HUKUM FIQIH

PERKEMBANGAN HUKUM FIQIH

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan Nama Allah yang Pengasih Penjayang, yang telah meng­utus Nabi Muhammad s.a.w. untuk menjampaikan agama yang hak, memberi petunjuk kejalan kebaikan kepada segenap manusia, untuk penghidupan didunia dan ke8elamatan diachirat.

Hukum dalam, Islam ada lima :

1.    WAJIB, ialah perintah yang mesti dikerjakan, dengan keten­tuan jika perintah tersebut dipatuhi (dikerjakan), maka yang mengerjakan, mendapat pahala; dan jika tidak dikerjakan maka ia berdosa.

2.    SUNNAT, ialah perintah (suruhan) yang kalau dikerjakan dapat pahala, dan jika tidak dikerjakan tidak berdosa.

3.    HARAM, ialah larangan keras,  dengan pengertian., kalau dikerjakan kita berdosa, dan jika tidak dikerjakan (ditinggal) kita mendapat pahala.

4.    MAKRUH, ialah larangan yang tidak keras ; kalau dilanggar tidak dihukum (tidak berdosa), dan kalau larangan ini dihenti­kan  diberi pahala.

5.    MUBAH, ialah sesuatu yang boleh dikerjakan dan boleh pula ,ditinggalkan. Yaitu kalau dikerjakan tidak berpahala dan tidak pula berdosa dan kalau ditinggalkan tidak berpahala dan tidak berdosa.

Dalil Fiqh ialah : 1. Qur’an, 2. Hadist, 3. Ijma’ mujtahidin’ 4. Qias. Ada pula setengah Ulama menambah, lain dari keempat dalil tersebut, dengan Istihsan. Istiahlah, ‘Uruf dan istishab.

Hukum-hukum itu ditinjau dari pengambilannja menjadi empat macam :

1. Hukum yang diambil dari Nas yang tegas, yakin adanja dan  yakin pula akan maksudnja yang menunjukkan atas hukum itu.

Hukum seperti ini tetap tidak berubah dan WAJIB dijalankan oleh seluruh kaum muslimin, seorangpun tidak berhak mem­bantahnja. Seperti WAJIB sembahyang yang lima waktu. zakat, puasa, haji dan sjarat sah djual-beli dengan ridho, Kata Syafi’i, apabila, ada ketentuan hukum dari Allah s.w.t. pada suatu kejadian, WAJIBlah atas tiap-tiap muslimin mengikutinja.

2. Hukum yang diambil dari nas yang tidak yakin maksudnya ter­hadap hukum-hukum Dalam hal yang seperti ini terbukalah bagi mujtahid untuk ijtihad dalam batas memahami nas itu saja, tidak boleh melam­pami lingkungan nas itu. Para mujtahid boleh mengajukan hukum atau menguatkan salah satu hukum dengan idjtihadnja ; umpama bolehkah CHIAR MADJLIS bagi dua orang yang berjual beli atau tidak, dalam memahami hadist :

Dua orang jual-beli boleh memilih antara meneruskan jual beli atau tidak selama keduanya belum berpisah”. Mungkin yang dimaksud dengan berpisah dalarn hadist, berpisah badan atau berpisah pembicaraan, yang dimaksud ijab dan qabul, dan se­perti wajib menjapu semua, kepala atau sebahagian saja pada wudhu, dalam memahami ayat:

surat Al Maidah ayat 6, dan seperti tidak halal binatang yang disembelih dengan semata-mata tidak membaca bismillah dalam me­mahami hadist:

3. Hukum yang tidak ada nas, tetapi pada suatu masa telah sepakat (ijmak) mujtahidin atas

hukumnja.

Seperti pusaka ibu bapak 1/6 (seperenam) dan batalnya perkawinan seorang muslimah dengan laki-laki bukan muslim disini tidak  ada jalan untuk ijtihad, bahkan wajib atas umat muslim mengakui dan menjalankannja karena hukum yang disepakati oleh Mujtahidin itu adalah hukum untuk umat seluruhnja dan umat itu menurut sabda Rasulullah s.a.w. tidak akan sepakat atas sesuatu yang sesat.

Mujtahidin itu merupakan Ulil-amri dalam mempertimbang­kan, sedang Allah s.w.t. menjuruh umatnja mentaati Ulil-amri. Sungguhpun begitu kita WAJIB mengetahui betul-betul bahwa pada hukum itu telah terjadi ijma’’ (sepakat) Ulama mujtahidin, bukan hanja semata-mata didasarkan kepada sangkaan yang tidak dengan penjelidikan yang  teliti.

4. Hukum yang tidak dari nas,  baik QATH’I ataupun ZHANNI dan tidak pula  ada  kesepakatan mujtahidin atas hukum itu.

Seperti banjak menghiasi kitab-kitab fiqh mazhab yang kita lihat diwaktu ini.hukum seperti ini adalah buah dari pendapat salah seorang mujtahid menurut asas (cara) yang sesuai dengan akal pikirannja dan keadaan dilingkungan masing-masing, diwaktu terjadinya peristiwa itu. Hukum-hukum seperti ini tidak tetap, mungkin berubah dengan berubahnja keadaan atau tinjauan masing-masing. Maka mujtahid dimasa itu atau sesudahnja berhak membantah serta menetapkan hukum yang lain, sebagaimana, mujtahid pertama telah, memberi (menetapkan) hukum itu sebelumnja dan iapun dapat pula mengubah hukum itu dengan pendapatnja yang lain dengan tinjauan yang lain, setelah diselidiki dan diteliti kembali pokok-pokok pertimbangannja. Buah dari idjtihad seperti ini tidak WAJIB atas seluruh muslimin menjalankannja, hanja WAJIB atas mujtahid itu sendiri dan atas orang yang minta fatwa kepadanja, selama pendapatnja itu belum diubahnja. Jadi pengambilan hukum yang wajib diikuti oleh semua kaum muslimin hanja Qur’an, Hadist Mutawatir yang qathi dilalah dan Idjmak Mujtahidin.

Pada masa Rasullulah s.a.w. masih hidup segala sesuatu beliau pimpin sendiri. peristiwa yang terjadi langsung mendapat putusan dari beliau. Sahabat-sahabat senantiasa beliau beri petunjuk; ayat AI-Qur’an yang diturunkan Allah kepada beliau dengan perantaraan Jibril. selalu beliau ajarkan dan beliau suruh hafalkan. dan beliau suruh tuliskan pada sahabat-sahabat.Terkadang sewaktu dikemukakan kepada beliau sesuatu peristiwa beliau termenung (tidak menja­wab) karena beliau menunggu wahju dari Tuhan. setelah beliau menerima wahyu mengenai soal yang 8edanq dihadapkan kepada beliau itu, terus beliau berikan kepastian serta beliau jelaskan kepada sahabat-sahabat. Sering kali wahyu itu berisi jawaban atas pertanjaan atau peristiwa yang terjadi, serta membawa Hukum-hukum yang lain.

Rasulullah s.a.w. menerima wahju kira-kira dua puluh tiga tahun lamanja. Dalam masa itu, selesailah turunnja Kitab Sutji AI-Qur’an yang cukup mengandung segala petunjuk bagi manusia untuk ke­maslahatan dunia dan achirat. Walaupun tidak dengan secara perincian satu persatu, bahkan banjak ayat yang berupa mujmal (umum), tetapi kemudian dijelaskan  oleh Rasulullah s.a.w.  ada yang dengan lisan, ada yang dengan perbuatan dan ada pula dengan jalan membiarkannja saja. Umpama 8uatu perbuatan yang diperbuat orang didepan beliau, beliau melihat dan mengetahui sifat2 per­buatan itu, tetapi beliau diam saja tidak memberi keterangan atas hukum perbuatan itu. Diam Nabi ini jadi penjelasan bahwa per­buatan tersebut hukumnya ,mubah” (hares).

Rasulullah s,a.w. berpindah dari alam fana kealam baqa me­ninggalkan sahabat-sahabat yang banjak merupakan alim ulama, cerdik pandai. Mereka diserahi menggantikan beliau memimpin negara dan rakjat, memajukan agama, menghukum segala sesuatu dengan adil. Dengan sendirinja pengetahuan mereka tentu tidak sama, sebagian mereka merupakan alim mutachassis (spesialis) dalam suatu ilmu, ,ada yang mutachassis dalam ilmu hukum, ada yang mutachassis da­lam ilmu kenegaraan dan politik. Dan ada pula yang mutachassis dalam ilmu ekonomi, perdagangan dan seterusnja.

Yang menjadi pokok bagi mereka dalam menangani segala persoalan, mereka periksa dalam kitab sutji Al Qur’an atau hadist yang me­reka hafal. Tetapi kadanq-kadang yang mereka hadapi tidak dapat dicari nasnya dalam Al Qur’an atau hadist, ketika itu mereka saling tanja, mungkin ada hadist yang diketahui oleh yang lain, sedanq yang menghadapi peristiwa itu tidak mengetahui. Apabila ada diantara mereka jang  mengetahui hadist mengenai peristiwa itu, me­reka hukumlah peristiwa itu menurut nas hadist. Sesungguhnja begitu terkadang-kadang tidak didjumpai nas ,yang terang. Dalam hal seperti ini mereka berijtihad untuk mentjari hukum., dengan mem­perbandingkan dan meneliti ayat dan hadist yang umum, serta mem­pertimbangkan dan mensesuaikan dengan peristiwa yang terjadi; diqiaskan dengan hukum yang sudah ada, yang berdekatan dengan kejadian yang baru terjadi itu.

Dalam soal2 yang penting mereka bermusjawarah. bertukar pikiran, sedang dalam permusjawaratan itu semua didasarkan kepada dua pokok „Al Qur’an dan hadist”, sehingga permusjawaratan itu da­pat memberi putusan. Demikianlah cara mereka bekerja, seorang yang mempunjai kedudukan tinggi tak segan-segan bertanya kepada siapa­pun, walau kepada yang lebih rendah kedudukannja.

Agama Islam makin tersiar.

Negeri2 didjazirah Arab menggabungkan diri dengan pemerintahan Islam. Pada tahun 17 Hidjrah daerah Sjam dan Irak ditaklukkanya. Tahun 20 sampai 21 Hidjrah Mesir dan Persi dikalahkan dan negara Islam meluas ke Timur dan ke Barat.

Untuk kepentingan negara dan agama maka alim ulama, cerdik pandai perlu berpindah dari tempat kelahiran mereka, menuju daerah-daerah baru. Disana mereka dapati adat, pergaulan, peraturan dan peristiwa yang 8ungguh berbeda dari yang mereka alami didaerah kelahiran mereka. tiap daerah mempunjai adat, pergaulan dan per­aturan sendiri. Daerah Persi  mempunjai peraturan2 dan undang2 sendiri sebagai hasil kemajuan ilmu pengetahuan disana. Mesir dan Sjam mempunjai cara sendiri Pula, akibat peraturan dan undang2 yang diwarisinja dari peninggalan pemerintahan Rumawi. Ringkas­nja, keadaan didaerah2 baru itu jauh berbeda dari keadaan daerah yang lama. Bahkan keadaan didaerah baru itu, ada yang lebih maju dari dijazirah Arab.

Dalam menghadapi .kejadian itu, perbedaan2 antara daerah 2 baru dengan daerah2 lama, atau antara sesama daerah baru itu, alim ulama cerdik pandai perlu berusaha agar semua soal yang mereka hadapi dapat disesuaikan dengan agama Islam,,karena mereka me­ngetahui bahwa Islam bukan untuk meruntuhkan atau membuang segala yang ada dan mengganti dengan yang baru, tetapi ia memperhatikan serta menimbang segala sesuatu dengan dasar baik, serta melihat manfa’at dan mudaratnja.

Tiap2 yang baik atau maslahat dijadikan sjari’at, dan tiap-tiap yang buruk atau merusak dibuang dan dilarang mendekatinja. Sesuatu yang hanja perlu diperbaiki, ditambah atau dikurangi, diperbaikinja sehingga menjadi baik dan berfaedah untuk manusia. Sesudah di­perbaiki dijadikan syariat.

Islam telah menetapkan haji menjadi salah satu rukun Islam yang lima, sesudah dibersihkannja ia dari sifat-sifat berhala. Islam telah menetapkan hukum perkawinan, perceraian, hukum jual-beli dan beberapa urusan muamalat, setelah diatur dan diperbaiki menurut kemaslahatan. Juga Islam telah mengharamkan minuman keras dan berjudi karena kerusakan yang timbul dari keduanja lebih banjak daripada manfa’atnja. Islam telah memberikan beberapa hak bagi perempuan yang diwaktu sebelum Islam (zaman jahilijah) tidak ada.

Demikian Allah s.w.t. dan RasuINla memberi petunjuk tentang beberapa peristiwa dan adat2 yang ada dizaman jahilijah, sehingga dengan segera akal pikiran kita dapat memahami, bahwa peristiwa2 dan soal-soal yang dikemukakan kepada mujtahidin (alim ulama cerdik pandai) Apabila tidak ada nas (dari Kitab Sutji atau hadist) mereka ada hak mempertimbanqkannja serta memberi putusan yang sesuai dengan pokok sjari’at, tidak bertentangan dengan nas Al Qur’an atau hadist.

Dengan demikian dapatlah difahami hubungan antara undang2 negara yang ditaklukkan oleh Muslimin dengan figh Islam. Umpama peraturan2 dan hukum-hukum pemerintah Rumawi di Mesir dahulu banjak yang hampir sama dengan pendapat ahli fiqh di Mesir, setelah Mesir diperintah oleh pemerintah Islam. Sehingga ada orang yang mengatakan. bahwa undang2 dan peraturan pemerintah Rumawi banjak yang diambil dan dicontoh oleh ulama Islam dalam buku.fiqih mereka, begitu juga undang2 peraturan negara lain yang telah ditaklukkan oleh kaum, Muslimin. Sampai ada yang mengatakan: Sesungguhnja figh Islam, itu adalah pendapat Ulama-ulama Islam dengan mempergunakan peraturan2 atau undang2 negara yang ditaklukkan.
Sangkaan tersebut adalah sangkaan yang tidak sehat, kurang teliti  karena tidak mempelajari agama Islam lebih jauh. Ia tidak mempelajari cara-cara ulama Islam menetapkan hukum fiqh. Kalau dipelajarinja riwayat tumbuh hukum fiqh dan cara-cara Ulama menjusun hukum-hukum itu, dari mana diambil dasar pokoknja, tentu ia tidak akan berkata demikian.

Ulama dizaman sahabat sampai kezaman tabi’in dan seterusnja mengambil hukum-hukum figh bukan semata-mata dari pendapat mereka dengan melihat dan meneliti peristiwa yang ada ditengah-tengah mereka saja, tetapi sebagai .Yang telah kita terangkan diatas mereka mengambil hukum-hukum itu dari pokoknja (Al Qur’andan hadist). kaidah yang menjadi dasar dan pegangan mereka ialah: Allah s.w.t. menurunkan hukum sesuai untuk segala masa dan semua tempat hanya sebagian hukum, diambil dari nas (secara terperinci), dan sebagian diambil dari umum, ayat atau hadist. Mereka sesuaikan ayat atau hadist umum itu dengan keadaan kemaslahatan, manfaat  dan kebaikannja, baik yang bersangkut dengan diri sendiri ataupun yang berhubungan dengan umum. Sekali-kali tidaklah diizinkan mereka mengambil hu­kum, dari undang-undang yang bukan Islam atau undang-undang  yang semata-mata bikinan manusia saja.

