RESTRUKTURISASI FILSAFAT ISLAM

RESTRUKTURISASI FILSAFAT ISLAM (Kritik Epistemologis)

Pendahuluan
Kelahiran filsafat di Yunani pada perkisaran abad ke- 6-4 SM. Telah membawa arah angin peradaban yang sangat berbeda di Eropa, bahkan angin segar ini telah pula (pada abad selanjutnya) di benua lainnya. Perobahannya sangatlah radikal, dari peradaban mitologis ke peradaban rasional. Angin ini pun, walaupun tidak terlalu deras, telah menerpa Dunia Islam pada abad ke-2 setelah Rasulullah wafat.
Kelahiran filsafat ini, dianggap angin segar dalam rentang sejarah peradaban manusia, karena sebelumnya peradaban mitologis telah sedemikian lama mencengkram kehidupan manusia. Suatu sistem peradaban yang sulit untuk menjanjikan perkembangan lebih lanjut. Para ahli studi budaya budaya melihat bahwa, sisi gelap mitologi adalah ketika dilihatnya posisi manusia sebagai objek yang berada dalam bayang-bayang “penjajahan” pada Dewa. Demikian juga, manusia telah menjadi objek sejarah, bukannya subjek sejarah kehidupannya.
Pengalaman pahit sejarah ini, bagai peradaban eropa, telah menggariskan luka yang demikian parah, sehingga melahirkan “dendam” berkepanjangan. Dendam ini semakin berkarat, ketika sejarah pahit dunia Eropa terulang kembali ketika kekuasaan Gereja sebagai reinkarnasi para dewa di muka bumi, dimana mitologi berubah bentuk menjadi doktrin-doktrin gereja yang telah mencengkram dan membelenggu “kebebasan” manusia, khususnya kebebasan untuk berkreasi dan berpikir.
Warna sejarah agak lain, ketika filsafat sampai di tangan para pemikir Muslim. Filsafat. Dunia Islam bukannya menolak, bahkan sepertinya malah menemukan kekuatan ekstra dari hadirnya filsafat tersebut. Filafat di Dunia Kristiani Romawi Ortodoks telah memporak-porandakan basic keyakinan asli, sehingga berubah wajah menjadi sistem keyakinan yang berwarna Romawi klasik. Agama kewahyuan berubah menjadi doktrin-dokrin yang bernuansa mitologis.
Pertemuan antara filsafat Yunani Kalsik dengan Islam di Dunia Islam, malah seperti bertemunya dua teman lama yang telah lama tidak berjumpa. Yang paling menarik, dengan tidak merusak semangat filosofis yaitu pencarian kebenaran atau kebijaksanaan sejati (wisdom, al-hikmah), filsafat yang kemudian mewujud “filsafat Islam” malah semakin luas wilayah garapannya.
Sebagai salah satu indikasi dari produktivitas para filosof Mulis, diantaranya adalah lahirnya sejumlah “disiplin ilmu” yang cukup banyak dan mandiri. Disiplin ilmu yang tidak hanya sekedar pelebaran wilayah kajian filsafat, akan tetapi telah mampu menurunkan sistem pengetahuan tersebut dari tataran pengetahuan filsafat (sebagai produk berpikir atau aktivitas filosofis) ke tataran pengetahuan praksis. Displin ilmu yang terlahir pada masa Islam Klasik ini antara lain: Filsafat Hukum yang melahirkan prinsip-prinsip hukum serta metodologinya (ushul fiqh); Ilmu Sejarah beserta metodologinya yang kemudian digunakan secara spesifik dalam Musthalah Hadits, selain ilmu sejarah itu senidiri (Tarikh); Ilmu Kedokteran, Ilmu Kimia, Ilmu Bumi, Ilmu Antariksa atau Astronomi, matematika dan lain sebagainya. Bahkan, dalam ilmu bahasa, retorika dan logika berkembang selain ilmu-ilmu tata-bahasa, mantik ilmu penafsiran (hermenetika, interpretasi); serta ilmu-ilmu lainnya.
Dengan demikian, terjadi perkembangan yang sangat lebar dari ruang lingkup studi filsafat di tangan para pemikir Muslim, bahkan telah mampu menelorkan ilmu-ilmu lainnya sehingga membuktikan keberadaan filsafat sebagai the mother of the sciences, baik dalam ruang lingkup maupun metodologinya, yang disumbangkan Dunia Islam terhadap sejarah dan perkembangan ilmu pengetahuan. Lalu, secara skematis, pengetahuan apa saja sebenarnya yang telah disumbangkan ummat Islam pada masa lalu, kini dan kemungkinan perkembangan di masa yang akan datang.
Untuk bisa mengetahui hal tersebut, tampaknya perlu re-strukturisasi filsafat Islam, dan juga re-strukturisasi ilmu derivasinya.
Untuk selanjutnya, dalam makalah ini penggunaan periodisasi atau pembabakan berdasarkan waktu, sebagai karakteristik metode pembahasan kesejarahan, tidak akan digunakan. Hal ini dilakukan untuk melihat filsafat sebagai suatu sistem pengetahuan yang integral.
Pemilahan atau tepatnya klasifikasi filsafat hanya akan dilakukan, yaitu filsafat Yinani (klasik) dengan Filsafat Islam (klasik). Pemilihan ini lebih merupakan tuntutan metodologis, dalam upaya membandingkan antara Filsafat Yunan dan Filsafat Islam, dan ini pun dilakukan hanya untuk melihat kedudukan dan kontribusi Filsafat Islam dalam mengembangkan studi Filsafat.

Sistematika Filsafat Yunani (Klasik)

Filsafat Yunani (Klasik), diawali oleh lahirnya pemikiran Thales tentang alam, khususnya tentang asal mula alam semesta mengawali pengembaraan inteleknya dengan membicarakan asul-usul dan esensi serta eksistensi alam semesta (What is the nature of the wolrd stuff ?). Caranya menjawab persoalan ini sangat berbeda dengan cara mitologi menjawab. Para filosof mendasarkan jawaban terhadap karakteristik umum alam yang ditemukan dalam kehidupan yang diamatinya. Pengalaman dan pengamatan para filosof dari lingkungan yang berbeda, cenderung menghasilkan jawaban yang berbeda pula. Kesamaannya terletak pada penggunaan kekuatan rasio dalam mengungkap fenomena alam. Jawaban terhadap pertanyaan mendasar tentang alam ini dilanjutkan oleh penerusnya seperti Anaximandros, Anaximenes, Pythagoras dan yang lain, dengan kecenderungan cara pandanga yang relatif berbeda. Ada yang menekankan pada visi yang sangat naturalis ada pula yang lebih metafisis dan spiritualis seperti Anaximenes, Pythagoras, Zeno dan beberapa filosof lain sesudahnya.
Pembicaraan Filsafat Yunani ini beralih secara drastis, dari persoalan tentang materi penyusun alam ke persoalan epistemologi. Hal ini terjadi ketika persoalan kebenaran dibicarakan, sehingga muncul kelompok atau kaum Sofis. Dalam sistem filsafat Barat Modern, pemikiran mereka mirif dengan aliran filsafat skeptisisme atau relativismenya Descartes. Pusat pembicaraan telah berkembang sedemikian rupa, dari pembicaraan tentang alam beralih ke persoalan tentang pengetahuan dan manusia. Keadaan ini dipertegas oleh munculnya tokoh yang secara radikan melakukan kritik terhadap pemikiran kaum Sofis ini. Dan, Socrates menjadikan persoalan manusia sebagai titik tolak pembicaraannya. Dan ialah yang mempopulerkan adagium filosofis yang diadaftasi dari pernyataan dari seorang Delphi, yaoti pernyataan “Know your self”. Demikian, pengenalan terhadap diri menjadikan dasar perenungan filosofis yang dilakuakan Socrates.
Akumulasi dari persoalan-persoalan tentang esesnsi penyususn alam semesta (termasuk persoalan tentang gerak dan perubahan), kebenaran dan pengetahuan, serta persoalan tentang manusia, muncullah satu pertanyaan mendasar yang mengatasi seluruh persoalan tersebut. Yaitu, apa sesungguhnya hakikat dari “ada”, onthos. Persoalan ini untuk pertama kalinya dikemukakan dan dibahas oleh Plato yang mengeluarkan aliran filsafat Idealisme dan Aristoteles yang melahirkah alirasn filsafat Realisme.
Kelahiran Plato khususnya Aristoteles sepertinya telah menutup sejumlah kemungkinan pemikiran untuk berkembang, saat itu. Karena persoalan-persoalan telah sedemikian lengkap dibahas oleh mereka berdua, khususnya Aristoteles. Kemunculan Plotinus sebagai pendidir aliran Neo-Platonisme hanya melengkapi dan menyempurnakan pemikiran pendahulunya, Plato. Hal yang paling menarik dan perlu dicatat dari pemikiran Plotinus, pada upaya untuk mempertemukan pemikiran-pemikiran filsafat yang rasional sifatnya dengan doktrisn-doktrin agama, khususnya Kristiani.
Dengan demikian, bila kita strukturkan pemikiran filsafat Yunani (Klasik), dilaihat dari kecenderungan dan akar persoalan yang dibahas, dapat disistematisikan (disimpulkan) sebagi berikut:

1. Logika

  • Kategori-kategori
  • Interpretasi (penafsiran)
  • Analitika apriora
  • Analitika aposteriora
  • Topika (jadal)

2. Filsafat Alam

  • Fisika
  • Perihal Langit
  • Kelahiran dan Musnahnya Makhluk Biologis
  • Meteorologi

3. Psikologi

  • De Anima (jiwa)
  • Prisnsi-prinsip Alamiah Jiwa
  1. Panca indera dan objeknya
  2. Ingatan dan pengingatan
  3. Tidur
  4. Mimpi
  5. Tenung
  6. Usia
  7. Perihal kehidupan dan kematian
  8. Tentang nafas

4. Biologi

  • Anatomi binatang
  • Gerak binatang
  • Jalan binatang
  • Kejadian binatang

5. Metafisika (filsafat pertama, theologia)
6. Etika

  • Etika Nicomachae
  • Moral

7. Politik

  • Politik
  • Ekonomi

8. Retorika dan Puisi (poetica)

  • Poetika
  • Retorika

Aristoteles sebagai seorang realisme yang menggunakan metode empirismenya, telah mengawali melakukan derivasi pengetahuan filsafat yang rasional-spekulatif (teoritis) menjadi pengetahuan-pengetahuan praktis, seperti kedokteran, logika (dari filsafat berpikir menjadi seni dan metode berpikir), seni berbicara (retorika).
Diantara pemikiran para filosof Yunani (Klasik) yang terdokumentasikan hanyalah Sokrates (yang ditulis Plato), Plato dan Aristoteles, dan Plotinus (era Agama). Tema-tema yang dibahas oleh Socrates dan Plato secara garis besar juga dibicarakan oleh Aristotes (dengan metode, isi dan pemikiran yang berbeda)
Bila melihat persoalan khususnya wilayah jelajah pemikiran filsafat yang dilahirkan dari era pertama kelahiran filsafat ini, tampak bahwa sistem pengetahuan yang terbentuk dan dibangun pada umumnya masih berada dalam tataran teoris, filsafat murni, spekultatif-rasional. Baru beberapa sistem pengetahuan yang telah mewujud sebagai suatu disiplen pengetahuan praktis, emprikal.

Sejarah Filsafat Islam dan Aktivitas Filosofinya

Kultur berpikir bebas dan rasional di Dunia Islam (masyarakat Muslim) telah tumbuh semenjak masa Rasulullah. Terdapat sejumlah kondisi yang mendukung dan memungkinkan umat Islam ketika itu berpikir “bebas” dan rasional, antara lain:
1. Tuntutan dan tantangan dari al-Qur’an,
2. Perintah dan peluang yang diberikan nabi pada sejumlah sahabat dan umat Islam pada umumnya.
3. Terjadinya interaksi yang sangat dinamis dan terbuka dengan sejumlah penganut aga yang berbeda. Hal ini sangat dimungkinkan karena Makkah sebagai jalur lalulintas perdagangan (ekonomi) .

Dengan demikian secara garis besar, tuntutan berpikir bebsa dan rasional ini dalam hubungannya dengan sistem ajaran Islam secara langsung, ada dua hal, perama karena tuntutan al-Qur’an dan Nabi. Kedua, tuntutan untuk mempertahankan dan membersihkan ajaran dan akidah Islam dari serangan sistem keyakinan lainnya.
Pada perkembangan selanjutnya, perkembangan berpikir umat Islam semakin berkembang setelah Rasulullah wafat. Hal ini dikarenakan munculnya tuntutan yang semakin kuat dari persoalan-persoalan yang dihadapi umat Islam, sementara Rasul sudah tidak lagi berada diantara mereka.
Perkembangan pemikiran mereka semakin menemukan bentuknya yang jelas dan sistematis setelah munculnya aliran Kalam dalam islam dan masuknya pemikiran filsafat dari Yunani, terutama setelah dilakukannya penterjemahan-penterjemahan buku-buku filsafat Yunan tersebut. Tradisi berpikir rasiona, dalam berbagai aspek, semakin merebak ketika metode dan perenungan filsafat dijadikan sebagai metode dalam memahami dan memecahkan persoalan-persoalan keagamaan. Akumilasi dari aktivitas tersebut, lahirlah sejumlah disiplin ilmu dalam Islam, baik (khususnya) yang berhubungan persoalan-persoalan keagamaan, maupun yang berhubungan dengan persoalan-persoalan sosial, politik dan budaya umat Islam.
Dari catatan sejarah yang terungkan, Al-Kindi, menurupakan orang Islam pertama yang secara serisu melakukan penterjamahn-penterjemahan serta melakukan pengulasan terhadap pemikiran filsafat Yunani tersebut. Upaya ini selanjutnya diikuti dan dilakukan oleh filosuf Islam sesudahnya.
Hal yang belum pernah dilakukan oleh filosuf sebelumnya (temasuk oleh Plotinus), adalah upaya untuk mencari titik temu dan “menggabungkan” antara pemikiran Aristotelian dan Platonian, yang baik secara epistemologis maupun ontologis berbeda bahkan bertentangan. Kemampuannya ini, semakin tampak dalam melakukan “rekonsiliasi” antara filsafat, kalam dan Agama. Rekonsiliasi antara Filsafat dengan Kalam, mungkin tidak dinggap terlalu istimewa, karena dalam filsafat Yunani pun terdapat tema-pembicaraan tentang Tuhan dengan pendekatan yang tidak terlalu berbeda (rasional). Akan tetapi melakukan “rekonsiliasi” antara agama dengan filsafat (filsafat Idelaisme dan realisme yang juga, berbeda bahkan bertentangan) bukanlah hal yang mudah dan bisa dianggap sepele.
Sebagi ilustrasi, Plotinus yang mencoba melakukan rekonsiliasi antara agama (Kristiani) dengan filsafat Yunani, ia harus (hanya) menerima secara filsafat Idealismenya Plato dengan sejumlah modifikasi yang kreatif, namun harus menolak secara total filsafat Realismenya Aristoteles.
Para filosof Muslim melakukan sejumlah modifikasi dan pengambangan yang sangta kreatif terhadap pemikiran filsafat Yunani, bahkan bukan hanya pemikiran filsafat Plato dan Aristo saja akan tetapi juga dari para filosof sebelumnya, termasuk Plotinus sebagai pengukut dan pembaharu pemikiran-pemikiran Plato.
Dengan demikian, apabila aktivitas “philosophying” (berpilasafat) yang dilakukan oleh para filosof Muslim, mengingat tradisi berfisafat mereka juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Yunani, bila tanpan melakukan sejumlah modifikasi kreatif, adalah sesuauu hal yang sangat mustahil untuk dilakukan. Padahal mereka tidak hanya mengambil satu aliran dengan menolak aliran lain yang belawanan.
Modofikasi kreatif yang dilakukan oleh para filosof Muslim ini antara lain:
1. Memunculkan term-term berbahasa Arab yang sertara maknanya dengan term-term yang digunakan dalam tradisi filsafat Yunani. Yang adalah juga disesuaikan dengan term-term yang dikenal dan dugunakan dalam terma-terma “keagamaan” (bahasa religius) dalam tradisi Islam.
2. Menyelaraskan dan mencari garis merah kesamaan antara sejumlah pemikiran filsafat Yunani yang selama dini dianggap bertentangan.

Selanjutnya bukan hanya modifikasi yang dilakukan oleh mereka, akan tetapi juga mereka melakukan suatu kerja besar, yang hanya bisa dilakuakn oleh oirang setingkat Aristoteles, yaitu melakukan pengembangan baik dalam metodelogi maupun wilayah pembicaraan (diskursus) filsafatnya. Juga telah mampu melahirkan sejumlah disiplin ilmu. Baik ilmu-ilmu yang secara langsung berhubungan dengan kepentingan dalam memahami dan mengamalkan alqur’an (ajaran Islam), maupun disiplin yang leboh banyak berhubungan dengan kepentingan-kepentingan bagi kesejahteraan masyarajat, baik kedokteran, ilmu-ilmu sosial, ekonomi, astronomi, kimia, fiska, amtematika, hinga peroslan-persoalan yang berhubungan dengan seni dan teknologi lainnya.

Struktur Filsafat Islam

Pada awalnya, bisa dimaklumi, bahwa sistem pengetahuan dalam Dunia Islam belum memliki struktur yang jelas, khususnya struktur pengetahuan filsafatnya. Struktur pengetahuan ini, seperti halnya juga struktur dan sistematika pengethuan filsafat Yunani, terjadi secara alamiah. Tersusun bersamaan dengan perjalanan waktu dan kreativitas dari pra filosofnya dan ilmuwannya.

