Legenda laut Biru

Legenda laut Biru

Alkisah, hiduplah sepasang suami istri yang bertapa dan bersemedi di tengah gunung. Mereka mempunyai kekuatan sakti sampai kemudian mereka menemukan seorang dewi kahyangan bernama Dewi Kalyani yang tengah terperangkap di dalam batu besar berwarna biru.

Batu itu mengurung Dewi Kalyani yang sedang menebarkan serbuk abadi kepada pohon-pohon agar tumbuh dengan rindang dan melindungi bumi. Batu itu milik Sarpala. Dia adalah orang jahat yang merebut serbuk abadi dari tangan Dewi Kalyani.

Sepasang suami istri pertapa yang bernama Handoko dan Gayatri segera menggunakan kekuatan saktinya untuk memecahkan batu itu. Ketika dipecahkan, pecahan batu itu berterbangan ke tujuh penjuru. Setiap tanah yang dijatuhi batu biru itu berubah menjadi danau. Dewi Kalyani sangat berterima kasih dan memberikan buah abadi kepada Handoko dan Gayatri. Karena buah itu hanya satu, Gayatri rela memberikannya pada Handoko. Dewi Kalyani berpesan, setelah memakan buah itu, Handoko akan awet muda dan terus kuat selama seratus tahun. Ia meminta tolong pada Handoko untuk mengejar Sarpala. Karena bila Sarpala telah meminum serbuk abadi maka ia akan hidup selamanya.

Sementara itu, Sarpala yang jahat dan ingin menguasai kerajaan Majapahit pergi ke kerajaan Majalaya. Sebelum pergi ke istana Majapahit ia berniat menguasai kerajaan Majalaya yang dikuasai oleh Patih Jala dan Patih Jalu. Mereka berdua adalah kakak beradik rukun dan bersama-sama memimpin kerajaan. Mengetahui Sarpala akan menyerang kerajaan mereka, Patih Jala dan Patih Jalu jadi cemas. Keduanya tahu betapa saktinya Sarpala. Dan satu-satunya yang bisa mengalahkan dan mengurung Sarpala hanyalah batu biru, yaitu batu yang mengurung Dewi Kalyani.

Handoko dan Gayatri berjanji akan menangkap Sarpala. Karena terlalu lelah berada di bumi, Dewi Kalyani pun kembali ke kahyangan. Handoko dan Gayatri lalu memulai pengembaraan mereka untuk mencari Sarpala. Tapi Sarpala memang bukan orang sembarangan. Dengan kesaktiannya ia bisa melihat Handoko dan Gayatri yang sedang mengejarnya dan berniat mengurungnya di batu biru. Sarpala lalu pergi ke hutan yang akan dilalui Gayatri dan Handoko. Di sini Sarpala lalu menaklukkan kawanan perampok sadis yang menguasai hutan tersebut dan kemudian menjadikan mereka anak buahnya. Sarpala lalu berpesan pada kawanan perampok, untuk menghadang Handoko dan Gayatri jika mereka lewat hutan tersebut.

Singkat cerita, Handoko dan Gayatri akhirnya sampai di hutan yang didiami kawanan perampok yang kini telah menjadi anak buah Sarpala. Para penyamun yang sadis tersebut tentu saja tidak membiarkan Handoko dan Gayatri dan lewat. Handoko dan Gayatri lalu melawan para penyamun itu. Ajaibnya, meskipun Handoko dilukai oleh pedang kawanan perampok, lukanya kembali sembuh dengan sendirinya karena kekuatan Buah Abadi. Para penyamun pun akhirnya menyerah kalah dan lari tunggang langgang.

Tapi Sarpala memang licik. Ia menaruh satu jebakan lain untuk menghadang Handoko dan Gayatri. Di tengah sebuah hutan yang lebat, Gayatri meminum air di sebuah sumur keramat yang diam-diam telah diracuni Sarpala. Air itu membuat tubuh Gayatri menjadi lebih tua, keriput dan renta. Gayatri pun sakit-sakitan. Handoko menunda perjalanan mereka dan merawat Gayatri. Ia berusaha mencari tumbuh-tumbuhan yang bisa dijadikan obat. Saat ia sedang meracik obat, banyak warga berbondong-bondong lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Ternyata kampung mereka diserang oleh Sarpala. Sarpala merebut kuda-kuda mereka untuk menyerang kerajaan Majalaya.

Melihat banyaknya orang yang menderita karena ulah Sarpala, hati Handoko pun tergerak. Ia meminta izin kepada Gayatri untuk meneruskan misi mengejar Sarpala dan ia berjanji akan segera kembali. Gayatri mengizinkan.

