PERIBAHASA

Peribahasa

Peribahasa adalah ayat atau kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan mengandungi pengertian yang tertentu seperti bidal, pepatah, dan sebagainy

Isi kandungan

Kepentingan

Peribahasa memainkan peranan yang penting dalam masyarakat di negara kita terutamanya di kalangan orang-orang Melayu. Peribahasa digunakan untuk menyampaikan sesuatu nasihat, teguran, atau ingatan secara kiasan atau sindiran.

Pada hemat saya, dengan menggunakan peribahasa banyak teguran, nasihat, dan sindiran dapat disampaikan tanpa menimbulkan rasa marah atau kecil hati pada orang lain.

Peribahasa wujud apabila masyarakat Melayu menyedari betapa susahnya untuk memberikan nasihat atau teguran secara terus-terang kepada orang lain tanpa menyinggung perasaannya. Lantas, mereka mula mengumpamakan sesuatu perkara dengan sesuatu yang lain agar maksud yang ingin disampaikan dapat ditafsirkan oleh semua orang. Seringkali perkara yang diumpamakan itu berkaitan secara langsung dengan anggota masyarakat dan alam sekeliling mereka.

Kegunaan

Umumnya, peribahasa masih terus digunakan dalam kehidupan masyarakat Melayu sehingga hari ini. Peribahasa dapat dibahagikan kepada beberapa jenis seperti simpulan bahasa, perbandingan, perumpamaan, pepatah, bidalan, dan kata-kata hikmat. Antara beberapa contoh peribahasa termasuklah “Carik-carik bulu ayam akhirnya bercantum juga”, “Masa itu emas”, “Ibarat burung, mata lepas badan terkurung”, “Bagai aur dengan tebing”, “Seperti api dalam sekam”, “Seperti anak ayam kehilangan induk”, “Hutang emas boleh dibayar, hutang budi dibawa mati”, “Bahasa Jiwa Bangsa”, “Bertepuk sebelah tangan tak akan berbunyi”, “Ukur baju pada badan sendiri”, dan “Muafakat Membawa Berkat”.

Tujuan

Sesungguhnya tujuan utama penciptaan peribahasa adalah untuk memberikan pengajaran kepada masyarakat pada zaman dahulu kala. Selain itu, peribahasa berfungsi sebagai pengawal sosial. Hal ini bermaksud masyarakat dahulu kala sering menegur anggotanya dengan cara berkias ibarat melalui peribahasa. Dengan cara demikian, orang yang ditegur tidak mudah tersinggung. Begitulah juga dengan pihak penegur yang lazimnya terdiri daripada orang tua-tua, tidak akan berasa segan untuk berbuat demikian apabila diperlukan. Misalnya, apabila seorang tua yang ingin menegur sikap bebas anak gadisnya akan menggunakan peribahasa yang berbunyi “takkanlah perigi yang mencari timba”. Dalam konteks lain pula, seorang guru akan menasihati anak muridnya yang berasa malu untuk bertanya sesuatu dengan menggunakan peribahasa ini, “malu bertanya sesat jalan, malu berdayung perahu hanyut”.

Kerelevanan

Sungguhpun kebanyakan peribahasa yang dicipta orang dahulu kala masih benar dan sahih sehingga kini, namun terdapat sebilangan kecil peribahasa tersebut yang tidak dapat diterima pakai lagi pada zaman teknologi maklumat dan komunikasi (ICT) yang serba moden dan canggih ini.

Pada pendapat saya, seboleh-bolehnya kita mengabaikan peribahasa-peribahasa tersebut yang dimaksudkan itu. Beberapa contoh peribahasa yang sudah usang dan ketinggalan zaman ialah seperti “Rezeki secupak tidak akan menjadi segantang”, “Biar mati anak, jangan mati adat”, dan “Hutang darah dibayar darah”.

Pada pendapat saya, ketiga-tiga contoh peribahasa yang dikemukakan di atas tidak dapat diterima pakai lagi kini kerana beberapa alasan seperti yang diterangkan di sini. Contoh peribahasa yang pertama jika diamalkan bukan saja dapat mematikan semangat juang seseorang individu malah akan menjadikannya seorang yang tidak menginginkan kemajuan. Sekiranya seluruh masyarakat berpegang pada fahaman sedemikian, selama itulah masyarakat tersebut akan berada di takuk lama kerana tiada kemajuan yang dapat dicapai.

Sementara peribahasa yang kedua lebih mementingkan adat daripada anak sendiri. Dalam konteks ini, masyarakat dahulu kala mementingkan kelompok daripada individu. Namun pada dewasa ini, para ibu bapa tidak sanggup lagi mengorbankan anak sendiri semata-mata untuk mempertahankan adat masyarakat. Sebaliknya, anaklah yang diutamakan daripada segala-galanya. Itulah nilai masyarakat hari ini.

Peribahasa yang ketiga pula tidak harus dipraktikkan kerana mendorong keluarga mangsa bertindak balas terhadap pembunuhnya. Sekiranya hal sedemikian dilakukan, masyarakat akan menjadi tidak tenteram. Pada masa sekarang kita mempunyai pasukan polis dan badan kehakiman, jadi biarlah mereka yang menjalankan siasatan terhadap sebarang jenayah dan manjatuhkan hukuman ke atas pesalah.

Kesimpulannya, peribahasa-peribahasa yang sudah usang dan tidak relevan dengan suasana masyarakat pada hari ini tidak seharusnya diamalkan lagi demi kesejahteraan masyarakat.

Peribahasa Indonesia sudah sering digunakan oleh masyarakat. Keanekaragaman adat-istiadat, budaya, dan bahasa di negara Indonesia berpengaruh pada perbendaharaan kalimat, yaitu Peribahasa Indonesia. Berikut ini saya akan memberikan beberapa Peribahasa Indonesia beserta arti atau maknanya.

Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang.
Hanya mau bersama saat sedang senang saja, tak mau tahu di saat sedang susah.

Menang jadi arang, kalah jadi abu.
Kalah ataupun menang sama-sama menderita.

Bagaikan abu di atas tanggul.
Orang yang sedang berada pada kedudukan yang sulit dan mudah jatuh.

Ada Padang ada belalang, ada air ada pula ikan.
Di mana pun berada pasti akan tersedia rezeki buat kita.

Adat pasang turun naik.
Kehidupan di dunia ini tak ada yang abadi, semua senantiasa silih berganti.

Membagi sama adil, memotong sama panjang.
Jika membagi maupun memutuskan sesuatu hendaknya harus adil dan tidak berat sebelah.

Air beriak tanda tak dalam.
Orang yang banyak bicara biasanya tak banyak ilmunya.

Air tenang menghanyutkan.
Orang yang kelihatannya pendiam, namun ternyata banyak menyimpan ilmu pengetahuan dalam pikirannya.

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.
Sifat-sifat anak biasanya menurun dari sifat orangtuanya.

Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi.
Menuntut ilmu hendaknya sepenuh hati dan tidak tanggung-tanggung agar mencapai hasil yang baik.

Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga.
Sepandai-pandainya manusia, suatu saat pasti pernah melakukan kesalahan juga.

Tong kosong nyaring bunyinya.
Orang sombong dan banyak bicara biasanya tidak berilmu.

Tong penuh tidak berguncang, tong setengah yang berguncang.
Orang yang berilmu tidak akan banyak bicara, tetapi orang bodoh biasanya banyak bicara seolah-olah tahu banyak hal.

Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.
Orang tua yang bersikap seperti anak muda, terutama dalam masalah percintaan.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.
Karena kesalahan kecil, menghilangkan semua kebaikan yang telah diperbuat.

Bagaikan burung di dalam sangkar.
Seseorang yang merasa hidupnya dikekang.

Terbuat dari emas sekalipun, sangkar tetap sangkar juga.
Meskipun hidup dalam kemewahan tetapi terkekang, hati tetap merasa tersiksa juga.

Sakit sama mengaduh, luka sama mengeluh.
Seiya sekata dalam semua keadaan.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.
Segala sesuatu dalam kehidupan bukan manusia yang menentukan.

Barangsiapa menggali lubang, ia juga terperosok ke dalamnya.
Bermaksud mencelakakan orang lain, tetapi dirinya juga ikut terkena celaka.

Jauh di mata dekat di hati
Dua orang yang tetap merasa dekat meski tinggal berjauhan.

Seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul.
Seberat apapun penderitaan orang yang melihat, masih lebih menderita orang yang mengalaminya.

You might also like:

Badan boleh dimiliki, hati jangan.
Ungkapan bahwa orang tersebut sudah memiliki kekasih, hatinya sudah ada yang memiliki.
Secara fisik mau menuruti segala macam perintah yang menindas, namun di dalam hati tetap menentang.

Lain di bibir lain di hati.
Perkataan yang tidak sesuai dengan kata hatinya, tidak jujur.

Seperti lebah, mulut bawa madu, pantat bawa sengat.
Berwajah rupawan namun perilakunya jahat.

Ada harga ada rupa.
Harga suatu barang tentu disesuaikan dengan keadaan barang tersebut.

Membelah dada melihat hati.
Ungkapan untuk menyatakan kesungguhan.

Sedap jangan ditelan, pahit jangan segera dimuntahkan.
Berpikir baik-baik sebelum bertindak agar tidak kecewa.

Karena mata buta, karena hati mati.
Menjadi celaka karena terlalu menuruti hawa nafsunya.

Pandai berminyak air.
Pandai menyusun kata-kata untuk mencapai maksudnya.

Putih kapas dapat dibuat, putih hati berkeadaan.
Kebaikan hati yang bisa dilihat dari tingkah lakunya.

Dibujuk ia menangis, ditendang ia tertawa.
Mau bekerja dengan baik jika sudah mendapat teguran.

Jika ditampar sekali kena denda emas, dua kali setampar emas pula, lebih baik ditampar betul-betul.
Setiap perbuatan jahat itu sama saja akibatnya, meski besar ataupun kecil.

Lubuk akal tepian ilmu.
Seseorang yang dikenal memiliki banyak ilmu pengetahuan.

Nasi tak dingin, pinggan tak retak.
Orang selalu mengerjakan sesuatu dengan hati-hati.

Tolak tangan berayun kaki, peluk tubuh mengajar diri.
Belajar untuk mengendalikan diri dan meninggalkan kebiasaan bersenang-senang.

Seludang menolak mayang.
Sebutan untuk orang sombong dan melupakan orang lain yang telah berjasa dalam hidupnya.

Kalau dipanggil dia menyahut, kalau dilihat dia bersua.
Bisa menyampaikan maksud dengan cara yang tepat.

Pangsa menunjukkan bangsa, umpama durian.
Kita bisa melihat perangai seseorang melalui tutur katanya.

Ditindih yang berat, dililit yang panjang.
Kemalangan yang datang tanpa bisa dihindari.

Tertangguk pada ikan sama menguntungkan, tertanggung pada rangsang sama mengiraikan.
Suka dan duka dijalani bersama.
Keuntungan yang didapatkan dinikmati bersama-sama, kesusahan yang dialami diatasi bersama-sama juga.

Tambah air tambah sagu.
– Tambah banyak permintaannya, bertambah pula biayanya
– Bila bertambah anak, akan bertambah pula rezekinya

Sekali air pasang, sekali tepian beranjak; Sekali air di dalam, sekali pasir berubah.
– Setiap terjadi perubahan pimpinannya, berubah pula aturannya

Bagaikan api makan ilalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi.
– Orang yang tidak mampu menolak bahaya yang menimpanya

Hancur badan di kandung tanah, budi baik dikenang jua.
– Budi pekerti, amal kebaikan, akan selalu dikenang meski seseorang sudah meninggal dunia

Alang berjawab, tepuk berbatas.
– Perbuatan baik dibalas dengan perbuatan baik, perbuatan jahat dibalas dengan perbuatan kejahatan pula

Cuaca di langit pertanda akan panas, gabak di hulu tanda akan hujan.
– Sesuatu pasti akan ada identitas atau tanda khususnya

Orang mau seribu daya, bukan seribu dali.
– Jika menghendaki sesuatu, pasti akan mendapatkan jalan, jika tidak menghendaki, pasti mencari alasan

Enak makan dikunyah, enak kata diperkatakan.
– Sesuatu hal haruslah dimusyawarahkan terlebih dahulu

Hawa pantang kerendahan, nafsu pantang kekurangan.
– Hawa nafsu tidak boleh diremehkan harus dijaga sebaik-baiknya

Sekali jalan terkena, dua kali jalan tahu, tiga kali jalan jera.
– Bagaimanapun bodohnya seseorang, jika sekali tertipu, tak akan mau tertipu lagi untuk kedua kalinya

Jangan disesar gunung berlari, hilang kabut tampaklah dia.
– Hal yang sudah pasti, kerjakanlah dengan sabar tidak perlu tergesa-gesa

Sehari selembar benar, setahun selembar kain.
– Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan keyakinan dan kesabaran akan membuahkan hasil yang baik

Di mana kayu bengkok, di sana musang mengintai.
– Orang yang sedang lengah mudah dimanfaatkan oleh musuhnya

Terlalu aru berpelanting, kurang aru berpelanting.
– Segala sesuatu yang berlebihan atau kurang akan berakibat kurang baik

Menghela lembu dengan tali, menghela manusia dengan kata.
– Segala pekerjaan harus dilakukan menurut tata cara aturannya masing-masing

Lemak manis jangan ditelan, pahit jangan dimuntahkan.
– perundingan yang baik jangan disia-siakan, tetapi hendaknya dipikirkan secara dalam-dalam

Menanti-nanti bagaikan bersuamikan raja.
– Menantikan bantuan dari orang yang tidak dapat memberikan bantuan

Luka sudah hilang parut tinggal juga.
– Setiap perselisihan selalu meninggalkan bekas dalam hati orang yang berselisih, walaupun perselisihan itu sudah berakhir

Makan hati berulam rasa.
– Menderita karena perbuatan orang yang kita sayang

Untung bagaikan roda pedati, sekali ke bawah sekali ke atas.
– Keberuntungan atau nasib manusia tiada tetap, kadang di bawah dan kadang di atas

Kalau tiada senapang, baik berjalan lapang.
– Jika tidak bersenjata atau tidak bertenaga, sebaiknya mengalah

apabila ingin lengkap mengikuti peribahasa di mulai dari huruf a sampai huruf z silahkan klik disisni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 194 pengikut lainnya.