Untuk bisa melihat dan membangun struktur pengetuan filsafat Islam, bisa dilakukan denagn menginventarisis tema-tema persoalan yang menjadi temaga atau subjek garapan pemikiran mereka. Dan untuk mengetahui tema bahasan yang mereka bahas, bisa dilakukan dengan mengetahui karya-karya yang telah mereka hasilkan. Yaitu karya yang tertulis (baik lengkap atau tidak karena persoalan usia buku dan penyimnanannya), sebagai karya yang autentik, bukti dari kreativitas mereka. Namun demikian terdapat pula persoalan yang agak rumit, karenaterlalu banyak karya-karya mereka yang hilang sehingga tidak bisa diinfentarisir secara lengkap. Diantara karya-karya yang paling banyak hilang. Diantara cara yang paling memungkinkan adalah dengan mengungkap pembagian ilmu yang dilakukan oleh para filosof sendiri.

Diantara para filosof awal, khususnya al-Kindi dan al-Farabi, sangat karya-karya berupa terjemahan dan komentar mereka terhadap para filosof Yunani, khususnya terhadap Aristoteles, Plato dan Plotinus. Dalam kesempatan ini akan dikemukakan tiga filsuf yang membahas struktur ilmu filosofis. Yang pertama adalah Abu Hasan al-Amiri, filsuf yang mencoba menggambarkan struktur ilmu yang berkembang pada abad IV Hijriyah dalam peradaban Islam. Ia tidak mengemukakan struktur yang diyakininya. Kemudian al-Farabi, dengan strukturnya sendiri yang memenangkan ilmu-ilmu filosofai. Dan terakhir, al-Ghazali yang memenangkan ilmu-ilmu religius.
Al-Farabi, dalam Ihsan’ Al-ulum, membagi pengetahuan (filsafat) pada tujuh bidang. Yaitu antara lain: (1) Linguistik, (2) Logika, (3) Matematika/ Propaedatik, (4) Fisika, thabi’iyat, (5) Metafisika, (6) Politik, dan (7) Yuridis, hukum.

Pembagian pengetahuan ini cukup unik, karena contohnya ilmu musik yang sangat terkenal dari al-Farabi dimasukan dalam cabang ilmu matematika. Dalam sistem pembagian pengetahuan ilmu-ilmu modern, musik ini merupakan cabang dari pengetuahuan humaniora , walau pun teori-teori tentang glombang dan suara dibahas dalam pengetahuan alam (fisika glombang). Al-Faribi tidak memasukkan ilmu kedokteran atau ilmu tentang makhluk-makhluk hidup dalam pembagian pengetahuan tersebut. Hal ini dimungkinkan karena al-Farabi tidak banyak berbicara dan mengulas tentang tema tersebut. Hanya satu karya yang berhubungan dengan hal tersebut, yaitu Kalam fi adha’ al-hayawan (wacana tentang Oragan-organ Binatang).

Selain logika, fisika serta bahasa yang menjadi garapan penting dari al-Farabi, Metafisika merupakan garapan yang sangat mendapat perhatiannya. Diantara karya terbesarnya adalah “Fushush al-Hikam” (permata kebijaksanaan). Bila dibuat struktur dan bagiannya dari pembagian pengetahuan al-Farabi, dapat dibuat sebagai berikut:

A. Klasifikasi dan Struktur Ilmu Menurut Abu Hasan Al-Amiri (Wafat 381 H/992 M)

Klasifikasi dari Amiri ini berdasarkan al-Ilm bi-al-manaqib al-Islam (dalam Lampiran I) menggambarkan pertentangan yang kuat antara agama dan filsafat, atau antara logika dan bahasa (ulum hikmiyyah dan ulum milliyah). Pembagian ini merupakan gambaran penstrukturan ilmu pada abad IV H. Suatu zaman yang berisi perseteruan yang saling menyalahkan. Misalnyakaum haswiyyah menganggap ilmu-ilmu filsafat, “hanya mengandaung kata-kata melambung, berbagai penamaan indah, dihiasai pengertian sinkretis untuk menipu orang awam, yang lugu, merangsang kekaguman orang dangkal yang tak berpengalaman.” Mengikuti ungkapan ini, misalnya, beberapa ahli teologi meremehkan logika karena mereka hanya melihat di dalamnya “suatu terminologi kabur, nama-nama aneh”. Al-Amiri, walaupun membuat klasifikasi yang terpisah, mencoba untuk mengemukakan bahwa filsafat tidak seburuk yang diduga kaum haswiyyah itu. Ia mengatakan bahwa di dalam filsafat “melahirkan ajaran-ajaran yang sesuai dengan ajaran yang sesuai dengan nalar murni, yang ditegaskan dengan pembuktian yang benar sesuai dengan ajaran ilmu-ilmu agama” (hal. 87) . Dan Logika bagi Amiri adalah:

“Suatu alat rasional yang memungkinkan jiwa bernalar untuk membedakan sepenuhnya yang benar dari yang salah (haqq/batil) di dalam bidang-bidang spekulatif, yang baim dan yang buruk (khair/syarr) di dalam bidang-bidang praktis. Bagi jiwa-jiwa yang menggunakannya, logika berkedudukan sangat dekat dengan kedudukan kriteria (mi’yar) keadilan yang memungkinkan untuk menimbang berbagai pengetahuan. Logikalah yang berhenti pada pertanyaaan dan jawaban, pada sanggahan, kontradiksi dan penolakan sifistis (mugalatah). Lebih dari itu logikalah yang memungkinkan untuk menyelesaikan berbagai ketaksaan, membuka tabir sofisme (tamwihat) dan pengertian (ma`ani) lain-lain yang lazim dengan melakukan pemeriksaan kembali berbagai pernyataan. Di samping itu, logika memberikan bagi mereka yang menggunakannya, suatu kesenangan intelektual murni; jiwa jadi mempercayai sedemikian rupa pengetahuan-pengetahuan sehingga ia sendiri menjadi suatu kekuatan pengimbau ke arah pemerolehan hikmah bukan untuk mendapat pujian dari ornag lain, melainkan untuk menikmati kebahagiaan karena melalui jalan itu mencapai kebenaran dan roh yakin (ruh al-yakin) itu sendiri:”.

Pada kasus ini terlihat bagaimana ilmu agama dan filsafat dipisahkan sebagai sesuatu yang tidak saling kenal. Usaha Amiri baru pada pendamaian anggapan terhadap filsafat dan logika sebagai sesuatu yang berguna juga bagi penghayatan agama. Amiri, bagaimanapun, tidak bisa lepas dari pandangan umum masyarakat Islam abad IV H.

Struktur yang terlihat di atas memperlihatkan bagaimana ilmu-ilmu fiqh, Kalam, Hadits, dan Adab merupakan turunan dari ilmu bahasa dan tidak berkaitan dengan logika. Demikian sebaliknya, ilmu metafisika, matematika dan lainnya tidak berhubungan dengan ilmu bahasa. Inilah barangkali yang menyebabkan kecenderungan pemikiran skripturalis dalam Islam berkembang pesat atau juga struktur pengajaran di pesantren terpaku pada ilmu bahasa yang beku.

B. Klasifikasi dan Struktur Ilmu Menurut Al-Farabi (wafat 339 H/950)

Dalam Ihsha al-Ulum Al-Farabi mengemukakan klasifikasi dan perincian sebagai berikut :
I. Ilmu Bahasa yang terdiri dari:

  • (1) Lafal sederhana (alfadz mufradah)
  • (2) Lafal tersusun (alfadz murakabah)
  • (3) Kaidah-kaidah yang mengatur lafal sederhana
  • (4) Kaidah yang mengetaur lafal tersusun
  • (5) Penulisan yang benar
  • (6) Qiraat
  • (7) Kaidah puisi

II. Logika, terbagi dalam:

  • (1) Kaidah tentang aturan pengemukaan gagasan sederhana tentang pengetahuan
  • (2) Kaidah yang mengatur pembuatan proposisi sederhana yang tersusun dari dua atau lebih pengetahuan sederhana
  • (3) Kaidah silogisme
  • (4) Kaidah bukti demonstratif
  • (5) Kaidah seni dialektika dan pencarian bukti-bukti dialektis
  • (6) Kaidah kesalahan berpikir
  • (7) Seni retorika
  • (8) Seni puisi

III. Ilmu Matematik (ulum al-ta`alim), yang terdiri dari

  • (1) Aritmatika
  • (2) Geometri
  • (3) Optilka
  • (4) Ilmu perbintangan (Astrologi dan Astronomi)
  • (5) Musik
  • (6) Ilmu tentang berat (ilm al-atsqal)
  • (7) Teknik (ilm al-hiyal)

IV. Fisika

  • (1) prinsip benda alami
  • (2) prinsip unsur dan benda sederhana
  • (3) penciptaan dan penghancuran benda
  • (4) Reaksi benda-benda
  • (5) Sifat-sifat benda senyawa
  • (6) Mineral
  • (7) Tumbuhan
  • (8) Binatang, termasuk manusia

V. Metafisika, yang berkaitan dengan

  • (1) Wujud-wujud dan sifat-sifat esensialnya sejauh mereka adalah wujud
  • (2) Peinsip demonstrasi dalam ilmu-imu teoritis tertentu
  • (3) Wujud-wujud non-fisik mutlak

VI. Ilmu Politik, Hukum, dan teologi dialektis:

  • A. Ilmu Politik
    • (1) Kebahagiaan dan kebajikan manusia
    • (2) Etika dan teori politik
  • B. Hukum
    • (1) Rukun Iman
    • (2) Ritus-ritus, praktik religius, dan perintah moral
  • C. Teologi Dialektis
    • (1) Rukun Iman
    • (2) Aturan-aturan religius

Susunan ilmu yang dikemukakan Al-Farabi inimenjadikan logika dan ilmu-ilmu filosofis dikenal lebih baik dan diterima lebih meluas di kalangan kaum Muslim. Klasifikasi ini merupakan upaya untuk memunculkan pentingnya filsafat dan memunculkan superioritas ilmu filosofis tinimbang ilmu religius. Misalnya saja, al-Farabi dalam klasifikasi ini, memang memasukkan fiqh dan kalam namun dalam kitab al-Ihsa tidak dibahas secara mendalam.

Alasan pemilahan yang merendahkan ilmu religius ini adalah uji metodologis. Suatu ilmu lebih tinggi derajatnya bila memiliki metodologi yang baik. Dan uji metodologi bagi al-Farabi berarti suatu tinjauan atas logika. Karen itu bagi al-Farabi logika itu dibutuhkan bagi siapa saja yang tidak ingin mendasari keyakinannya pada opini semata-mata. Kaidah-kaidah logika, dengan demikian, dibutuhkan bagi kebenaran dan kehdandalan pengetahuan dalam ilmu.

Sekali lagi, al-Farabi menekankan superioritas ilmu filosofis dibanding dengan ilmu religius. Ilmu Ilahi al-Farabi, misalnya yang didapat dengan uji logika, dikatakan menawarkan pengetahuan meyakinkan tentang Tuhan dan wujud-wujdu spiritual lainnya. Sedangkan kalam dan Fiqh paling-paling hanya menghasilkan derajat “mendekati keyakinan” dalam pengetahuan tentang Tuhan dan wujud-wujud spiritual tersebut.Lebih jauh mengenai logika sebagai dasar metodologis suatu ilmu, al-Farabi meletakkan logika sebagai penengah antara ilmu filosofis dan ilmu bahasa. Logika bukan bagian dari ilmu filosofis, logika merupakan alat atau instrumen ilmu-ilmu filosofis. Tetapi logika juga merupakan suatu ilmu. Pada posisinya sebagai ilmu inilah, ia menjadi penengah. Karena bagi pandangannya ketiganya berkaitan dengan makna tetapi dalam bentuk dan tingkat yang berbeda. Pengetahuan atau makna hal-hal yang dikaji di bawah ilmu filosofis mewujudkan diri pada tingkat ucapan batin (al-nuthq al dakhil) dan pada tingkat “yang lebih rendah” dari ungkapan kebahasaan atau ucapan lahir (al-nuthq al-kharij). Logika dihubungkan dengan kedua ucapan itu, tetapi terutama dengan jenis pertama. Ilmu kebahasaan terutama berhubungan dengan ucapan lahir.

Walaupun demikian, al-Farabi menyatakan bahwa logika dan ilmu kebahasaan adalah dua ilmu yang saling terkait erat. Dia mencatat bahwa hubungan dekat keduanya tercermin dalam bahasa Arab itu sendiri. Kata untuyk logika dalam bahas Arab, manthiq, secara etimologis berkaitan dengan kata untuk ucapan, nuthq. . Al-Farabi menganggap logika sebagai sejenis tata bahasa universal yang keabsahannya menyebar luas ke seluruh ras manusia. Dia memberi dua alasan dalam pandangannya ini. Pertama, logika berkenaan dengan pikiran atau ucapan dalam hati, yang dimiliki semua manusia. Kedua, logika hanya berminat pada lafal yang umum terdapat pada setiap bahasa segenap komunitas. Sedangkan tata bahasa, dia membicarakan gambaran yang dimiliki suatu bahasa tertentu yang juga dimiliki bahasa dari komunitas lainnya. Tetapi dia tidak mengkajinya sebagai gambaran-gambaran umum.

Hirarki Al-Farabi ini, berhasil mengemukakan filsafat sebagai pusat bagi struktur ilmu-ilmu dalam khazanah keilmuan Islam, namun sisi lain gagal meletakkan ilmu-ilmu religius dalam derajat yang sama. Misalnya kalam dan fiqh masih dianggap bagian dari bahasa dan tidak dicobakaitkan dengan logika tertentu.

C. Klasifikasi dan Struktur Ilmu Menurut Al-Ghazali (Wafat 505 H/1111 M)

Al-Ghazali membagi struktur ilmu menjadi dua bagian, Ilmu Religius dan Ilmu Intelektual. Ilmu agama adalah “ ilmu-ilmu yang diperoleh dari nabi-nabi dan tidak hadir pada mereka melalui akal, seperti aritmetika, atau melalui percobaan, seperti kedokteran, atau dengan mendengar, seperti bahasa”. Ilmu bahasa sebenarnya tidak termasuk dalam kategori ilmu agama, namun karena ia bersifat mengantarkan seseorang untuk menguasai ilmu agama maka ia dimasukkan dalam kategori ilmu agama. Sedang ilmu intelektual adalah ilmu yang dicapai atau diperoleh melalui intelek manusia semata .

I. Ilmu Religius

  • A. Ilmu tentang prinsip-prinsip dasar (al-ushul)
    • 1. Ilmu Tauhid
    • 2. Ilmu tentang Kenabian
    • 3. Eskatologis
    • 4. Ilmu tentang sumber pengetahuan religius, primer (al-Qur`an dan Sunnah) dan Sukunder (ijma dan atsar sahabat)
      • a. Ilmu pengantar atau ilmu alat: kebahasaan
      • b. Ilmu pelengkap yang terdiri dari:
        • (1) Ilmu-ilmu Qur`an, misalnya tafsir
        • (2) Ilmu-ilmu tentang tradisi nabi, semisal Hadits
        • (3) Ushul Fiqh
        • (4) Biografi yang berhubungan dengan nabi, sahabat dan orang terkenal
  • B. Ilmu tentang Cabang (furu`)
    • 1. Ilmu tentang kewajiban manusia terhadap Tuhan (ibadah)
    • 2. Ilmu tentang kewajiban manusia kepada masyarakat, terdiri dari:
      • a. ilmu transaksi (bisnis, keuangan dan qisas)
      • b. Ilmu kontraktual
    • 3. Ilmu tentang kewajiban manusia kepada jiwanya sendirin(akhlaq)

II. Ilmu-ilmu Intelektual

  • A. Matematika
    • (1) Aritmatika
    • (2) Geometri
    • (3) Astronomi dan astrologi
    • (4) Musik
  • B. Logika
  • C. Fisika dan Ilmu Alam
    • (1) kedokteran
    • (2) metereologi
    • (3) minerologi
    • (4) kimia
  • D. Ilmu tentang Wujud di luar Alam (metafisika)
    • (1) ontologi
    • (2) pengetahuan tentang esensi, sifat dan kerja Tuhan
    • (3) pengetahuan tentang substansi sederhana
    • (4) ilmu tentang kenabian dan fenomena kewalian, ilmu tentang mimpi
    • (5) teurgi, ilmu yang menggunakan kekuatan-kekuatan bumi untuk menghasilkan efek tampak seperti supernatural.

Al-Ghazali selain membedakan ilmu dalam dua bagian di atas, juga membagi ilmu dalam dua kategori kewajiban. Maksudnya, bagi al-Ghazali, ada perbedaan tingkat kewajiban untuk dikuasai antara keduanya: fardhu `ain dan fardhu kifayah.

Al-Ghazali mengemukakan bahwa seluruh ilmu-ilmu agama bersifat fardhu `ain kecuali ada beberapa yang fardhu kifayah. Antara lain (1) ilmu-ilmu tentang sumber-sumber pengetahuan religius dan (2) ilmu tenteng yusrisprudensi. Contoh lainnya yang kifayah adalah Kalam. Sedang ilmu-ilmu intelektual, bagi al-Ghazali dalam Ihya` tidak satupun yang fardhu `ain, kecuali beberapa bagian dari metafisika yang berhubungan dengan keesaaan Tuhan.

Tentang ilmu intelektual farddhu kifayah al-Ghazali menyebutkan secara ekspilisit hanya aritmatika dan kedokteran saja. Logika disebutkan secara implisit, dalam kaitannya dengan ilmu Kalam. Karena bagi al-Ghazali, logika bermanfaat bagi penalaran kalam. Dan ada juga ilmu-ilmu yang mubah, yaitu ilmu geometri, astronomi, musik, dan ilmu-ilmu fisik. Sedang ilmu tercela bagi al-Ghazali adalah astrologi.

Dari pembagian ini, dapat disimpulkan bahwa al-Ghazali membagi ilmu-ilmu dalam kerangka etis. Dan juga masih memandang logika atau filsafat sebagai yang terpisah dan tak ada hubungannya dengan ilmu-ilmu agama. Paling banter, bagi al-Ghazali, logika bisa membantu ilmu kalam, dan kalam hanyalah fardhu kifayah belaka. Kerangka etis pembagian ilmu ini diperparah dengan dibaginya ilmu menjadi ilmu hushuli dan laduni. Yaitu pembagian berdasarkan cara mendapatkannya, yang pertama didapat dengan cara perolehan bersifat tak langsung, rasional, logis, dan diskursif. Sedang ilmu kedua, diperoleh secara langsung dari Tuhan, serta merta, supra-rasional, dan kontemplatif. Pembagian cara perolehan ilmu ini tidak disertai keterangan tentang mana saja dari ilmu-ilmu tersebut yang bisa diperoleh secara laduni dan atau husuhuli.

 

Analisis

Ketiga struktur ilmu yang dikemukakan filsuf muslim di atas telah memperlihatkan upaya penyatuan ilmu-ilmu religius dan ilmu-ilmu non-religius. Namun penyatuan tersebut ternyata tidak diiringi dengan dialogi yang layeut antara kedua ilmu itu. Logika dan bahasa menjadi dua seteru yang saling mengalahkan dan dikalahkan. Sehingga dalam perkembangan selanjutnya ilmu agama tetap menjadi ilmu yang terpisah dari kajian kritis filsafat dan sebaliknya.

Fenomena ini bagi Mohammed Arkoun, menyebabkan sejarah [emikiran Islam terjebak pada dogmatisme yang menghasilkan sejumlah muqalid besar. Walaupun, misalnya, tidak bisa dipungkiri bahwa ada juga pengaruh filsafa (logika rasional) pada pemikiran di luar filsafat semisal pada fiqh. Seperti munculnya karya Hukum sistematis yang dirintis al-Syafi`I (w. 204/819M) dengan rumusan tentang Ushul fiqhnya. Namun, usaha Syaf`ii ini boleh dikatakan gagal, karena ia sendiri lebih cenderung kepada kemandekan yang dogmatis. Filsafat sebagai Ulum Aqliyyah secara peyoratif dianggap sebagai ulum Dakhliyah (Ilmu-ilmu Asing) –karena datang dari luar— yang dihadapkan dengan tuan rumah Ulum Diniyyah.

Hal ini disebabkan karena, ummat Islam terkungklung dalam logosentrisme. Yang menganggap teks al-Qur`an sebagai wakil dari kehadiran Tuhan. Karena Tuhan sakral maka mushaf al-Qur`an pun suci yang tidak bisa diganggu oleh penalaran rasio manusia. Sehingga pemikiran yang berkembang cenderung membeda-bedakan, mensistematisir dan menfgkotak-kotakkan objek kajiannya. Selain itu, pemikiran demikian juga cenderung bersikap apologis, kaku, dan mengabaikan matra historis setiap karya. Akibatnya rasio (filsafat) hanya diterima sebatas pelayan bagi credo. “Nalar, dengand emikioan, menegaskan suatu keunggulan metodologis, namun itu demi membuatnya berguna bagi credo”.

Ungkapan Arkoun ini dalam sejarah pemikiran Islam terbaca ketika filsafat dikalahkan dalam oleh pemikiran jenis al-Ghazali. Ia hanya menjadi ilmu nomor dua dan tak pernah bisa mensintesa dalam pemikiran ilmu-ilmu agama. Ini berimplikasi pada pemikiran Islam yang melulu doktriner selama berabad-anad. Implikasi lainnya, kaum Muslim cenderung untuk membenarkan penafsiran kelompoknya sendiri dan mengabaikan (bahkan mencela) kelompok yang lainnya. Selain itu, kaum muslim juga tidak lagi menyadari di mana tempat wahyu Ilahi dan di mana tempat pemikiran yang merupakan hasil penafsiran atas wahyu. Akibatnya, terjadi sakralisasi atas suatu karya yang sebenarnya tidak sakral. Padahal, wahyu itu mengandung makna potensial yang terbuka, sedangkan pemaknaan yang terjelma sebagai interpretasi terhadapnya tidak lepas dari matra sosial, budaya, politik, dan sejarah, dan lainnya.

Struktur ilmu (sekaligus juga berimplikasi pada epistemologi yang terbentuk) seperti ini, yang selalu mengacu pada keabsahan transendental, telah mentelimuti pemikiran Islam. Dari sana lahirlah penyimpulan hukum syari`ah, pembagian masa sebelum/sesudah turunnya wahyu, pembagian manusia kepada Mukmin/kafir/ahl-kitab, sedangkan dunia modern (kini) tidak membutuhkan pembicaraan yang demikian karena lebih menuntut pada ilmu yang empirikal.

Karena itu, wajar jika pemikiran Islam kemudian mengalami ketertutupan. Ini terbukti dengan banyaknya apa yang disebut sebagai “yang tak terpikir” (impensable) –sesuatu yang sering luput dari perthatian para peneliti tentang Islam, karena wacana yang dipergunakan adalah wacana lama tanpa perubahan sehingga mengabaikan kemungkinan penggunaan wacana lain yang berbeda. Contoh dari “apa yang tak terpikir” itu ialah problem-problem penting filsafat yang berkembang di Barat sejak abaf ke-16. Ketika di dunia Islam tak ada lagi refleksi filsafat, problem-problem itu sama sekali tak terpikirkan. Atau, terpisahnya ilmu-ilmu agama dari ilmu-ilmu filsafat seperti dibicarakan dalam makalah ini.

Dengan demikian pembicaraan mengenai struktur baru filsafat Islam penting dilakukan, agar ilmu-ilmu dalam pemikiran Islam memiliki “ibu yang kritis” yang mengantarkan anak-anaknya pada perkembangan yang dewasa. Maksudnya, penstrukturan ini mencoba meletakkan filsafat Islam sebagai Mother of Islamic Science, sehingga seluruh ilmu dalam Islam memiliki darah kritis dan bersatu tidak saling bertentangan.

Belajar dari tiga struktur di atas, kita menemukan ketegangan sumber pengetahuan, antara wahyu sebagai sumber sakral agama dan rasio sebagai sumber metodologi ilmu-ilmu. Ketegangan itu bersumber dari logosentrisme al-Qur`an. Maka upaya pembuatan struktur baru hanya bisa dilakukan jika diawali redefinisi wahyu. Redefinisi diperlukan agar nash al-Qur`an bisa dijadikan sebagai obyek kajian ilmiah yang bisa dijamah rasio tanpa kemestian melayaninya melulu. Redefinisi ini bukan untuk melemparkan al-Qur`an sebagai barang yang tidk lagi datang dari Tuhan, namun untuk memperjelas syarat-syarat ilmiah dalam membacanya secara benar. Dengan demikian, nalar akan memiliki semacam otonomi, bahkan dalam masalah agama sekalipun.

Redefinisi ini diperlukan karena sudah lama al-Qur`an tertutup bagi penafsiran. Tidak cuma itu penafsiran yang sudah ada serta ilmu-ilmu penretanya yang dihasilkan dalam sejarah pemikiran ummat Islam pun tertutup untuk digugat. Padahal wahyu ilahi merupakan titah yang sangat luas sehingga dapat saja diberi penafsiran yang lebih kaya dan relevan bagi pemahaman manusia dalam kondisinya yang berbeda-beda.

Karena Al-Qur`an sebagai wahyu, pada dasarnya adalah fenomena lingusitik. Struktur sintaksis, semantik, dan semiotika wacana al-Qur`an menyediakan satu ruang yang demikian artikulatif untuk mengutarakan pemikiran dan isi wahyu. Wahyu dalam al-Qur`an bukan melulu monolog Tuhan yang harus diikuti tanpa peranserta manusia dan sejarahnya. Wahyu al-Qur`an berisi dialogi yang terus-menerus menuntut manusia menyertai ungkapan Tuhan. Misalnya pada penggunaan berulangkali kata “qul” (katakanlah!), mengimplikasikan sebuah dialog dalam tiga persona. Di sana terdapat (a) penutur-penulsi-pengirim (Allah), (b) penutur, penerima I yang melafalkan dengan bahasa (Nabi), dan (c) penerima II yang terakhir dari risalah (manusia, mereka). Artinya dalam kata itu ada interkasi hakiki antara Allah, alam, manusia, dan sejarah.

Jika ada interaksi hakiki antara Tuhan dan manusia (alam dan sjerahnya), maka tidaklah salah jika unsur dari diri manusia disertakan dalam pembacaan al-Qur`an, yaitu kekritisan filosofis. Dari sisi ini, kita bisa menambahkan metodologi ilmu-ilmu agama dalam pemikiran Islam yang semula melulu skripturalis (berdasarkan ilmu bahasa) menjadi bernilai kritis (dengan ilmu logika sebagai matra baru). Setelah masuknya matra baru dalam ilmu-ilmu keislaman diterima maka penstrukturan ulang filsafat Islam bisa dilakukan.

Struktur dengan matra baru itu akan disusun berdasarkan penstrukturan Francis Bacon (1561-1626). Bagi F. Bacon Filsafat meliputi tiga bidang:

  • 1. De Numine, filsafat Ketuhanan
  • 2. De Natura, filsafat tentang dunia tempat tinggal manusia
    • A. Teoritis
      • (1) Fisika
      • (2) Metafisika
    • B. Operativa (penerapannya)
      • (1) mekanika
      • (2) magika
  • 3. De Homine, filsafat Manusia

Pada Struktur Bacon tersebut, terutama bagian de natura, terlihat hubungan antara ilmu terapan dengan dasar teoritis ilmu tersebut. Metodologi ini bisa diadopsi untuk menghubungkan ilmu-ilmu keislaman yang tersebar tanpa dasar filsafat ilmunya. Seperti, dakwah, fiqh, tasawuf, politik, dan sebagainya. Sehingga misalnya kita bisa meletakkan ushul Fiqh dalam kerangka teoritis dan Fiqh dalam kerangka operativa.

Namun struktur baru ini, tidak melulu mengandalkan kekritisannya pada logika saja, tetapi juga dikaitkan dengan perkembangan ilmu-ilmu modern. Sehingga struktur baru itu bertugas mendamaikan antara logika dan ilmu bahasa, namun mencoba mensintesa antara ilmu-ilmu modern dengan ilmu-ilmu keislaman. Arkoun, misalnya, memandang perlunya kaum Muslim mengadopsi ilmu-ilmu barat modern seperti linguistik dan semiotika, sejarah, sosiologi, antropologi, dan filsafat.

Sumber: Ahmad Gibson Al-Bustomi

 

3 Responses to RESTRUKTURISASI FILSAFAT ISLAM

  1. Hiram Lueders mengatakan:

    Superior luck everyone and superior luck to DeadPixel as well.

  2. Fabiola Stavsvick mengatakan:

    This was so much fun. Many thanks for the challenge. Here’s my board

  3. Kasey Kittredge mengatakan:

    Welcome on the challenge! I’m enjoying your posts!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 204 pengikut lainnya.