Namun Handoko tidak menemukan jejak Sarpala. Ia malah tersesat dan bertemu dengan kereta kuda seorang putri cantik yang tengah lari ke sana-kemari. Kusir kuda itu terjatuh, keretanya menuruni lereng yang curam. Putri yang berada di dalamnya berteriak ketakutan. Sebelum kereta itu jatuh ke jurang, Handoko segera menggunakan kekuatan saktinya untuk menarik kereta itu. Putri pingsan. Sang kusir berjalan tertatih-tatih dan berterima kasih. Ia mengatakan bahwa kuda itu menjadi liar karena dipanah oleh perampok, barang bawaan mereka sudah habis dibawa perampok. Putri itu bernama Putri Ningsih, anak perempuan dari Patih Jala di kerajaan Majalaya.

Dengan kekuatan saktinya, Handoko membawa Putri Ningsih dan kusir kereta itu ke istana Majalaya. Patih Jala senang sekali dan mengangkat Handoko sebagai panglima pasukan kerajaan. Handoko menerima tugas itu dengan senang hati karena ia juga ingin menghadang Sarpala. Sementara itu Putri Ningsih mulai jatuh cinta kepada Handoko. Handoko pun menyukai dan kagum dengan kecantikan dan budi pekerti Putri Ningsih namun bagaimana pun juga, ia tetap setia kepada Gayatri, istrinya.

Sementara itu, di kahyangan terdapat seorang dewi yang nakal bernama Dewi Sawitri, ia suka sekali melihat kehancuran dan perang. Setelah berbuat onar di kahyangan ia main ke bumi dan mendengar keluhan hati Gayatri yang terpuruk sendiri dalam keadaan tua renta. Ia pun memanas-manasi Gayatri bahwa Handoko telah menikah dengan seorang putri kerajaan Majalaya. Gayatri pun kesal tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Dewi Sawitri pun memberikan tongkat awet muda, dengan memutar tongkat itu tiga kali, Gayatri menjadi kembali muda, bahkan lebih cantik. Gayatri pun bergegas pergi menuju kerajaan Majalaya. Dewi Sawitri senang dan kembali ke kahyangan. Di kahyangan, Dewi Kalyani melihat semua perbuatannya. Dewi Kalyani pun menghukum Dewi Sawitri, mereka bertarung. Sebenarnya Dewi Kalyani dan Dewi Sawitri adalah dua bersaudara. Masing-masing adalah dewi air dan dewi daratan. Dewi Sawitri yang menguasai daratan sejak dulu memang selalu berusaha mencelakai Dewi Kalyani, karena tidak ingin Dewi Kalyani menciptakan perairan di daerah daratan yang dikuasainya. Perseteruan mereka telah berlangsung selama puluhan tahun.

Sarpala mulai menyerang kerajaan Majalaya. Tapi dengan kesaktiannya Handoko mampu mengalahkan semua pasukan Sarpala. Namun saat satu lawan satu melawan Sarpala, Handoko sempat kewalahan apalagi Sarpala juga tidak bisa dilukai oleh senjata apapun. Sarpala akhirnya gagal ditangkap dan berhasil kabur. Handoko teringat akan pesan Dewi Kalyani bahwa Sarpala hanya bisa dikurung di batu biru yang telah pecah menjadi tujuh bagian. Ia pun pamit kepada Patih Jala dan Patih Jalu untuk pergi mencari tujuh pecahan batu biru. Putri Ningsih yang sangat mencintai Handoko meminta izin untuk ikut, awalnya Patih Jala tidak mengizinkan namun karena Putri Ningsih tetap memaksa sambil mengancam mogok makan, akhirnya Patih Jala mengizinkan dengan syarat ia harus ditemani oleh seorang pelayan.

Handoko dan Putri Ningsih pun mencari ketujuh batu biru. Untuk mengetahui letak batu itu, Handoko harus bersemedi dan bertanya kepada Dewi Kalyani. Dewi Kalyani memberitahu letak ketujuh batu. Handoko dan Putri Ningsih pun akhirnya pergi mencari danau pertama dan kedua. Di setiap danau, Handoko mengeluarkan batu itu, ketika batu bergumpal dan padat, danau itu hilang. Namun di danau kedua, mereka dihadang oleh Gayatri. Melihat Gayatri yang sangat cantik dan nampak berbeda, Handoko hampir tidak mengenalinya. Apalagi Gayatri langsung menyerang Putri Ningsih. Secara otomatis Handoko melawan Gayatri dan menyelamatkan Putri Ningsih. Gayatri menjadi salah sangka dan bertambah cemburu. Ia pun menculik Putri Ningsih dan dibawa ke sebuah gubuk di pinggir sungai.