Pusat alim ulama dan cerdik pandai dimasa sahabat tempat mengembanqkan dan mempraktekkan hukum Islam dan ilmu penge­tahuan terhadap muslimin chususnya dan terhadap umat manusia umumnja ,ialah daerah-daerah Makkah, Madinah, Koufah, Basrah, Sjam dan Mesir.

Dibawah ini kita cantumkan sebahagian nama ulama dari saha­bat Rasulullah saw. yang sungguh berjiwa besar dalam menjalan­kan dan mensiarkan hukum-hukum fiqh, yitu: Mu’az. Abdullah bin’Umar, Abdullah bin ‘Abbas, Zaid bin Nabit. Abdullah bin Masud. Abu Musa Al Asi’ari. Abu Darda!. –Ubbay bin. Shamit.. ‘Abdullah bin Amri bin ‘Ash. Mereka itu tersebar di-daerah-daerah tersebut, dibawa oleh kepentingan agama dan negara, didorong oleh rasa cinta dan taat kepada perintah Allah. Selain mereka bekerja sebagai pemerintah, mengatur keadaan negeri. menyusun dan merencanakan undang-undang dan aturan; juga mereka sebagai pendidik mengajar anak-anak dan teman,2 mereka. menghafal dan memahamkan Al’Qur’an dan hadist. Demikianlah perkembangan ilmu fiqh dari zaman sahabat sampai zaman tabiin: serta zaman yang kemudian  yang disebut zaman tabiin dan seterusnja.

MAZHAB YANG EMPAT.

Sebagaimana telah kita uraikan diatas bahwa alim-Ulama dun cerdik pandai dalam menghadapi berbagai persoalan, apabila tidak ada nash dari Al-Qur’an atau hadist mereka berijtihad untuk menetapkan hukum peristiwa itu. Hukum yang didapat oleh seseorang dengan ijtihad dinamakan mazhabnja. Ulama yang mempunjai mazhab yang terkenal, banyak, bukan hanja empat saja, seperti Nasan Basri , As tsaury, Ibnu abi Laila, Al auz’ay,Al Laitsy dan lain-lain. Mereka mempunyai Mazhab sendiri-sendiri, walaupun mazhab mereka tidak sampai   berkembang seperti mazhab yang empat. Mungkin karena kurang pendukungnja setelah ditinggalkan penjusunnja.

Adapun  mazhab yang empat, terus-menerus mendapat dukungan dari ulama Muslim sampai sekarang.  Beratus-ratus kitab telah di­tulis dan menjadi rujukan dari zaman kezaman, diatur menurut mazhab masing-masing dari beberapa Imam itu.

1.    MAZHAB HANAFI. Penjusunnja Imam Abu Hanifah. Beliau  dilahirkan pada tahun 80 Hidjrah dan meninggal dunia di Bagdad pada tahun 150 Hidjrah. Beliau beladjar di Kufah, dan disana­lah beliau mulai menjusun mazhabnja. kemudian beliau duduk berfatwa mengembangkan ilmu, pengetahuan di Bagdad. Beliau memberikan penerangan kepada segenap lapisan Muslimin, se­hingga beliau terkenal sebagai seorang alim yang terbesar dima­sa itu, mahir dalam, ilmu. fiqh, pandai mengistinbathkan hukum dari AL-Qur’an dan hadist.

Menurut riwayat yang dapat dipercaya dinjatakan, bahwa beliau adalah wadi’ ilmu fiqh (yang pertama menjusun ilmu fiqh sebagai susunan sekarang ini). Telah bergaul dengan Abu Hanifah bebe­rapa ulama, mereka pelajari mazhab itu dan mereka tulis (bu­kukan) hukum yang mereka dapat dari Beliau itu, Mereka adalah sebagai pendukung mazhab Abu Hanifah, kemudian sebagian be­sar dari mereka itu kembali menjelidiki dan memeriksa hukum-hukum tadi dengan memeriksa dalil-dalilnja serta disesuaikan dengan keadaan kefaedahan dan kemudaratannja; sehingga mereka tidak mufakat terhadap sebagian dari hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Imam tadi. Bahkan mereka,  tetapkan pula hukumn.yang me­nurut pendapat mereka yang berbeda dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Mereka inilah yang dinamakan sahabat Abu Ha­nifah, diantaranja Abu Jusuf. Muhammad bin Nasan dan Zufar. Mazhab ini banjak tersiar dinegeri Bagdad, Parsi, Bachara., Mesir, syam dan tempat-tempat lain

2.    MAZHAB MALIKI. Nama penysunnya Malik bin Anas Al Ash-bahi, beliau dilahirkan tahun 93 hijriah. dan meninggal dunia pada Bulan Safar tahun 170 Hijriah. Beliau belajar di Madinah dan disanalah beliau menulis kitab ..Al Muattha”‘ kitab hadist yang terkenal sampai sekarang. Beliau menyusun kitab tersebut atas anjuran Chalifah Manshur ketika, beliau bertemu diwaktu haji.

Beliau susun mazhab beliau atas empat dasar: ,Kitab Sutji, Sunnah Rasul, Idjma’ dan Qias”. Hanja dasar yang terakhir be­liau gunakan dalam hal-hal yang terbatas sekali, karena beliau ahli hadist. Beliau berkata: ,Sesungguhnja saja sebagai manusia bia­sa kadang2 benar kadang2 salah, maka hendaklah ,kamu periksa. dan kamu selidiki pendapattku itu, mana yang sesuai dengan sunnah ambillah!” Imam Malik ahli fiqh dan hadist., beliau terbilang paling berpengaruh dimasanja diseluruh Hidjaz; orang sebut beliau ,Saidi Fuqaha al Hidjaz” (pemimpin ahli – fiqh diseluruh daerah Hidjaz) beliau mempunjai sahabat (murid) yang banjak, diantaranja orang terkemuka Muhammad bin Idris bin Syafi’i, Al Laitsi bin Sa’ad, .Abu Ishaq Al Farazi dan lain2. Pengikut mazhab ini yang terbanjak di Tunisia, Tripoli, Maghribi, Mesir dan lain2.

3. MAZHAB SJAFII. Nama penjusunnja Muhammad bin Idris bin Syafi’i turunan bangsa Quraish. Beliau dilahirkan di Chuzzah ta­hun 150 Hijrah, dan meninggal dunea di Mesir tahun 204 H. Sewaktu beliau berumur 7 tahun telah hafal Al Qur’an, setelah beliau berumur 10 tahun hafal Al Muattha’ (kitab guru beliau Imam Malik). Setelah beliau berumur 20 tahun beliau mendapat izin dari gurunja (Muslim bin Chalid) untuk berfat­wa. Kata ‘Ali bin Usman: Saja tidak pernah melihat seorang yang lebih pintar dari Sjafi`i, sesungguhnja tidak ada seorang­pun yang menjamainja dimasa itu, yang pintar dalam segala pe­ngetahuan, sehingga bila ia melontarkan anak panah dapat di­djamin 90% akan mengenai sasarannja”.

Setelah beliau berumur hampir 20 tahun beliau pergi ke Madinah karena mendengar kabar Imam Malik yang begitu terkenal se­orang alim besar dalam ilmu hadist dan fiqh. Disana beliau bela­djar kepada Imam Malik, kemudian belum berjalan he Irak, disana beliau bergaul dengan sahabat2 Imam Abu Hanifah. Dan beliau terus ke Parsi dan beberapa negeri lain. Kira2 dua tahun habis masa beliau dalam perjalanan ini.

Dalam perjalanan beliau ke-negert2 itu bertambahlah pengeta­huan beliau tentang keadaan penghidupan dan tabiat manusia. Keadaan hawa yang menimbulkan perbedaan adat dan achlak, sangat berguna bagi beliau sebagai slat untuk mempertimbang­kan hukum peristiwa2 yang akan beliau hadapi. Kemudian beliau kembali ke Madinah. sehingga sampai waktu beliau diminta oleh Chalifah Harun Ar Rasjid supaja tetap di Bagdad. Setelah be­liau tetap di Bagdad disanalah beliau menjiarkan agama dan pendapat2 beliau diterima oleh segala lapisan.

Baik terhadap rakjat maupun terhadap pemerintah dimana beliau bergaul, bertukar pikiran dengan ulama terutama sahabat2 imam Abu Hanifah, sehingga dengan pergaulan dan pertukaran Pikiran itu, beliau dapat menjusun pendapat ,qadim” (pendapat beliau yang pertama). Kemudian kembali ke Makkah sampai ta­hun 198 Hidjrah. Pada tahun itu beliau sampai di Mesir dan di-Sana beliau menjusun pendapat beliau yang baru (qaulul jadid).

Kata2 Syafi’i yang sangat perlu menjadi perhatian, terutama bagi Ulama yang mendukung dan mengikuti mazhab Syafi’i, ialah. ,.Apabila hadist itu sah, itulah mazhabku, dan buangkanlah per­kataanku yang timbul dari idjtihadku”. Pengikut mazhab Syafi’i yang terbanjak di Mesir, Kurdiatan, Jaman, Aden, Hadramaut, Makkah, Pakiatan, Indonesia dan lain.

MAZHAB HANBALI. Nama penjusunnja Ahmad bin Muham­mad bin Hanbal bin Hilal. Beliau dilahirkan di Bagdad dan me­ninggal dunia pada hari Djumat tanggal 12 Rabbiul awwal ta­hun 241 Hidjrah. Beliau belajar semendjak ketjil di Bagdad, Sjam, Hidjaz dan Jaman. Beliau adalah murid dari Imam Syafi’i. Syafi’i memudji beliau, katanja: „Saja keluar dari Bagdad, tidak saja tinggalkan disana seorang yang lebih taqwa, lebih wara’, lebih alim selain dari Ahmad bin Hanbal, yang sungguh banjak menghafal hadist.

Murid beliau, banjak yang terkemuka, diantaranja Buchari dan Muslim. Beliau berpegang teguh,kepada fatwa sahabat apabila tidak ada nas. Beliau susun mazhab beliau atas 4 dasar. Dasar pertama nas Qur’an dan hadist. Dalam soal yang beliau hadapi beliau selidiki nas ada atau tidaknja, kalau ada nas beliau ber­fatwa menurut nas itu. Dasar kedua, fatwa sahabat. Dalam satu peristiwa Apabila tidak ada nas yang bersangkutan dengan peristiwa itu, beliau. cari dari fatwa sahabat2; Apabila ada fatwa dari salah seorang sahabat, sedang beliau tidak melihat bantahannja dari sahabat2 lain, beliau hukumkan periatiwa itu menurut fatwa sahabat tadi. Jika fatwa itu berbeda antara beberapa sahabat beliau pilih yang, lebih dekat kepada Kitab atau Sunnah.

Dasar ketiga, hadist mursal atau lemah, apabila tidak bertentangan dengan dalil-dalil lain. Dasar keempat. qias. Beliau tidak memakai qias terkecuali Apabila tidak ada jalan lain. Beliau sangat hati-hati melahirkan fatwa Apabila tidak ada nas atau atsar sahabat, sehingga kemungkinan besar karena sangat hati-hati beliau mendjalankan fatwa itu, meniebabkan lambatnya mazhab beliau tersiar di-daerah-daerah  yang djauh, apalagi murid2 beliaupun sangat berhati-hati pula.

Mula2 mazhab ini tersiar di Bagdad, kemudian ber-angsur2 ke­luar ke-daerah2 lain. sekarang yang terbanyak pengikutnja di Hidjaz, apalagi sesudah ditetapkan oleh radja Ibnu Saud men­jadi mazhab resmi bagi pemerintah Saudi Arabia. Di Mesir ti­dak nampak mazhab ini ketjuali pada abad ke 7 Hijriah, hingga sekarang tidak banjak rakyat Mesir yang mengikut mazhab ini.

Demikianlah keringkasan perkembangan hukum Fiqh Islam.

Iklan

Perihal edywitanto
wira wiri mlaku bareng angin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: