Asal Mula Krakatau & Selat Sunda

Asal Mula Krakatau & Selat Sunda

Di sebuah desa, hiduplah seorang janda tua bernama Mak Ecih (50) yang memiliki dua orang anak yakni Rakata (25) dan (Sunda). Mereka adalah keluarga miskin.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka mengharapkan hasil kebun yang hanya sepetak di sekitar pekarangan rumahnya. Kehidupan yang seperti itu membuat hati Rakata kecewa oleh keadaan. Ia pun pergi merantau. Dengan perasaan sedih, Mak Ecih merestui kepergian anak sulungnya dan berpesan “Janganlah engkau lupakan ibu dan adikmu, jika kau kelak menjadi orang yang berhasil”, seru mak Ecih pada Rakata. Lalu pergilah Rakata. Tak terasa sudah setahun Rakata pergi. Tapi kabar beritanya tak ada. Hal itu membuat hati Mak Ecih cemas. Ia lalu menyuruh Sunda mencari Rakata.

Pantas saja tak ada kabar berita, ternyata Rakata sudah menjadi saudagar kaya raya. Tak hanya itu, Rakata juga memiliki istri yang cantik jelita bernama Lilis (25). Lilis adalah anak dari seorang bangsawan dan saudagar kaya yang sangat terkenal, bernama Rangga (40). Keadaan Rakata berubah karena awalnya ia menjadi pengawal pribadi Pak Rangga lalu diangkat menjadi menantu, karena keberanian serta kepribadian baik Rakata. Ketika ingin menikahkan Rakata dengan putri tunggalnya, Pak Rangga ingin bertemu dengan keluarga Rakata. Namun Rakata berbohong. Rakata mengaku kalau orangtuanya sudah meninggal dan tidak punya sanak-saudara. Alasan itu juga yang membuat Pak Rangga jadi simpati terhadap Rakata dan bersedia menikahkan Rakata dengan anak semata-wayangnya.

Sejak menjadi menantu Pak Rangga, bisnis dagangnya berjalan lancar. Suatu ketika, Jaya (40), saingan bisnis Pak Rangga menghasut Rakata. Rakata akan mendapatkan harta yang berlimpah, asalkan Rakata bersedia membunuh mertuanya. Rakata yang sudah gelap mata akan harta kekayaan, akhirnya membunuh Pak Rangga. Pembunuhan itu dilakukannya serapi mungkin. Rakata mengatakan pada Lilis, kalau ayahnya meninggal karena bencana badai di laut saat ingin berdagang. Lilis pun percaya. Jadilah Rakata seorang saudagar kaya dan terkenal, menggantikan posisi Pak Rangga.

Kabar tentang Rakata terdengar oleh Sunda ketika sang adik berada di sekitar tempat tinggal Rakata. Sundapun bergegas menemui Rakata. Tapi apa yang terjadi, Rakata tidak mengakui Sunda sebagai saudara kandungnya. Sunda sangat kecewa terhadap kakak kandungnya itu. Dengan penuh kekesalan, Sundapun pulang dan menceritakannya pada sang ibu. Mak Ecih tidak percaya kalau Rakata seperti itu. Bahkan Mak Ecih mengira Sunda iri terhadap kakaknya. Untuk membuktikan kebenaran cerita itu, Sundapun mengajak Mak Ecih menemui Rakata. Rasa rindunya yang teramat dalam, membuat mak Ecih tak sabar lagi untuk berjumpa dengan Rakata. Karena rasa sayangnya, Mak Ecih membawakan oleh-oleh.

Sesampainya di rumah Rakata, Mak Ecih langsung memeluk Rakata. Namun Rakata menepisnya, hingga membuat Mak Ecih terjatuh. Mak Ecih terkejut dan tidak menyangka kalau Rakata bersikap seperti itu. Karena malu terhadap istri dan rakyatnya, Rakatapun mengusir Mak Ecih. Melihat kejadian itu, Sunda langsung melabrak Rakata. Tapi perkelahian itu dapat dilerai oleh Mak Ecih. Walaupun kecewa terhadap Rakata, tapi Mak Ecih tidak mau kedua anak kandungnya saling berkelahi. Dengan penuh kesedihan serta kekecewaan, Mak Ecih mengajak Sunda untuk pulang.

Sesampainya di rumah, Mak Ecih mendadak demam. Sunda berusaha menolong Mak Ecih, tapi nyawa Mak Ecih tak tertolong. Sunda merasa terpukul atas kematian ibunya. Dia merasa Rakatalah yang menyebabkan ibunya meninggal. Maka dari itu, dengan penuh dendam, Sundapun menemui Rakata. Sesampainya di rumah Rakata, Sunda menantang Rakata untuk bertarung. Merasa ditantang, Rakatapun menerima tantangan itu. Kedua kakak beradik itu terlibat perkelahian yang sangat sengit. Rakata yang licik, menyuruh anak buahnya untuk mengeroyok Sunda. Tubuh Sunda dibekap oleh anak buah Rakata. Rakata tertawa puas, sambil sesumbar menghina Sunda dan ibunya. Sunda sangat marah. Secara reflek Sunda menghentakkan kakinya ke tanah hingga tiga kali. Sesaat kemudian, terjadilah gempa. Tanah di sekitar itu menjadi retak. Makin lama retaknya semakin melebar. Hingga akhirnya dataran itu terbelah menjadi dua bagian. Rakata yang mencoba menyelamatkan diri, akhirnya jatuh ke perut bumi. Dari mulut bumi, keluar air yang begitu melimpah. Air yang melimpah itu akhirnya menjadi selat. Dan tiba-tiba di selat itu muncul gumpalan yang berbentuk sebuah bukit. Gumpalan itu, semakin lama semakin tinggi, hingga berbentuk gunung. Gunung itulah yang sekarang dikenal dengan nama gunung “KRAKATAU” asal nama dari RAKATA. Dan selat itu dinamakan “SELAT SUNDA”.

Perihal edywitanto
wira wiri mlaku bareng angin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: