Cincin Permata Ajaib

Cincin Permata Ajaib

(Diilhami dari kisah anak-anak legenda dari derah Bali dengan judul I Ceker Cipak)
Di sebuah kampung, ada seorang anak bernama Arya Weda. Ia tinggal bersama ibunya yang sering sakit-sakitan di sebuah gubuk di pinggir kampung. Hidup mereka serba kekurangan. Oleh karena tidak ingin terus terbelenggu oleh keadaan tersebut, Arya minta ijin pada ibunya untuk diperbolehkan berdagang jagung.

Ia ingin pergi ke kota untuk membeli barang dagangan apa saja untuk dijual kembali. Awalnya sang Ibu, merasa sangat keberatan. Ia kasihan dengan arya yang masih kecil namun sudah berusaha bekerja demi keluarganya. Namun begitu melihat kesungguhan Arya, sang Ibu akhirnya memberikan uang tabungannya pada Arya untuk berbelanja barang dagangan ke kota.

Keesokan harinya, Arya pun berangkat ke kota dengan membawa modal 200 ribu. Untuk sampai ke kota, ia harus melewati perkampungan, persawahan, dan hutan lebat yang jaraknya cukup berjauhan. Namun baru berjalan setengah hari, ketika Arya sampai di sebuah perkampungan,ia melihat seorang wanita yang sedang menyiksa seekor kucing karena dianggap sering mencuri makanan mereka. Melihat sikap sang Ibu yang sangat kejam itu, ia segera mendekati dan memintanya agar menghentikan penyiksaan terhadap kucing tersebut. Jelas saja sang Ibu tidak peduli dengan nasehat Arya karena sudah terlanjur sangat membencinya. Namun ketika Arya dengan ikhlas mau memberikan uang sebesar 50 ribu kepada sang Ibu itu, sang Ibu langsung merebut uang Arya dan menghentikan penyiksaanpada sang kucing. Arya lalu melanjutkan perjalanan dengan membawa serta kucing itu.

Namun, Tak berapa jauh berjalan, ia kembali melihat seorang bapak-bapak sedang memukuli seekor anjing barusaja mencuri daging yang akan ia masak. Melihat hal itu, ia pun menebus anjing itu dengan harga 50 ribu. Kini, ia tidak berjalan sendirian. Ia ditemani oleh kucing dan anjing yang telah ditebusnya.

Ketika hari menjelang sore, Arya bersama kucing dan anjing tebusannya tiba di sebuah hutan lebat. Saat melewati hutan lebat itu, ia melihat beberapa orang bapak-bapak sedang memukuli seekor ular sanca yang telah memangsa seekor bebek. Karena merasa kasihan, ia pun menebus ular itu dengan 50 ribu. Si bapak yang telah memukuli ular itu terheran-heran melihat perilaku Arya dan mengangap Arya anak yang sakit jiwa karena mau membeli ular seharga 50 ribu.

Arya tidak menghiraukan ucapan bapak-bapak itu. Setelah memasukkan ular itu ke dalam keranjangnya, ia segera berlalu dari tempat itu untuk melanjutkan perjalanan. Setelah menyusuri hutan lebat, Arya memasuki daerah persawahan. dan menemui para petani sedang menangkap seekor tikus dan memukulinya. Arya tidak sampai hati melihat tikus besar itu disiksa oleh mereka. Arya berjanji akan memberikan uang 25 ribu jika petani mau menghentikan penyiksaan tersebut. Setelah menyerahkan uang tebusan sebesar 25 ribu kepada para petani tersebut, Arya kembali melanjutkan perjalanan dengan ditemani oleh keempat hewan tebusannya, yaitu seekor anjing, kucing, ular, dan tikus.

Mereka tiba di pasar hari mulai gelap. Arya merasa sangat lapar. Setelah memeriksa sakunya, ternyata uangnya hanya tersisa 25 ribu. Akhirnya, uang tersebut ia pakai membeli makanan untuk dirinya dan keempat binatang tebusannya. Ia terpaksa batalberbelanja, karena sudah kehabisan uang.

Ketika Arya bersama keempat binatang tebusannya sedang asyik makan, tiba-tiba ada seorang laki-laki (Bang Maman) mendekati arya. Ia kagum melihat Arya yang begitu penuh kasih sayang member makan keempat binatang kesayangannya itu. Laki-laki itu lalu mengajak Arya untuk tinggal di rumah tuannya. Ternyata bang Maman adalah orang kepercayaan seorang pengusaha kaya raya (Pak Rozak), Bang Maman lalu menjelaskan pada Pak Rozak tentang Arya. Pak Rozak yang terkenal dermawan dan sangat baik memperlakukan Arya dengan sangat istimewa. Memberikan makanan yang enak, kamar yang hangat.

Tapi walau malam telah larut, namun Arya belum bisa memejamkan matanya, karena memikirkan ibunya yang tidur sendirian di gubuk. Ia juga memikirkan uang pemberian ibunya yang telah habis untuk menebus keempat binatang tersebut. Ia bingung untuk menjelaskan semua itu kepada ibunya. Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba si Ular merayap mendekatinya sembari bekata : “Wahai, anak berbudi luhur jika besok saat pulang dan bertemu dengan seekor ular besar, kamu jangan takut! Dia adalah ibuku yang bernama Naga Gombang. Meskipun terkenal sangat ganas, tapi dia tidak akan mengganggu orang yang berhati baik seperti kamu. Jika ia memintaku darimu, maka mintalah tebusan kepadanya!” ujar si Ular. Keesokan harinya, Arya pun berpamitan kepada sang Pak Rozak. Pak Rozak yang baik hati itu membekalinya dengan uang dan makanan.

Dan benar. Ketika Arya kembali ke kampung halamannya dan melewati hutan, tiba-tiba ia dihadang oleh seekor ular raksasa yang sangat besar dan menyeramkan dan minta pada Arya agar melepaskan ular yang tak lain adalah anaknya. Sesuai dengan nasehat sang ular, Arya menjelaskan bahwa ia yang menebus anak si ular gombang dari siksaan penduduk. Si ular raksasa akhirnya menyerahkan cincin permata sebagai penebus dan mengatakan semua barang akan menjadi emas jika arya gosokkan dengan cincin.

Arya pun mengeluarkan ular yang ada di dalam keranjangnya lalu menyerahkannya kepada Naga Gombang. Setelah itu, ia segera mengambil cincin permata di ekor Naga Gombang, kemudian menyelipkan di ikat pinggangnya dan melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di gubuknya,ikat pinggangnya telah berubah menjadi emas. Ibunya pun sangat heran menyaksikan peristiwa ajaib itu.
Arya pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya selama dalam perjalanan hingga tiba kembali ke rumah. Ibunya merasa amat bahagia memiliki anak yang taat menjalankan dharma. Sejak memiliki cincin permata itu, kehidupan keluarga Arya berubah. Kini, ia telah menjadi anak yang kaya raya di kampungnya. Ia hidup berbahagia bersama ibu dan ketiga hewan piaraannya, yakni si tikus, kucing, dan ajingnya. Meskipun sudah menjadi orang kaya, Arya tetap rajin bekerja, santun dan tidak sombing sikapnya.

Pada suatu hari, Arya membantu ibunya menumbuk padi, namun ia lupa melepas cincin permata dari jari tangannya. Tanpa disadarinya, cincin permata itu patah dan jatuh ke dalam lesung. Maka seketika itu pula lesung dan alu itu tiba-tiba berubah menjadi emas. Sejak itu, Arya semakin terkenal dengan kekayaannya hingga ke berbagai tempat. Hebatnya, siapapun yang minta tolong ada Arya dengan ikhlas ia akan bantu. Hingga ia disebut Arya si dermawan.

Melihat cincinnya yang patah, Arya membawa cincinnya yang patah ke tukang emas (Pak jalil) untuk diperbaiki. Rupanya, pak Jalil tahu bahwa cincin itu a jaib dan dapat mendatangkan kekayaan. Oleh karena itu, ia berniat untuk memilikinya. Agar tidak ketahuan oleh pemiliknya, ia pun membuat sebuah cincin palsu yang sangat mirip dengan cincin permata ajaib itu. Ketika Arya datang hendak mengambil cincinnya, ia memberikan cincin yang palsu. Setibanya di rumah, menguji kesaktian cincin permata itu. Perlahan-lahan ia menggosokkan cincin itu pada sebuah batu, namun batu itu tak kunjung berubah jadi emas. Dari situlah Arya mulai curiga dan yakin bahwa pak Jalil telah menukarnya. Ketika Arya dan ibunya menanyakan apa yang dilakukan pak Jalil, Pak Jalil justru marah-marah besar .

Melihat Arya bersedih, si Tikus, Kucing, dan Anjing melakukan musyawarah secara diam-diam. Mereka ingin membantu Arya untuk mendapatkan kembali cincin permata tersebut dari pak Jalil. Setelah mengatur siasat, mereka pun berangkat ke rumah pak Jalil diam-diam.

Setelah semuanya sudah siap, mereka pun mulai menjalankan tugas masing-masing. Si Kucing mulai mencakar-cakar pintu rumah si tukang emas, sehingga si tukang emas terbangun. Begitu tukang emas itu membuka pintu, si Kucing mencakar-cakar kakinya hingga jatuh terguling -guling di tangga. Si Anjing yang sedang menunggu di depan tangga segera menggigitnya. Pak Jalil tergeletak tak sadarkan diri. Pada saat itulah, si Tikus segera masuk ke dalam rumah. Dengan ganasnya, ia melubangi peti tempat penyimpanan perhiasan tukang emas itu, lalu mengambil cincin permata dan menyerahkan cincin itu kepada Arya. Arya yang sedang kebingungan mencari tiga binatang kesayangannya kaget melihat tiga binatang kesayangannya muncul cincin permata yang ada di mulut si Tikus. Ia baru sadar bahwa ternyata ketiga binatang piaraannya pergi ke rumah pak Jalil untuk mengambil cincin permata itu. Ia pun menyambut mereka dengan perasaan gembira.

Sejak itu, Arya sangat berhati-hati dalam menjaga cincin permata saktinya. Semakin hari, harta kekayaannya pun semakin bertambah. Ia adalah orang kaya yang dermawan. Ia senantiasa membantu para warga dan siapapun yang membutuhkan. Ia juga selalu mengingat semua orang-orang yang telah berbuat baik kepadanya, termasuk pak Rozak dan pak Maman yang sudah pernah menolongnya

Perihal edywitanto
wira wiri mlaku bareng angin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: