Al-Munawwarah). Periode ini berlangsung selama sepuluh tahun, di mana timbul bermacam-macam peristiwa, problem dan persoalan, seperti: Prinsip-prinsip apakah yang diterapkan dalam masyarakat demi mencapai kebahagiaan? Bagaimanakah sikap terhadap orang-orang munafik, Ahl Al-Kitab, orang-orang kafir dan lain-lain, yang semua itu diterangkan Al-Quran dengan cara yang berbeda-beda?

Dengan satu susunan kata-kata yang membangkitkan semangat seperti berikut ini, Al-Quran menyarankan: Tidakkah sepatutnya kamu sekalian memerangi golongan yang mengingkari janjinya dan hendak mengusir Rasul, sedangkan merekalah yang memulai peperangan. Apakah kamu takut kepada mereka? Sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditakuti jika kamu sekalian benar-benar orang yang beriman. Perangilah! Allah akan menyiksa mereka dengan perantaraan kamu sekalian serta menghina-rendahkan mereka; dan Allah akan menerangkan kamu semua serta memuaskan hati segolongan orang-orang beriman (QS 9:13-14).

Adakalanya pula merupakan perintah-perintah yang tegas disertai dengan konsiderannya, seperti: Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya minuman keras, perjudian, berhala-berhala, bertenung adalah perbuatan keji dari perbuatan setan. Oleh karena itu hindarilah semua itu agar kamu sekalian mendapat kemenangan. Sesungguhnya setan tiada lain yang diinginkan kecuali menanamkan permusuhan dan kebencian diantara kamu disebabkan oleh minuman keras dan perjudian tersebut, serta memalingkan kamu dari dzikrullah dan sembahyang, maka karenanya hentikanlah pekerjaan-pekerjaan tersebut (QS 5:90-91).

Disamping itu, secara silih-berganti, terdapat juga ayat yang menerangkan akhlak dan suluk yang harus diikuti oleh setiap Muslim dalam kehidupannya sehari-hari, seperti: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki satu rumah selain rumahmu kecuali setelah minta izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Demikian ini lebih baik bagimu. Semoga kamu sekalian mendapat peringatan (QS 24:27).

Semua ayat ini memberikan bimbingan kepada kaum Muslim menuju jalan yang diridhai Tuhan disamping mendorong mereka untuk berjihad di jalan Allah, sambil memberikan didikan akhlak dan suluk yang sesuai dengan keadaan mereka dalam bermacam-macam situasi (kalah, menang, bahagia, sengsara, aman dan takut). Dalam perang Uhud misalnya, di mana kaum Muslim menderita tujuh puluh orang korban, turunlah ayat-ayat penenang yang berbunyi: Janganlah kamu sekalian merasa lemah atau berduka cita. Kamu adalah orang-orang yang tinggi (menang) selama kamu sekalian beriman. Jika kamu mendapat luka, maka golongan mereka juga mendapat luka serupa. Demikianlah hari-hari kemenangan Kami perganti-gantikan di antara manusia, supaya Allah membuktikan orang-orang beriman dan agar Allah mengangkat dari mereka syuhada, sesungguhnya Allah tiada mengasihi orang-orangyang aniaya (QS 3:139-140).

Selain ayat-ayat yang turun mengajak berdialog dengan orang-orang Mukmin, banyak juga ayat yang ditujukan kepada orang-orang munafik, Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Ayat-ayat tersebut mengajak mereka ke jalan yang benar, sesuai dengan sikap mereka terhadap dakwah. Salah satu ayat yang ditujukan kepada ahli Kitab ialah: Katakanlah (Muhammad): “Wahai ahli kitab (golongan Yahudi dan Nasrani), marilah kita menuju ke satu kata sepakat diantara kita yaitu kita tidak menyembah kecuali Allah; tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, tidak pula mengangkat sebagian dari kita tuhan yang bukan Allah.” Maka bila mereka berpaling katakanlah: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim” (QS 3:64).

ISI KANDUNGAN AL QURAN :

Pokok-pokok yang terkandung dalam al quran pada dasarnya adalah sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia agar memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Adapun pokok-pokok ajaran itu meliputi :

1.    Ajaran yang berkenaan dengan TAUHID, yaitu ke-imanan terhadap Allah SWT.

2.    Ajaran yang berkenaan dengan IBADAH, yang meng-atur pengabdian manusia kepada Allah SWT.

3.    Ajaran yang berkenaan dengan AKHLAQ manusia ter-hadap Allah, sesama manusia serta makhluq lainnya.

4.    Ajaran yang berkenaan dengan HUKUM, yang meng-atur kepentingan umat manusia, seperti pembunuhan, pencurian dsb.

5.    Ajaran yang berhubungan dengan MASYARAKAT, yaitu mengatur tata cara kehidupan manusia dengan manusia lainnya, seperti : muammalat, munakahat, ber-masyarakt, berbangsa dan bernegara.

6.    Ajaran yang berkenaan dengan JANJI dan ANCAMAN Orang yang beribadah dijanjikan surga dan yang durha-ka mendapat balasan neraka.

7.    Hal-hal yang berhubungan dengan SEJARAH umat manusia masa lampau, sebagai teladan bagi manusia masa sekarang maupun akan datang.

Keistimewaan Dan Keutamaan Al-qur’an

Al Qur’an adalah kita suci umat islam yang diturukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rasul memiliki berbagi keistimewaan / keutamaan dibandingkan dengan kitab-kitab suci lainnya sebagai berikut di bawah ini :

  1. Memberi pedoman dan petunjuk hidup lengkap beserta hukum-hukum untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia seluruh bangsa di mana pun berada serta segala zaman / periode waktu.
  2. Memiliki ayat-ayat yang mengagumkan sehingga pendengar ayat suci al-qur’an dapat dipengaruhi jiwanya.
  3. Memutus rantai taqlid yang menghilangkan kebebasan berfikir serta memperlemah kemampuan berupaya dan berkarya manusia.
  4. Memberi gambaran umum ilmu alam untuk merangsang perkembangan berbagai ilmu.
  5. Memiliki ayat-ayat yang menghormati akal pikiran sebagai dasar utama untuk memahami hukum dunia manusia.
  6. Menyamakan manusia tanpa pembagian strata, kelas, golongan, dan lain sebagainya. Yang menentukan perbedaan manusia di mata Allah SWT adalah taqwa.
  7. Melepas kehinaan pada jiwa manusia agar terhindar dari penyembahan terhadap makhluk serta menanamkan tauhid dalam jiwa.

Keistimewaan Orang Yang Membaca Al-Qur’an

• Di Dunia
Mereka sentiasa dengan pembacaan Al-Quran dan mereka adalah manusia yang terpilih,diangkat oleh ALLAH Taala darjatnya setinggi-tinggi darjat.

• Peribadinya
Memperolehi ketenangan dengan cahaya ALLAH dan sentiasa mendengar dan metaati perintah Allah serta meninggalkan setiap yang dilarang daripada Al-quran dengan hati yang terbuka.

• Hatinya
Bersih lagi suci dan tidak berkarat selamanya.

• Rumahnya
Dilihat oleh penduduk dilangit seperti mana penduduk bumi melihat bintang-bintang,rumahnya dipenuhi cahaya yang ,meliputi keluarganya,banyak kebaikan didalamnya,para malaikat hadir dan syaitan-syaitan lari keluar dari rumahnya.

• Pahalanya
Setiap satu huruf bacaanya sama dengan 10 kebaikan(pahala),dikurniakan kepadanya ketenangan,dilimpahi rahmat keatasnya, dan para malaikat memayunginya. Doanya dimakbulkan ketika tamat bacaanya.Dia diumpamakan seperti buah epal wangi baunya dan sedap rasanya….

• Hari kiamat
Al-Quran akan menjadi syafaat untuknya,dia akan berada bersama-sama para malaikat,diangkat darjatnya ke syurga peringkat demi peringkat…
Balasan Orang Meninggalkan Al-Quran

• Di Dunia
Orang yang tidak suka membaca Al-Quran,kehidupanya sempit, masalahnya tidak berakhir dan dadanya dipenuhi dengan kelemahan..

• Peribadinya
Tidak teratur, murung dan sempit dadanya

• Hatinya
Berkarat atau kotor seperti mana karatnya besi kerana hatinya tidak dimasuki cahay Al-Quran.

• Rumahnya
Keadaan rumahnya seperti tanah perkuburan yang gelap, penghuninya sesak, sedikit kebaikannya,jika banyak(kebaikan) tiada keberkatan. Tidak dimasuki malaikat malah dihuni oleh syaitan-syaitan.

• Pahalanya
Tiada pahala untuknya,diumpamakannya seperti buah peria tidak mempunyai bau dan rasa pahit manakala hatinya seperti rumah yang roboh…

• Hari kiamat
ALLAH akan menghilangkan penglihatanya dan akan dibangkitkan diantara makhluk-makhluk yang buta seraya berkata” WAHAI TUHANKU MENGAPA AKU DIBANGKITKAN DALAM KEADAAN BUTA SEDANGKAN AKU CELIK DI DUNIA?.MAKA DIKATAKAN KEPADANYA : “DEMIKIANLAH TELAH DATANG AYAT-AYAT KAMI,MAKA KAMU MELUPAKANNYA DAN BEGITULAH PULA PADA HARI INI KAMU PULA DILUPAKAN

Adab Membaca Alquran

1. Membersihkan mulut dengan bersiwak sebelum membaca Al Qur’an.

2. Membaca Al Qur’an di tempat yang bersih seperti masjid, dsb.

3. Menghadap kiblat.

4. Membaca ta’awudz (A’udzu billahi minas-syaithonirrajiim) ketika mulai membaca Al Qur’an.

Firman Allah Ta’ala: (Apabila engkau membaca Al Qur’an maka mohonlah perlindungan Allah dari godaan setan yang terkutuk)

5. Membaca basmalah (Bismillahirrahmaanirrahiim) di permulaan tiap surat kecuali surat At Taubah.

6. Khusyu’ dan teliti pada setiap ayat yang dibaca.

Firman Allah Ta’ala: (Apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci) ( Surat Muhammad: ayat 24 )

Firman Allah Ta’ala: (Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya ….)
( Surat Shaad: ayat 29 )

7. Memperindah, melagukan dan memerdukan suara dalam membaca Al Qur’an.

Firman Allah Ta’ala: (…..dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan)
( Surat Al Muzzammil: ayat 4 )

Dari Abu Hurairah ra. berkata; Rasulullah saw. bersabda,”Bukan dari golongan kita orang-orang yang tidak memperindah suaranya ketika membaca Al Qur’an.”
( Riwayat Bukhari )

Dari Abu Hurairah ra. juga, bahawa beliau berkata; Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak mengizinkan sesuatu seperti yang Dia izinkan kepada seorang nabi yang bagus suaranya, di mana beliau melagukan Al Qur’an dengan keras.”
( Riwayat Bukhari & Muslim )

8. Pelan dan tidak tergesa-gesa dalam membaca Al Qur’an.

Dari Abi Wail dari Abdullah berkata: Pada waktu pagi kami pergi kepada Abdullah, dia berkata; Seseorang telah berkata: “Aku telah membaca satu mufasshal (seperempat Al Qur’an) tadi malam”, Abdullah berkata: “Secepat itukah seperti orang membaca syair?, sesungguhnya aku mendengar bacaan dan aku menghafal beberapa pasang ayat yang dibaca Rasulullah saw. yaitu sebanyak delapan belas dari mufasshal
dan ada dua dari Alif Laam Haa Miim.” ( Riwayat Bukhari )

9. Memperhatikan bacaan (yang panjang dipanjangkan dan yang pendek dipendekkan).

Dari Qatadah ra. berkata; Aku bertanya kepada Anas bin Malik ra. tentang bacaan Rasulullah saw. Anas menjawab: Beliau memanjangkan yang panjang (Mad).”
Pada riwayat lain: Anas membaca ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim’ dia memanjangkan ‘Bismillaah’, dan memanjangkan ‘ar-rahmaan’ dan memanjangkan ‘ar-rahiim’ Dari Ummu Salamah ra. bahwa dia menggambarkan bacaan Rasulullah saw. seperti membaca sambil menafsirkan; satu huruf, satu huruf.
(Riwayat Abu Daud, Tirmizi, Nasai’e. Tirmizi berkata: hadits ini hasan
sahih)

10. Berhenti untuk berdoa ketika membaca ayat rahmat dan ayat azab.

Dari Huzaifah ra. ia berkata; Pada suatu malam aku shalat bersama Nabi Muhammad saw., beliau membaca surat Al Baqarah kemudian An Nisaa’ kemudian Ali ‘Imran. Beliau membaca perlahan-lahan, apabila sampai pada ayat tasbih beliau bertasbih, dan apabila sampai pada ayat permohonan beliau memohon, dan apabila sampai pada ayat ta’awudz (mohon perlindungan) beliau mohon perlindungan.
( Riwayat Muslim )

11. Menangis, sedih dan terharu ketika membaca Al Qur’an.

Allah berfirman: (Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad saw.) ( surah Al Maidah – ayat 83 )

Allah Ta’ala berfirman:(Katakanlah, “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur sambil bersujud),

(dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan kami;sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”)

(Dan mereka menyungkur sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk)

( Surat Al Israa': ayat 107 – 109 )

12. Sujud tilawah, bila bertemu ayat sajdah.

Disahkan dari Umar ra. bahawa ia membaca surat An Nahl di atas mimbar pada hari Jum’at sampai ketika membaca ayat sujud beliau turun dan sujud, begitu juga orang-orang yang lain ikut sujud bersama beliau. Dan ketika datang Jum’at berikutnya ia membaca surat tersebut dan ketika sampai pada ayat sujud ia berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kita melalui ayat sujud barangsiapa yang sujud, maka ia telah mendapat pahala, dan barangsiapa yang tidak sujud, maka tiada dosa baginya.” dan Umar ra. tidak sujud. ( Riwayat Bukhari )

13. Suara tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan.

Allah berfirman: (….dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara keduanya)
( surah Al Isra’ – ayat 110 )

Dari ‘Uqbah bin Amir ra. berakata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang membaca Al Qur’an dengan suara keras seperti orang yang bersedekah secara terang-terangan dan orang yang membaca Al Qur’an secara perlahan seperti orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi.
( Riawayat Abu Daud dan Tirmizi dan An Nasa’i )
( Tirmizi berkata: Hadis ini hasan )

14. Menghindari tawa, canda dan bicara saat membaca.

Allah berfirman: (Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat)
( Surah Al A’raaf – ayat 204 )

15. Apabila Al Qur’an sudah dibacakan dengan bacaan (qiraat) tertentu, maka etisnya supaya megikuti bacaan tersebut selama masih dalam satu majlis.

16. Memperbanyak membaca Al Qur’an dan mengkhatamkannya (menamatkannya)

Dari Abdullah bin ‘Amr berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah Al Qur’an dalam waktu satu bulan”, Aku menjawab, “Saya mampu,” Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah ia dalam waktu sepuluh hari”, Aku menjawab, “Saya mampu.” Rasulullah saw. bersabda lagi, “Bacalah ia dalam waktu tujuh hari dan jangan lebih dari itu.”
( Riwayat Bukhari dan Muslim )

Dasar-dasar untuk Memahami Al-Quran

Artikel berikut ini merupakan ringkasan dari kitab Mafaatiihu Li at-Ta’ammuli ma’al Qur’aan. Mudah-mudahan semakin menggugah semangat kita untuk mempelajari, memahami, menghafalkan, dan mengamalkan Al-Quran.

Memahami Al-Quran hukumnya adalah wajib berdasarkan ayat berikut:

Maka mengapakah mereka tidak mau mentadabburi al-Qur’an? Apakah karena hati mereka terkunci mati?” (QS 47:24)

Ada beberapa tahapan agar kita mampu untuk memahami dan mampu berinteraksi dengan Al-Quran.

  1. Memperhatikan adab tilawah.
  2. Membaca satu surat, satu juz, atau satu ruku’ dengan pelan- pelan, khusyu’, tadabbur dan penuh penghayatan. Tidak mementingkan target dalam satu hari harus selesai satu surat, satu juz atau beberapa lembar.
  3. Memperhatikan dan merenungi satu ayat, diperdalam untuk mendapatkan arti yang terkandung dalam ayat tersebut, dengan cara dibaca dengan penuh perasaan dan penghayatan, mendengarkan dari bacaan orang lain atau kaset dan dilakukan berulang­-ulang sampai mendapat arti yang terkandung dalam ayat tersebut.
  4. Mempelajari secara rinci, susunan kata, konteks kalimat, arti yang terkandung, sebab turunnya (asbabun nuzul), i’rab sampai betul-betul memahami seluk-beluk ayat tersebut dan berbagai sudut pandang.
  5. Memahami korelasi ayat dengan kondisi sekarang.
  6. Merujuk kepada yang dipahami oleh para salafus shalih terutama pemahaman para shahabat. Hal ini dikarenakan mereka lebih ahli dibanding Profesor Al-Quran terpintar saat ini pun, karena mereka mendapat petunjuk langsung dari Rasulullah saw. Oleh karena itu, dari aspek kesopanan dan aspek ilmiah, kita harus lebih mendahulukan pemahaman para shahabat. Hal ini untuk mencegah agar Al-Quran tidak difahami sesuai dengan hawa nafsu kita.
  7. Mempelajari pendapat para ahli tafsir yang memiliki bobot ilmiah.

Wirid Harian Seorang Muslim dalam Membaca Al-Qur’an

Allah swt, menyukai amal shalih yang istimrar berkesinambungan walaupun sedikit dibanding banyak tetapi kurang memperhatikan aspek kontinyuitasnya. Seorang muslim hendaknya merancang wirid harian untuk berinteraksi dengan Al-Quran, sebagai berikut:

1. Wirid tilawah, tidak kurang sehari satu juz.

2. Wirid hapalan menghapal 1 sampai tiga ayat setiap hari.

3. Wirid tadabbur, mentadabburi Al-Qur’an 1 sampai 3 ayat setiap hari.

Kunci-kunci untuk Dapat Memahami dan Berinteraksi dengan Al-Quran

  1. Memahami al-Quran sebagai kitab yang syamil mencakup seluruh urusan kehidupan.Al-Quran adalah kitab yang syamil, manhaj hidup yang sempurna, memiliki tabiat gerak yang hidup, membangun peradaban yang positif dan tetap berpengaruh sampai akhir zaman.Sebagian orang terperangkap untuk memandang Al-Quran dan satu sisi saja, misalkan hanya memandang Al-Quran dan ilmu pengetahuannya saja, sejarahnya saja, bahasanya saja, ataupun Al-Quran hanya dijadikan jampi-jampi sebagai obat saja, dsb.Kita tidak mengingkari bahwa semua hal itu dicakup oleh Al-Quran, bukan kita tidak mempelajari bagian-bagian itu semua tapi yang tidak boleh ialah hanya menghususkan diri kita pada satu sisi saja.Ada sebagian ulama yang membahas Al-Quran dari sisi akhlaq, sisi ekonomi, sosiologi, tata bahasa dan lain-lain. Ini adalah usaha yang sangat berharga dan kita tidak bisa mengesampingkannya. Tapi hendaklah orang yang mempelajari Al-Quran memahami bahwa Al-Quran adalah satu kerangka yang menyeluruh, menyeluruh dalam tabi’atnya, peranannya, risalah, mu’jizat, ilmu, tema-temanya, manhaj, undang-undang dan ­syari’atnya serta setiap perkara yang diisyaratkan dalam al-Qur’an.
  2. Memfokuskan kepada tujuan utama Al-Quran.Sebagian manusia menggunakan Al-Quran dengan tujuan sampingan, tujuan furu’iyah atau sama sekali tidak sesuai dengan tujuan Al-Quran diturunkan. Seperti Al-Quran dijadikan untuk perlombaan, Al-Quran dibaca untuk orang mati saja, Al-Quran hanya diambil barakahnya dengan dijadikan azimat, ruqa’ dan tamimah. Al-Quran hanya dijadikan pajangan yang menghiasi rumah, mobil atau tempat-tempat lain.Mereka tidak menggunakan Al-Quran untuk membukakan hati, jiwa, perasaan dan
    akal, sehingga mereka hidup tidak sesuai dengan tuntunan Al-Quran dalam seluruh lapangan kehidupan, baik kehidupan pribadi, rumah tangga, masyarakat, pendidikan, ekonomi, yayasan-yayasan, negara dan sebagainya.Tujuan utama Al-Quran berkisar pada empat perkara berikut ini:

    • Al-Quran sebagai petunjuk jalan yang lurus menuju Allah (Al-Isra: 9,
      as-Syura: 52, al-Maidah: 15 – 16).
    • Membentuk kepribadian muslim yang seimbang. Diantaranya adalah:
      • Menanamkan iman yang kuat.
      • Membekali akal dengan ilmu pengetahuan.
      • Memberi arahan untuk dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki dan
        sumber-­sumber kebaikan yang ada di dunia.
      • Menetapkan undang-undang agar setiap muslim mampu memberikan sumbangsih dan kreatif untuk mencapai kemajuan.
    • Membentuk masyarakat muslim yang betul-betul Qur’ani, yaitu masyarakat yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang merupakan penjelmaan Al-Quran dalam setiap gerak kehidupannya. Masyarakat yang diasuh dan dibimbing dengan arahan Al-Quran, hidup di bawah naungannya, dan berjalan di bawah cahayanya, seperti masyarakat sahabat (al-Anfal 24).
    • Membimbing umat dalam memerangi kejahihiyyahan.
  3. Memperhatikan sisi harakah dalam menegakkan dakwah, jihad dan hukum
    Islam, karena Al-Quran memiliki sifat (waqi’iyah harakiyah):

    • Jidiyatul harakiyah.
    • Harakah dzatu marahil.
    • Harakah daibah walwail mutajaddidah.
    • Syari’at mengatur hubungan dengan kelompok non muslim.
  4. Menjaga suasana pemikiran agar selalu ada dalam bingkai topik permasalahan yang terkandung dalam ayat yang sedang dibaca.Ketika membaca Al-Quran diperbolehkan untuk memperdalam satu ayat dari sisi ilmu pengetahuan, dan sisi tata bahasa atau yang lainnya, tapi hendaknya, perasaan, pemikiran, penghayatannya dan perhatiannya tetap pada pokok pikiran ayat yang sedang dibaca.
  5. Menjauhi bertele-tele yang bisa menghalangi cahaya Al-Qur’an.Misalnya tenggelam dalam perbedaan pendapat tentang qiraat, i’rab, balaghah, asal kata, perbedaan-perbedaan masalah fiqih, mempertentangkan tokoh, tempat, tanggal kisah­-kisah yang diungkap dalam Al-Quran. Misalnya mempertentangkan asal kata Malaikat, berapa jumlah Ashabul Kahfi dan lain-lain.Tapi itu semua bukan berarti tidak boleh dilakukan, boleh dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki spesialisasi dalam ilmu tafsir.
  6. Menjauhi Israiliyyat (cerita-cerita palsu) dan menjauhi dari mempermasalahkan ayat-ayat yang mutasyabihat.
  7. Memasuki Al-Quran tanpa didahului oleh asumsi dan opini tertentu.Hal ini untuk menghindarkan agar makna-makna Al-Quran tidak dipaksakan agar sesuai dengan asumsi yang telah dia pegang dan berusaha mencari-cari legitimasi atas pendapat yang ia pegang dan bukan mempelajari Al-Quran untuk meluruskan pemahaman dia.Seperti yang dilakukan oleh para shahabat apabila mereka membaca Al-Quran mereka melepaskan seluruh keyakinan dan persepsi mereka yang mereka pegang ketika masa jahiliyyah.
  8. Tsiqah secara mutlak terhadap semua petunjuk, perintah, larangan dan berita yang diungkapkan oleh Al-Quran.
  9. Memahami isyarat-isyarat yang terdapat dalam Al-Quran.Di dalam Al-Quran terdapat rahasia-rahasia arti yang terkandung yang tidak akan dipahami kecuali oleh orang-orang yang telah memilki kunci-kunci untuk berinteraksi dengan Al-Quran dan ia memiliki bashirah, limpahan keimanan dan kesiapan untuk hidup di bawah naungan Al-Quran.Seperti ayat keimanan mendorong orang untuk merasa diawasi oleh Allah, membaca tentang hari qiamat tergerak hatinya untuk takut akan adzab Allah, kemudian ia mampu memahami hubungan satu ayat dengan yang lain padahal ayat itu diturunkan dalam senggang waktu yang cukup jauh.
  10. Mempunyai pemahaman bahwa satu kata atau kalimat dalam Al-Quran
    mempunyai beberapa pengertian.Karena ayat Al-Quran sering diungkapkan dengan kalimat yang singkat tapi padat (I’jaz), seperti surat Al-Ashri, Imam Syafi’i mengatakan: “Kalaulah manusia mentadabburi surat al-Ashri tentu surat itu sudah cukup bagi mereka sebagai pegangan hidup” . Contoh lain al-Isra’: 16; al-Mujadilah: 5; al-A‘raf: 34; dan Thaha: 124.
  11. Mempelajari realita shahabat dalam pengamalan al-Quran.Ibnu Mas’ud berkata, “Kami sulit menghafal lafadh Al-Quran tapi mudah mengamalkannya sedang orang sesudah kami mudah untuk menghapal tapi sulit mengamalkannya.”Ibnu Umar berkata, “Para shahabat diberi iman sebelum Al-Quran, sehingga Al-Quran turun kepada Nabi Muhammad menjelaskan hukum halal dan haram, lalu mereka berpegang teguh dengan ayat tersebut.”Contoh, ketika turun ayat yang memerintahkan untuk mengalihkan arah qiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram maka mereka serentak melaksanakan dengan penuh ketaatan dan komitmen.
  12. Memahami bahwa Al-Quran tidak dibatasi dengan tempat dan zaman.
  13. Memahami korelasi ayat-ayat Al-Quran dengan realita yang ada sekarang.
  14. Merasa bahwa ayat-ayat Al-Quran ditujukan kepada dirinya.
  15. Mempelajari Al-Quran dengan manhaj talaqqi yang benar (berhadap-hadapan dengan guru yang sudah diverifikasi bacaannya, bahkan kalau bisa ada silsilahnya sampai nyambung ke Rasulullah saw).
  16. Menjauhkan diri dari perbedaan-perbedaan pendapat para ahli tafsir.

Memperhatikan Bagaimana para Shahabat ra Berinteraksi dengan Al-Quran.

Para shahabat ra adalah generasi yang tumbuh dengan Al-Quran, hidup di bawah naungannya, menikmati ayat-ayatnya, berinteraksi dengan nash-nashnya, memahami petunjuk-petunjuknya. Mereka disinari oleh cahaya Al-Quran, sehingga mereka menjadi generasi Qurani yang unik.

Menelaah bagaimana mereka merealisasikan Al-Quran dalam kehidupannya membantu kita untuk dapat meneladani mereka dan menempuh jalan yang pernah mereka tempuh.

lbnu Mas’ud ra berkata: “Kami sulit menghapal lafadh Al-Quran tapi mudah mengamalkannya sedang orang sesudah kami mudah untuk menghapal tapi sulit mengamalkannya.”

Ibnu Umar berkata: “Kami melalui masa yang panjang, seseorang diantara kami diberi iman sebelum Al-Quran, sehingga surat-surat turun kepada Nabi Muhammad, maka iapun mempelajari halal dan haram, perintah dan larangan dan bagaimana ia harus bersikap. Lalu saya melihat orang yang diturunkan Al-Quran sebelum iman, maka ia membaca surat al-Fatihah sampai khatam, tetapi ia tidak tahu apa yang dilarang dan bagaimana harus bersikap, ia membaca Al-Quran dan menganggapnya sama dengan buku-buku murahan.”

Contoh-contoh para shahabat ra dalam berinteraksi dengan Al-Quran adalah
sebagai berikut:

  1. Ketika turun QS 2:144. Seorang dari bani Salamah yang lewat ketika orang-orang sedang ruku’ shalat shubuh, mereka telah shalat 1 raka’at, maka ia menyeru . “Qiblat telah dialihkan!” Maka merekapun berbalik kearah Ka’bah.
    (HR Bukhari dan Abu Daud)Ibroh: Mereka mengerjakan suatu perintah dengan sesegera mungkin dan sungguh­-sungguh.
  2. Ketika turun QS 4:95 maka Ibnu Ummi Maktum ra bertanya kepada Nabi SAW : “Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang yang tidak mampu berjihad?” Maka turun ayat lanjutannya : “Kecuali bagi yang mempunyai ‘udzur”.
    (HR Bukhari dan Tirmidzi)lbroh: Ketelitian para sahabat dan perhatian mereka yang tinggi pada setiap ayat yang turun.
  3. Ketika turun QS 6:82 Para shahabat ra merasa sempit, maka mereka berkata : “Ya Rasulullah siapa diantara kita yang tidak pernah berbuat zalim? Maka Nabi SAW menjawab : “Bukan zalim itu yang dimaksud, tetapi maksudnya adalah syirik, tidakkah kalian mendengar firman Allah SWT (QS 31:13)?
    (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)lbroh : Rasa takut mereka yang luarbiasa terhadap suatu dosa, dan tidak menganggapnya kecil.
  4. Ketika turun QS 4:123. Abubakar ra berkata: “Setiap kemaksiatan yang aku lakukan akan dibalas, maka aku tidak mendapatkan sesuatu untuk dapat melepaskanku dari azab dipunggungku.” Maka sabda Nabi SAW “Apa yang anda
    katakan itu wahai Abubakar ?” Jawabnya : “Ya Rasulullah semua keburukanku akan dibalas.” Jawab Nabi SAW : “Semoga Allah mengampuni anda, tidakkah anda pernah sakit, kapayahan, sedih dan tertimpa musibah ?” Maka jawabnya: “‘Ya” Maka jawab Nabi SAW : “Itulah balasannya.”
    (HR Ahmad dalam al-Musnad)Ibroh: Para shahabat ra merasa setiap ayat Al-Quran itu ditujukan kepada diri mereka bukan orang lain.
  5. Ketika Abu Thalhah ra membaca ayat 9:41, ia berkata : “Allah sudah memerintahkan kepada yang tua maupun muda untuk berangkat jihad.”
    (HR At-Thobari)lbroh: Mereka senantiasa mentadabburi setiap ayat-ayat dengan sungguh-sungguh, dan berusaha mengamalkannya sekuat tenaga.

Merasa Bahwa Setiap Ayat itu Ditujukan Kepada Kita

lmam al-Ghazali dalam al-Ihya’ berkata: “Merasa bahwa kitalah yang dimaksud oleh setiap khithob Al-Quran. Jika Al-Quran memerintah maka kitalah yang diperintah, jika Al-Quran melarang maka kitalah yang dilarang, jika Al-Quran memberi janji maka kitalah yang diberi janji, jika Al-Quran mengancam maka kitalah yang diancam, jika Al-Quran bercerita maka kitalah yang harus mengambil ibrohnya, bahkan jika khithob Al-Quran berbentuk jamak maka kitalah yang paling dimaksud (QS 6:19). Bagaikan seorang budak yang membaca surat dari majikannya, sehingga dengan demikian maka bacaan Al-Quran akan menambah keimanan, iltizam (komitmen), pengamalan dan menjadi rijal Quraniy yang memberikan atsar dan manfaat pada dirinya dan orang lain.”

Ketika membaca Al-Quran tidak lantas berfikir alangkah baiknya jika ini saya sampaikan dalam kuliah/khutbah/ceramah, dsb. Seolah-olah Al-Quran ini bukan untuk dirinya tetapi untuk orang lain selain dia, sementara ia sudah baik. Contohlah ketika Umar ra mendengar seseorang sedang membaca surat at-Thuur.

Tidak menganggap bahwa kisah para Nabi as itu hanya cerita para Nabi as itu saja, atau ayat-ayat hukum itu untuk para pemimpin, ayat-ayat jihad untuk nanti jika ada jihad, ayat-ayat da’wah untuk para ‘ulama/muballigh dst.

Memahami bahwa Al-Quran Tidak Terbatas dengan Waktu dan Tempat

Tidak boleh membatasi Al-Quran hanya berlaku untuk masa tertentu, orang tertentu, kaum tertentu, kecuali memang ada dalil-dalil yang jelas tentang pengkhususannya.

Contoh QS 5:44 bukan khusus untuk bani Isra’il. QS 2:217 bukan khusus bagi orang Quraisy yang memerangi Nabi SAW saja, dst.

Dengan demikian harus kita fahami bahwa Al-Quran sesuai dengan masa kini, terdapat relevansi yang sangat kuat. Kita akan mendapat jawaban tentang masalah yang kita hadapi dan akan kita lihat bahwa fenomena yang ada sekarang dibahas dengan pas oleh Al-Quran. Sebagai contoh adalah sbb :

  1. Al-Hadid 4. Bahwa sampai sekarang Allah senantiasa bersama kita. (Muraqabah dan Ma’iyyatullah).
  2. Al-Anbiya 59-61. Pribadi lbrahim as vs Namrud dan pengikutnya.
  3. Al-Kahfi 19-20. Para pemuda dan peranannya.
  4. Al-Qashash 4. Fir’aun, karakteristik dan kesesatannya.
  5. Al-Muthaffifin 9. Sikap dan sifat orang durhaka.
  6. Al-A’raaf 96. Sunnatullah yang berlaku sepanjang zaman.
  7. An-Nisaa’ 19. Masalah hubungan keluarga.
  8. As-Shaff 8-9. Perang agama.

Untuk lebih memahami ini kita dituntut untuk menambah wawasan kita dengan tsaqofah (wawasan) yang kontemporer, sehingga kita akan lebih luas memahami ayat-ayat Al-Quran, baik sejarah, politik. ekonomi, sosial, iptek, dll.

Memahami Dasar-Dasar Ilmu Tafsir

Seperti ilmu bahasa Arab (nahwu, sharaf dan balaghah), Ilmu Fiqh dan hukum-hukumnya, ilmu Ushul fiqh, dan Ulumul Quran (Sabab-nuzul, Makkiy-Madaniy, Nasikh-Mansukh, I’jaz al-Qur’an, qashash Al-Quran, qasam, Uslub Al-Quran, ahkam Al-Quran, dsb).

Sebagian orang berpendapat bahwa itu hanya bisa dikuasai oleh orang-orang yang memiliki spesialisasi dibidang tsb, seperti lulusan IAIN, LIPIA, dsb, ini merupakan pemahaman yang salah, karena Al-Quran tidak ditujukan kepada kelompok tertentu dan tidak untuk dilaksanakan oleh kelompok tsb saja, melainkan kepada seluruh muslimin dan muslimat. Menguasai dasar-dasar ilmu
Al-Quran tidak sulit dan bukan mustahil, walaupun tidak juga sangat mudah seperti membalik tangan. Bukan berarti semua kita harus menjadi ahli tafsir yang mengetahui ilmunya secara terinci, tetapi agar setiap muslim memiliki bekal yang asasi untuk dapat memahami dan berinteraksi dengan Al-Quran.

Ya Allah, jadikanlah kami ahlul Quran dan jangan Engkau haramkan kepada kami untuk memahami Al-Quran, dan berikanlah kepada kami taufik dan hidayahMu agar kami senantiasa mampu untuk mengamalkan Al-Quran…

Oleh Dr. Shalah Abdul Fattah al-Kholidiy

Cara Memahami Nash Al Qur’an

1. Memahami Ayat dengan Ayat

Menafsirkan satu ayat Qur’an dengan ayat Qur’an yang lain, adalah jenis penafsiran yang paling tinggi. Karena ada sebagian ayat Qur’an itu yang menafsirkan (baca, menerangkan) makna ayat-ayat yang lain. Contohnya ayat :

“Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa cemas dan tidak pula merasa bersedih hati.” (Yunus : 62)

Lafadz auliya’ (wali-wali), diterangkan/ditafsirkan dengan ayat berikutnya yang artinya : “Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus : 63)

Berdasarkan ayat di atas maka setiap orang yang benar-benar mentaati perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka mereka itu adalah para wali Allah. Tafsiran ini sekaligus sebagai bantahan orang-orang yang mempunyai anggapan, bahwa wali itu ialah orang yang mengetahui perkara-perkara yang gaib, memiliki kesaktian, di atas kuburnya terdapat bangunan kubah yang megah, atau keyakinan-keyakinan batil yang lain. Dalam hal ini, karamah bukan sebagai syarat untuk membuktikan orang itu wali atau bukan. Karena karamah itu bisa saja tampak bisa pula tidak.

Adapun hal-hal aneh yang ada pada diri sebagian orang-orang sufi dan orang-orang ahli bid’ah, adalah sihir, seperti yang sering terjadi pula pada orang-orang majusi di India dan lain sebagainya. Itu sama sekali bukan karamah, tetapi sihir seperti yang difirmankan Allah : “Terbayang kepada Musa, seolah-olah ia merayap cepat lantaran sihir mereka.” (Thaha: 66)

2. Memahami Ayat Al-Qur’an dengan Hadits Shahih

Menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan hadits shahih sangatlah urgen, bahkan harus. Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Shallallahu alaihi wasalam. Tidak lain supaya diterangkan maksudnya kepada semua manusia. Firman-Nya : “…Dan Kami turunkan Qur’an kepadamu (Muhammad) supaya kamu terangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka pikirkan.” (An-Nahl : 44)

Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda : “Ketahuilah, aku sungguh telah diberi Al-Qur’an dan yang seperti Qur’an bersama-sama.” (HR. Abu Dawud)

Berikut contoh-contoh tafsirul ayat bil hadits:

Ayat yang artinya: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya.” (Yunus : 26)

Tambahan di sini menurut keterangan Rasulullah, ialah berupa kenikmatan melihat Allah. Beliau bersabda : “Lantas tirai itu terbuka sehingga mereka dapat melihat Tuhannya, itu lebih mereka sukai dari pada apa-apa yang diberikan kepada mereka.” Kemudian beliau membaca ayat ini : Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya. ” (HR. Muslim).

Ketika turun ayat, yang artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukan iman mereka dengan kezhaliman….” (Al-An’am : 82)

Menurut Abdullah bin Mas’ud, para sahabat merasa keberatan karenanya. Lantas merekapun bertanya, “Siapa di antara kami yang tidak menzalimi dirinya, ya Rasul?” Beliau jawab, “Bukan itu maksudnya. Tetapi yang dimaksud kezaliman di ayat itu adalah syirik. Tidakkah kalian mendengar/ucapan Lukman kepada putranya yang berbunyi: “Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Karena perbuatan Syirik (menyekutukan Allah) itu sungguh suatu kezaliman yang sangatlah besar.” (HR. Muslim)

Dari ayat dan hadits itu dapat dipetik kesimpulan : Kezaliman itu urutan-nya bertingkat-tingkat. Perbuatan maksiat itu tidak disebut syirik. Orang yang tidak menyekutukan Allah, mendapat keamanan dan petunjuk.

3. Memahami Ayat dengan Pemahaman Sahabat

Merujuk kepada penafsiran para sahabat terhadap ayat-ayat Qur’an seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud sangatlah penting sekali untuk mengetahui maksud suatu ayat. Karena, di samping senantiasa menyertai Rasulullah, mereka juga belajar langsung dari beliau. Berikut ini beberapa contoh tafsir dengan ucapan sahabat, tentang ayat yang artinya: “Yaitu Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘arsy.” (Thaha 5)

Al-Hafiz Ibnu Hajar di dalam Kitab Fathul Baari berkata, Menurut Ibnu Abbas dan para ahli tafsir lain, istawa itu maknanya irtafa’a (naik atau meninggi).

4. Harus Mengetahui Gramatika Bahasa Arab

Tidak diragukan lagi, untuk bisa memahami dan menafsiri ayat-ayat Qur’an, mengetahui gramatika bahasa Arab sangatlah urgen. Karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.

“Sungguh Kami turunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab supaya kamu memahami.” (Yusuf : 2)

Tanpa mengetahui bahasa Arab, tak mungkin bisa memahami makna ayat-ayat Qur’an. Sebagai contoh ayat: “tsummas tawaa ilas samaa’i”. Makna istawaa ini banyak diperselisihkan. Kaum Mu’tazilah mengartikannya menguasai dengan paksa. Ini jelas penafsiran yang salah. Tidak sesuai dengan bahasa Arab. Yang benar, menurut pendapat para ahli sunnah waljamaah, istawaa artinya ‘ala wa irtafa’a (meninggi dan naik). Karena Allah mensifati dirinya dengan Al-‘Ali (Maha Tinggi).

Anehnya, banyak orang penganut faham Mu’tazilah yang menafsiri lafaz istawa dengan istaula. Pemaknaan seperti ini banyak tersebar di dalam kitab-kitab tafsir, tauhid, dan ucapan-ucapan orang. Mereka jelas mengingkari ke-Maha Tinggian Allah yang jelas-jelas tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits shahih, perkataan para sahabat dan para tabi’in, Mereka mengingkari bahasa Arab di mana Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa itu. Ibnu Qayyim berkata, Allah memerintahkan orang-orang Yahudi supaya mengucapkan “hitthotun” (bebaskan kami dari dosa), tapi mereka pelesetkan atau rubah menjadi “hinthotun” (biji gandum). Ini sama dengan kaum Mu’tazilah yang mengartikan istawa dengan arti istaula.

Contoh kedua, pentingnya Bahasa Arab dalam menafsiri suatu ayat, misalnya ayat yang artinya:

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah (yang haq) melainkan Allah…” (Muhammad: 19).

Ilah artinya al-ma’bud (yang disembah). Maka kalimat Laa ilaaha illallaah, artinya laa ma’buuda illallaah (tidak ada yang patut disembah kecuali Allah saja). Sesuatu yang disembah selain Allah itu banyak; orang-orang Hindu di India menyembah sapi. Pemeluk Nasrani menyembah Isa Al-Masih, tidak sedikit dari kaum Muslimin sangat disesalkan karena menyembah para wali dan berdo’a meminta sesuatu kepadanya. Padahal, dengan tegas Nabi Shallallahu alaihi wasalam berkata, artinya: “Doa itu ibadah”. (HR At-Tirmidzi).

Nah, karena sesuatu yang dijadikan sesembahan oleh manusia banyak macamnya, maka dalam menafsirkan ayat di atas mesti ditambah dengan kata haq sehingga maknanya menjadi Laa ma’buuda haqqon illallaah (tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah). Dengan begitu, semua sesembahan-sesembahan yang batil yakni selain Allah, keluar atau tidak masuk dalam kalimat tersebut. Dalilnya ialah ayat berikut, yang artinya: “Demikianlah, karena sesungguhnya Allah. Dialah yang haq. Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil.” (Luqman: 30).

Dengan diartikannya lafadz ilah menjadi al-ma’buud, maka jelaslah kekeliruan kebanyakan orang Islam yang berkeyakinan bahwa Allah ada di mana-mana dan mengingkari ketinggianNya di atas ‘Arsy dengan memakai dalil ayat berikut, yang artinya: “Dan Dialah Tuhan di langit dan Tuhan di bumi.” (Az-Zukhruf: 84).

Sekiranya mereka memahami arti ilah dengan benar, nisacaya mereka tidak memakai dalil ayat tersebut. Yang benar, seperti yang telah diterangkan di atas, al-ilah itu artinya: al-ma’buud sehingga ayat itu artinya menjadi : “Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi.”

Contoh ketiga, pentingnya mengetahu gramatika bahasa Arab untuk supaya bisa menafsiri ayat dengan benar, ialah mengetahui ungkapan kata akhir tapi didahulukan, dan kata depan tapi ditaruh di akhir kalimat. Sebagai contoh : iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in. artinya: “Hanya kepadamu kami menyembah, dan hanya kepadamu pula kami memohon pertolongan.” (Al-Fatihah: 5).

Didahulukannya kata iyyaaka atas kata kerja na’budu dan nasta’in, ialah untuk pembatas dan pengkhususan, maka maksudnya menjadi laa na’budu illaa iyyaaka walaa nasta’iinu illaa bika yaa Allaah, wanakhusshuka bil ‘ibaadah wal isti’aanah wahdaka. (kami tidak menyembah siapapaun kecuali hanya kepadaMu. Kami tidak mohon pertolongan kecuali hanya kepadaMu, ya Allah. Dan hanya kepadaMu saja kami beribadah serta memohon pertolongan).

5. Memahami Nash Al-Qur’an dengan Asbabun Nuzul

Mengetahui sababun nuzul (peristiwa yang melatari turunnya ayat) sangat membantu sekali dalam memahami Al-Qur’an dengan benar.

Sebagai contoh, ayat yang artinya: “Katakanlah: Panggillah mereka yang kamu anggap sebagai (Tuhan) selain Allah, mereka tidak akan memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu juga mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya, serta takut akan adzab-Nya. Karena adzab Tuhanmu itu sesuatu yang mesti ditakuti.” (Al-Israa': 56-57).

Ibnu Mas’ud berkata, segolongan manusia ada yang menyembah segolongan jin, lantas sekelompok jin itu masuk Islam. Karena yang lain tetap bersikukuh dengan peribadatannya, maka turunlah ayat: Orang-orang yang mereka seru itu juga mencari jalan kepada Tuhan mereka (Muttafaq ‘alaih).

Ayat itu sebagai bantahan terhadap orang-orang yang menyeru dan bertawassul kepada para nabi atau para wali. Tapi, sekiranya orang-orang itu bertawassul kepada keimanan dan kecintaan mereka kepada para nabi atau wali, tentu tawassul semacam itu boleh-boleh saja.

Demikian penjelasan Muhammad Ibn Jamil Zainu dalam Kitab kaifa Nafhamul Qur’an.

Rukun berinteraksi dengan Alquran

At-Tilawah (Membaca Al-Quran) (QS Al-Baqarah: 121)

Salah satu cara berinteraksi dengan Al-Qur’an yang harus diperbanyak adalah tilawah Al-Qur’an. Salafu sholih sangat serius dalam masalah tilawah. Utsman bin ‘Affan  mengkhatamkan setiap hari Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Abdullah bin Amru bin Al Ash ketika diperintahkan membaca Al Qur’an sebulan khatam, beliau masih menawar bahwa dirinya masih mampu untuk lebih cepat dari itu. Setelah terjadi tawar-menawar, maka Rasulullah saw. membolehkan membacaAl-Quran setiap tiga hari khatam. Sementara imam As-Syafi’i mengkhatamkan 60 kali dalam bulan Ramadhan diluar waktu sholat. Sebagian ada yang setiap pekan khatam dan ada yang sepuluh hari khatam. Demikianlah tilawah para shalafu sholih.

Orang-orang beriman menjadikan Al-Quran sebagai buku bacaan hariannya dan tidak pernah bosan dan kenyang dengan Al-Qur’an. Sebagaimana diungkapkan oleh Utsman bin ‘Affan ra, “Kalau hati kita bersih, maka kita tidak akan pernah kenyang dengan Al-Quran”. Karena dengan senantiasa membaca Al-Qur’an, akan mendapatkan banyak kebaikan. Rasulullah saw. bersabda, “Al-Qur’an ini adalah hidangan Allah, maka terimalah hidangan itu sekuat kemampuan kalian. Al-Quran ini adalah tali Allah, cahaya yang terang, obat yang bermanfaat, terpeliharalah orang yang berpegang teguh dengannya, keselamatan bagi yang mengikutinya. Jika akan menyimpang, maka diturunkan, tidak terputus keajaibannya, tidak lapuk karena banyak diulang. Bacalah karena Allah akan memberikan pahala bacaan kalian setiap huruf sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”. (HR Al-Hakim)

At-Tadabbur (Memahami Al-Quran) (QS Shaad: 29)

Tadabbur Al-Quran adalah meneliti lafazh Al-Quran untuk sampai pada makna Al-Quran. Intinya bahwa tadabbur yaitu memahami Al-Qur’an, mendalami, memikirkan dan memperhatikan agar dapat diamalkan. Inilah tujuan inti dari diturunkan Al-Quran, yaitu untuk difahami isinya kemudian diamalkan. Sebab jika orang membaca sesuatu dan tidak memahami maknanya maka tujuan inti dari apa yang dibaca tidak sampai. Orang yang berilmu dan memiliki peradaban adalah orang yang memahami apa yang dibaca. Berkata Ibnu Taimiyah, “Tradisi yang terjadi adalah menolak, jika suatu kaum membaca kitab pada disiplin ilmu tertentu, seperti kedokteran atau matematika kemudian tidak memahaminya. Bagaimana dengan kalam Allah Ta’ala yang merupakan kunci penjagaan, keselamatan, kebahagiaan dan pedoman pada agama dan dunia mereka?”

Al-Quran adalah mu’jizat Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. dan manusia dapat menikmati mu’jizat tersebut. Seluruh isinya berupa kebenaran, kebaikan, keindahan, ilmu pengetahuan dan mengantarkan manusia pada kebahagiaan. Orang yang hidup dalam naungan Al-Quran mereka akan mendapatkan keberkahan. Keberkahan umur, keberkahan harta dan keberkahan sarana lainnya. Sebaliknya manusia yang berpaling dari Al-Quran, mereka akan mendapatkan kehidupan yang paling sempit, sengsara dan menderita di dunia dan akhirat. (QS Thahaa 124-126).

Sangat disayangkan jika mu’jizat terakhir yang membawa keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat tidak dapat difahami dan dini’mati oleh mayoritas manusia. Tetapi inilah realitas yang terjadi, mayoritas manusia tidak beriman pada Al-Quran dan mayoritas umat muslim tidak mengetahui isinya.

Al-Hifzh wa al-Muhafazhah (Menghafal dan menjaga Al-Quran)

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim” (QS Al-ankabuut 29).

Maksudnya, bahwa ayat-ayat Al Quran itu terpelihara dalam dada dengan dihapal oleh banyak kaum muslimin turun temurun dan dipahami oleh mereka, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mengubahnya. Dan inilah satu bentuk kemudahan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Bahwa Al-Qur’an mudah dibaca, mudah difahami, mudah dihafalkan dan mudah diamalkan. Surat Al-Qomar menyebutkan empat kali, bahwa Allah telah berjanji untuk memudahkan al-Qur’an untuk dijadikan pelajaran. “Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al Qomar, 17,22,32,40). Para ulama tafsir, diantaranya Al-Qurthubi, As-Suyuti dan lainnya menafsirkan, bahwa Allah telah memudah Al-Qur’an untuk dihafalkan.

Banyak orang-orang beriman yang sudah putus asa dalam menghafalkan Al-Qur’an, seolah tidak mampu lagi menambah hafalannya, yang ada malah berkurang. Apalagi jika umur sudah mulai menginjak 40 tahun. Problematika ini menunjukkan kelemahan iman dan semangat dalam menghafalkan Al-Qur’an. Bahkan ada seorang da’i yang mengatakan bahwa dalam Islam semuanya mudah kecuali menghafal Al-Qur’an. Kondisi seperti ini tentu sungguh sangat memperihatinkan. Padahal jika kita melihat keislaman para sahabat, mayoritas mereka masuk Islam sudah dewasa, sebagiannya sudah melewati usia 40 tahun, tetapi mereka masih terus bersemangat untuk menghafal Al-Qur’an.

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang dalam dadanya tidak ada (hafalan ) dari Al-Qur’an, maka seperti rumah rusak (kosong)” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan Al-Hakim). Rumah rusak atau kosong, berarti mudah dimasuki mahluk lain, seperti syetan atau jin yang senantiasa mengganggu manusia. Dan memang kita mendapati, bahwa orang yang suka diganggu syetan atau jin adalah orang yang hatinya kosong, yaitu kosong dari keimanan dan kosong dari Al-Qur’an.

Rasulullah saw. banyak memberikan keistimewaan bagi orang orang yang hafal Al-Qur’an, diantaranya, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan dia mahir, bersama malaikat yang mulia dan baik” (Muttafaqun ‘alaihi). “Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu seseorang yang diberikan Al-Qur’an dan diamalkan siang malam. Dan seseorang yang diberi harta, dia menginfakkannya siang malam” (Muttafaqun ‘alaihi). “Ahlul Qur’an adalah ahli Allah dan yang diistimewakan-Nya” (HR Ahmad dan Ibnu Majah). “Yang memimpin (imam) suatu kaum adalah yang paling menguasai Al-Qur’an” (HR Muslim). Pemimpin disini baik dalam shalat dan tentu saja diluar shalat. Karena Rasulullah saw. ketika memberi tugas pada para sahabat, yang diangkat jadi pemimpin adalah yang paling menguasai Al-Qur’an atau yang paling faqih terhadap agama.

At-Tanfidz wa al-`Amal bihi (Mengamalkan Al-Qur’an) (QS At-Taubah 105)

Langkah interaksi terhadap Al-Qur’an berikutnya adalah mengamalkannya. Mengamalkan Al-Qur’an berarti mengamalkan ajaran Islam atau beramal shalih. Imam Ali menjelaskan sifat-sifat orang yang bertaqwa, yaitu orang yang beramal sesuai dengan petunjuk Al Qur’an (al’amalu bit tanziil). Inilah interaksi yang harus dilakukan oleh setiap orang beriman, menjalankan yang diperintahkan dan meninggalkan yang diharamkan. Mengamalkan Al-Qur’an harus sampai pada tingkat bahwa Al-Qur’an menjadi kepribadian atau akhlaknya. Inilah yang terjadi pada diri Rasulullah saw., sebagaimana diceritakan ‘Aisyah, “Akhlak Rasul adalah Al-Qur’an” (HR Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i). Begitu juga para sahabat disebut dengan ‘Generasi Al-Qur’an yang unik’.

Diantara bentuk mengamalkan AlQur’an adalah mengikuti sunnah Rasul saw. Karena kita melihat banyak orang yang mengklaim mengikuti Al-Qur’an tetapi tidak mengikuti sunnah bahkan yang menafikan sunnah. (QS Al-Hasyr 7).

Sesuatu yang harus menjadi keprihatinan kita orang-orang beriman adalah bahwa banyak umat Islam yang meninggalkan Al-Qur’an. Hal ini juga yang menjadi keprihatinan Rasulullah saw. Bahkan keprihatinan ini diabadikan dalam Al-Qur’an, “Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan” (QS Al-Furqan 30). Meninggalkan Al-Qur’an ini disebabkan oleh banyak hal, salah satunya karena begitu gencarnya propaganda penyesatan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Begitu juga upaya yang sistematis agar umat Islam jauh dari Al-Qur’an (QS Al-Fushilat 41).

Berbagai macam dakwah kebatilan digalakan, berbagai macam hiburan yang melalaikan disemarakkan sehingga banyak umat Islam yang meninggalkan Al-Qur’an. Meninggalkan dari membaca Al-Qur’an, meninggalkan dari memahami Al-Qur’an, meninggalkan dari menghafalkan Al-Qur’an, meninggalkan dari mengamalkan Al-Qur’an dan meninggalkan dari segala macam yang terkait dengan Al-Qur’an. TV mempunyai peran yang sangat besar dalam membuat umat Islam meninggalkan Al-Qur’an.

At-Ta’lim wa ad-Da’wah wal jihaad (Mengajarkan dan menda’wahkan Al-Our’an) (QS Al-Furqaan 52).

Melihat fenomena bahwa umat meninggalkan Al-Qur’an, maka harus ada upaya simultan bagi para da’i, yaitu mengajarkan Al-Qur’an, menda’wahkan dan berjihad dengannya. Inilah bentuk interaksi terakhir orang-orang beriman dengan Al-Qur’an. Inilah sejatinya yang disebut dengan hidup dalam naungan Al-Qur’an. Ta’lim, da’wah dan jihad yang terus-menerus sampai Allah memberikan kemenangan atau mati syahid dijalan perjuangan ini. Inilah kehidupan yang telah dilalui oleh Rasulullah saw. bersama dengan keluarga dan para sahabatnya. Diteruskan oleh generasi salafu shalih berikutnya, perjuangan yang tidak kenal henti.

As-Syahid Sayyid Quttub menceritakan dalam muqaddimah Tafsirnya, “Hidup dalam naungan AlQur’an adalah ni’mat. Ni’mat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Ni’mat yang akan mengangkat umur, memberkahi dan menyucikannya.”

Tujuan diturunkan Alqur’an

Wahai saudaraku, sesungguhnya Al-Quran diturunkan setidaknya dengan tiga tujuan:

1. Beribadah kepada Allah dengan membacanya.

2. Dipelajari isi dan kandungannya.

3. Diamalkan.

Adapun yang pertama [beribadah kepada Allah dengan membacanya] dalinya adalah dua hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam.

Hadits pertama

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ عُثْمَانَ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى قَال سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ كَعْبٍ الْقُرَظِيَّ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
وَيُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَرَوَاهُ أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَفَعَهُ بَعْضُهُمْ وَوَقَفَهُ بَعْضُهُمْ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ سَمِعْت قُتَيْبَةَ يَقُولُ بَلَغَنِي أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ كَعْبٍ الْقُرَظِيَّ وُلِدَ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ يُكْنَى أَبَا حَمْزَةَ

(TIRMIDZI – 2835) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Hanafi telah menceritakan kepada kami Adl dlahhak bin Utsman dari Ayyub bin Musa ia berkata; Aku mendengar Muhammad bin Ka’ab Al Quradli berkata; Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf dan MIIM satu huruf.” Selain jalur ini, hadits ini juga diriwayatkan dari beberapa jalur dari sahabat Ibnu Mas’ud. Abul Ahwas telah meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Mas’ud, sebagian perawi merafa’kannya (menyambungkannya sampai kepada Nabi) dan sebaian yang lainnya mewaqafkannya dari sahabat Ibnu Mas’ud. Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih gharib dari jalur ini, aku telah mendengar Qutaibah berkata; telah sampai berita kepadaku bahwa Muhammad bin Ka’ab Al Quradli dilahirkan pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, dan Muhammad bin Ka’ab di juluki dengan Abu Hamzah.

Sumber : Tirmidzi [sanadnya shahih]
Kitab : keutamaan Al Qur`an
Bab : Membaca satu huruf alquran dan ganjarannya
No. Hadist : 2835

Hadits kedua

حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ وَهُوَ الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ سَلَّامٍ عَنْ زَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلَّامٍ يَقُولُ حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

قَالَ مُعَاوِيَةُ بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ السَّحَرَةُ و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ حَسَّانَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَكَأَنَّهُمَا فِي كِلَيْهِمَا وَلَمْ يَذْكُرْ قَوْلَ مُعَاوِيَةَ بَلَغَنِي

(MUSLIM – 1337) : Telah menceritakan kepadaku Al Hasan bin Ali Al Hulwani telah menceritakan kepada kami Abu Taubah ia adalah Ar Rabi’ bin Nafi’, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah yakni Ibnu Sallam, dari Zaid bahwa ia mendengar Abu Sallam berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Umamah Al Bahili ia berkata; Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. Bacalah Zahrawain, yakni surat Al Baqarah dan Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya. Bacalah Al Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh barokah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai (dikalahkan) oleh tukang-tukang sihir.” Mu’awiyah berkata; “Telah sampai (khabar) kepadaku bahwa, Al Bathalah adalah tukang-tukang sihir.” Dan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah mengabarkan kepada kami Yahya yakni Ibnu Hassan, Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah dengan isnad ini, hanya saja ia mentatakan; “Wa Ka`annahumaa fii Kilaihimaa.” dan ia tidak menyebutkan ungkapan Mu’awiyah, “Telah sampai (khabar) padaku.”

Sumber : Muslim
Kitab : Shalatnya musafir dan penjelasan tentang qashar
Bab : Keutamaan membaca Al-Qur’an dan surat al Baqarah
No. Hadist : 1337

Adapun yang kedua [dipelajari isi dan kandungannya] maka dalilnya adalah firman Allah:

Muhammad :24

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?

 

Terakhir, yang ketiga [diamalkan] maka dalilnya adalah hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam:

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ حَدَّثَنَا أَبَانُ حَدَّثَنَا يَحْيَى أَنَّ زَيْدًا حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا سَلَّامٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

(MUSLIM – 328) : Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami Habban bin Hilal telah menceritakan kepada kami Aban telah menceritakan kepada kami Yahya bahwa Zaid telah menceritakan kepadanya, bahwa Abu Sallam telah menceritakan kepadanya dari Abu Malik al-Asy’ari dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersuci adalah setengah dari iman, alhamdulillah memenuhi timbangan, subhanallah dan alhamdulillah keduanya memenuhi, atau salah satunya memenuhi apa yang ada antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah petunjuk, kesabaran adalah sinar, dan al-Qur’an adalah hujjah untuk amal kebaikanmu dan hujjah atas amal kejelekanmu. Setiap manusia adalah berusaha, maka ada orang yang menjual dirinya sehingga membebaskannya atau menghancurkannya.”

Sumber : Muslim
Kitab : Thaharah
Bab : Keutamaan wudlu
No. Hadist : 328


kesimpulan

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa ajaran Islam ini adalah ajaran yang paling sempurna, karena memang semuanya ada dalam Islam, mulai dari urusan buang air besar sampai urusan negara, Islam telah memberikan petunjuk di dalamnya. Alloh berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)

Salman Al-Farisi berkata,“Telah berkata kepada kami orang-orang musyrikin, ‘Sesungguhnya Nabi kamu telah mengajarkan kepada kamu segala sesuatu sampai buang air besar!’ Jawab Salman, ‘benar!” (Hadits Shohih riwayat Muslim). Semua ini menunjukkan sempurnanya agama Islam dan luasnya petunjuk yang tercakup di dalamnya, yang tidaklah seseorang itu butuh kepada petunjuk selainnya, baik itu teori demokrasi, filsafat atau lainnya; ataupun ucapan Plato, Aristoteles atau siapa pun juga.

Meskipun begitu luasnya petunjuk Islam, pada dasarnya pokok ajarannya hanyalah kembali pada tiga hal yaitu tauhid, taat dan baro’ah/berlepas diri. Inilah inti ajaran para Nabi dan Rosul yang diutus oleh Alloh kepada ummat manusia. Maka barangsiapa yang tidak melaksanakan ketiga hal ini pada hakikatnya dia bukanlah pengikut dakwah para Nabi. Keadaan orang semacam ini tidak ubahnya seperti orang yang digambarkan oleh seorang penyair,

Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila,
namun laila tidak mengakui perkataan mereka

Berserah Diri Kepada Alloh Dengan Merealisasikan Tauhid

Yaitu kerendahan diri dan tunduk kepada Alloh dengan tauhid, yakni mengesakan Alloh dalam setiap peribadahan kita. Tidak boleh menujukan satu saja dari jenis ibadah kita kepada selain-Nya. Karena memang hanya Dia yang berhak untuk diibadahi. Dia lah yang telah menciptakan kita, memberi rizki kita dan mengatur alam semesta ini, pantaskah kita tujukan ibadah kita kepada selain-Nya, yang tidak berkuasa dan berperan sedikitpun pada diri kita?

Semua yang disembah selain Alloh tidak mampu memberikan pertolongan bahkan terhadap diri mereka sendiri sekali pun. Alloh berfirman, “Apakah mereka mempersekutukan dengan berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedang berhala-berhala itu sendiri yang diciptakan. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada para penyembahnya, bahkan kepada diri meraka sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (Al -A’rof: 191-192)

Semua yang disembah selain Alloh tidak memiliki sedikitpun kekuasaan di alam semesta ini. Alloh berfirman, “Dan orang-orang yang kamu seru selain Alloh tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu, dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Fathir: 13-14)

Tunduk dan Patuh Kepada Alloh Dengan Sepenuh Ketaatan

Pokok Islam yang kedua adalah adanya ketundukan dan kepatuhan yang mutlak kepada Alloh. Dan inilah sebenarnya yang merupakan bukti kebenaran pengakuan imannya. Penyerahan dan perendahan semata tidak cukup apabila tidak disertai ketundukan terhadap perintah-perintah Alloh dan Rosul-Nya dan menjauhi apa-apa yang dilarang, semata-mata hanya karena taat kepada Alloh dan hanya mengharap wajah-Nya semata, berharap dengan balasan yang ada di sisi-Nya serta takut akan adzab-Nya.

Kita tidak dibiarkan mengatakan sudah beriman lantas tidak ada ujian yang membuktikan kebenaran pengakuan tersebut. Alloh berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” ( Al-Ankabut: 2-3)

Orang yang beriman tidak boleh memiliki pilihan lain apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan keputusan. Alloh berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak pula perempuan yang beriman, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al Ahzab: 36)

Orang yang beriman tidak membantah ketetapan Alloh dan Rosul-Nya akan tetapi mereka mentaatinya lahir maupun batin. Alloh berfirman, “Sesungguhnya jawaban orang-orang beriman, bila mereka diseru kepada Alloh dan Rosul-Nya agar rosul menghukum di antara mereka ialah ucapan. ‘Kami mendengar, dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An Nur: 51)

Memusuhi dan Membenci Syirik dan Pelakunya

Seorang muslim yang tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan Alloh, maka konsekuensi dari benarnya keimanannya maka ia juga harus berlepas diri dan membenci perbuatan syirik dan pelakunya. Karena ia belum dikatakan beriman dengan sebenar-benarnya sebelum ia mencintai apa yang dicintai Alloh dan membenci apa yang dibenci Alloh. Padahal syirik adalah sesuatu yang paling dibenci oleh Alloh. Karena syirik adalah dosa yang paling besar, kedzaliman yang paling dzalim dan sikap kurang ajar yang paling bejat terhadap Alloh, padahal Allohlah Robb yang telah menciptakan, memelihara dan mencurahkan kasih sayang-Nya kepada kita semua.

Alloh telah memberikan teladan kepada bagi kita yakni pada diri Nabiyulloh Ibrohim ‘alaihis salam agar berlepas diri dan memusuhi para pelaku syirik dan kesyirikan. Alloh berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Alloh, kami mengingkari kamu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja.’” (Al-Mumtahanah: 4)

Jadi ajaran Nabi Ibrohim ‘alaihis salam bukan mengajak kepada persatuan agama-agama sebagaimana yang didakwakan oleh tokoh-tokoh Islam Liberal, akan tetapi dakwah beliau ialah memerangi syirik dan para pemujanya. Inilah millah Ibrohim yang lurus! Demikian pula Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengobarkan peperangan terhadap segala bentuk kesyirikan dan memusuhi para pemujanya. Inilah tiga pokok ajaran Islam yang harus kita ketahui dan pahami bersama untuk dapat menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban yang yakin dan pasti. Dan di atas ketiga pokok inilah aqidah dan syari’ah ini dibangun. Maka kita mohon kepada Alloh semoga Alloh memberikan taufiq kepada kita untuk dapat memahami agama ini, serta diteguhkan di atas meniti din ini. Wallohu a’lam

 

2 Responses to Adab,Rukun, syarat berinterkasi dengan Alqur’an

  1. Erick Birdwell mengatakan:

    Hi i just came across your web site from Google but encountered a wierd popup about dog hospitals which is clearly unrelated to your internet site. Is this your advertising or do i’ve a spyware issue? Many thanks.

  2. Twana Hauptly mengatakan:

    Great contact form collection.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 187 pengikut lainnya.