Dewi Sawitri pun turun ke bumi dan mengerjai Putri Ningsih. Dewi Sawitri juga membuat Putri Ningsih menderita, ia mengatai Putri Ningsih adalah gadis perebut lelaki orang. Putri Ningsih terkaget-kaget karena baru mengetahui kalau Handoko sudah mempunyai istri. Handoko dan pelayan mencari-cari Putri Ningsih. Sarpala yang mengetahui rencana Handoko mengumpulkan tujuh batu biru hampir berhasil sempurna langsung menyerang Handoko dan berusaha merebut batu itu namun kali ini Handoko berhasil mengatasi Sarpala.

Tapi Sarpala tidak menyerah begitu saja. Dengan kesaktiannya ia kemudian mengeluarkan mahluk-mahkluk bawah air dari dalam masing-masing setiap danau yang kemudian ia perintahkan untuk menjaga danau tersebut dari Handoko.

Sementara Handoko berhasil menemukan danau kedua. Setelah susah payah bertarung dengan buaya raksasa yang keluar dari danau, Handoko akhirnya berhasil mengeluarkan batu biru dan danau pun kembali menjadi tanah. Sarpala mengejar Handoko dengan terengah-engah. Di Danau ketiga, Handoko kembali berhadapan dengan ular raksasa penjaga danau ciptaan Sarpala. Setelah susah payah mengalahkan ular raksasa tersebut, Handoko bertemu dengan Gayatri. Saat itulah Handoko sadar kalau yang menyerangnya tadi adalah Gayatri, mereka pun bertengkar mulut. Di sini Gayatri menangis, salah paham mengira Handoko lebih membela Putri Ningsih. Ia pun mengambil batu biru dan membawanya pergi. Gayatri juga mengambil batu biru di danau keempat dan kelima. Sedangkan Handoko berhasil mengambil batu biru di danau keenam dan ketujuh. Handoko hendak mencari Putri Ningsih yang dikurung oleh Dewi Sawitri. Handoko pun melawan Dewi Sawitri, Dewi Kalyani turun dari kahyangan dan berhasil mengikat Dewi Sawitri dengan selendang emas. Dewi Kalyani pun membawa Dewi Sawitri kembali ke istana. Handoko mengeluarkan Putri Ningsih dari kerangkeng emas. Ia meminta maaf kepada Putri Ningsih, Putri Ningsih patah hati dan memilih pulang ke istana bersama pelayan.

Tapi dalam perjalanan pulang, Putri Ningsih justru mendapat ancaman besar. Sarpala yang tahu Gayatri cemburu dengan Putri Ningsih, menemui Gayatri dan mengajaknya untuk bekerjasama. Sarpala akan menghabisi Putri Ningsih pada Gayatri dengan imbalan batu biru yang ada di tangan Gayatri. Gayatri bersedia.

Di saat bersamaan Handoko sedang mencari Gayatri untuk meminta ketiga batu biru di tangannya. Namun kedatangan Handoko terlambat. Saat itu, Sarpala telah berhasil lebih dulu menemukan Putri Ningsih dan menghabisinya. Sarpala lalu meminta imbalan batu biru yang dipegang Gayatri.

Sarpala kabur dan Gayatri selamat. Tapi nyawa Putri Ningsih tidak tertolong lagi. Sebelum menghembuskan nyawa terakhirnya, Putri Ningsih menjelaskan hubungannya dengan Handoko. Putri Ningsih bilang pada Gayatri kalau Handoko hanya mencintainya seorang. Dan Putri Ningsih rela mengorbankan nyawanya asalkan Gayatri bisa kembali bersanding dengan Handoko. Gayatri jadi terharu.

Sementara Sarpala yang bertambah sakti dengan tambahan kekuatan dari batu yang ia dapatkan dari Gayatri akhirnya berhasil mengumpulkan ketujuh batu biru dan mengurung Handoko di dalam batu tersebut. Kali ini Handoko tidak sanggup melawan Sarpala. Handoko butuh bantuan istrinya Gayatri. Dalam keadaan tak berdaya, Handoko terus berteriak bahwa ia hanya mencintai Gayatri. Lambat laun, hati Gayatri tersentuh, teringat saat-saat indah bersama Handoko dan juga teringat ucapan terakhir Putri Ningsih yang bilang kalau Handoko hanya mencintai dirinya seorang.

Gayatri pun akhirnya berhasil membebaskan Handoko dari ikatan rantai sakti Sarpala. Mereka lalu bahu membahu menghadapi Sarpala yang semakin sakti dan mampu mengubah wujudnya menjadi seekor naga raksasa. Dengan gabungan kesaktian mereka, Gayatri dan Handoko akhirnya berhasil merebut batu biru, menyatukannya dan kemudian menendang batu biru itu ke tengah padang pasir. Lambat laun batu biru itu mencair dan menjadi lautan biru yang luas yang kemudian menenggelamkan Sarpala dan mengurungnya selamanya di dasar laut.

Perihal edywitanto
wira wiri mlaku bareng angin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: