Sumpah Banyu Biru

Sumpah Banyu Biru

Banowati nampak sedang mendatangi para penyewa perahunya. Dengan galak, judes dan kasar ia marah-marah pada Kang Toro yang selalu nunggak bayar sewa perahunya.

Kang Toro berkata ia akan membayar jika dapat tangkapan banyak. Kondisinya benar-benar sangat miskin hingga belum bisa membayar. Maklum beberapa bulan terakhir ini badai datang sangat kencang sehingga nelayan tidak mendapatkan banyak ikan. Melihat Kang Toro yang kembali belum bisa membayar hutang, dengan licik Banowati menyuruh dua abdinya Rebo dan Kemis untuk menghajar dan memberi pelajaran pada Kang Toro. Istri Kang Toro nampak sedih minta belas kasihan pada Banowati, tapi Banowati menolak. Saat Banowati melenggang meninggalkan Kang Toro yang kesakitan, warga desa sembari menolong Kang Toro berkata pantas Banowati tidak nikah-nikah. Biar kaya, dan cantik dia sangat kejam. Mana ada laki-laki yang mau dengan Banowati?

Warga yang sudah tidak suka dengan sikap Banowati diam-diam menyusun rencana. Saat Banowati sedang berjalan dari pantai dan kali ini sendirian, warga langsung mengepung Banowati dan akan menghakimi Banowati karena dianggap semena-mena. Banowati awalnya marah, tapi lama-lama ia kebingungan karena warga nampak seperti “balas dendam” dengannya.  Saat emosi warga sudah tak terkendali, saat itu pula muncul Banyu Biru yang sangat tampan menenangkan warga agar bersikap lebih lembut dengan wanita. sempat terjadi pertentangan antara Banyu Biru dan warga. Tapi Banyu Biru yang sangat pintar menjelaskan berhasil menenangkan warga.   Banowati terkesima melihat Banyu Biru. Baru kali ini ia melihat pria setampan Banyu Biru. Banowati lalu berkenalan dengan Banyu Biru. Ternyata Banyu Biru adalah pemuda sederhana namun terkenal berhati mulia di desanya. Banowati benar-benar tak bisa melupakan Banyu Biru.

Namun betapa kagetnya Banowati setelah tahu dalam waktu dekat ini Banyu Biru akan menikahi seorang gadis bernama Sundari. Gadis sederhana, namun sangat cantik sekali. Banowati lalu membuat rencana bagaimana caranya agar bisa mendekati Banyu Biru. Diam-diam, Banowati menyuruh dua abdinya, Rebo dan Kemis membakar/merusak satu-satunya perahu milik Banyu Biru secara diam-diam. Betapa kagetnya Banyu Biru melihat perahunya hancur. Padahal itu satu-satunya perahu yang ia gunakan untuk mencari nafkah untuk biaya pernikahannya dengan Sundari. Sundari dengan sabar menenangkan Banyu Biru. bahwa tanpa mas kawin yang mahalpun, Sundari tetap menerima dan mencintai Banyu Biru dengan tulus. Saat keduanya, Banyu Biru dan Sundari bertemu berdua, sepasang mata nampak menatap dengan wajah benci.

Beberapa saat kemudian, ketika Banyu Biru sedang berusaha memperbaiki perahunya yang rusak, muncul Banowati.  Banowati berkata bahwa ia sudah lama memperhatikan Banyu Biru dan sangat ingin menolong Banyu Biru karena ia memiliki banyak sekali perahu. Banowati berkata ia  pernah berhutang budi dengan Banyu Biru yang pernah  menolongnya. Banowati berkata bahwa jika mau, Banyu Biru bisa datang ke rumah Banowati. Berhari-hari Banyu Biru memikirkan semua itu. Keinginannya memiliki perahu sangat kuat agar ia bisa sehingga kembali bekerja menangkap ikan. Sundari pun dengan tulus mendorong Banyu Biru menemui Banowati.

Betapa bahagianya Banowati begitu tahu Banyu Biru datang menemuinya. Laki-laki impiannya ada di hadapannya. Tapi betapa kagetnya Banowati setelah tahu  niat Banyu Biru menerima tawaran meminjam perahu Banowati demi mencari biaya pernikahannya dengan Sundari!!! hati Banowati terbakar! Banowati bersumpah bahwa ia tidak akan membiarkan Banyu Biru menikahi Sundari. Setelah Banowati memberikan perahunya pada Banyu Biru, Banyu Biru mulai bekerja mencari perahu. Sementara Sundari mempersiapkan pernikahannya dengan meronce kembang melati dan membuat hiasan lainnya. Tiba-tiba saja saat Sundari sedang sendirian, muncul Banowati yang dengan gusar mengancam Sundari agar membatalkan pernikahannya dengan Banyu Biru. Betapa kagetnya Sundari melihat kedatangan Banowati. Tapi Sundari berkata ia sangat mencintai Banyu Biru dan sudah akan menikah beberapa hari lagi. Banowati nampak kalap. Ia nyaris akan menyakiti Sundari kalau saja warga tidak ada warga lewat. Sebelum pergi mengancam Sundari agar tidak membocorkan semua ancamannya. Jika Sundari menceritakan kedatangannya pada Banyu Biru dan tetap menikah dengan Banyu Biru, Banowati akan membuat Sundari menjadi menyesal seumur hidup.

Betapa sedihnya Sundari. Sementara itu Banowati terus mendekati Banyu Biru. Dengan terang-terangan Banowati yang agresif menyatakan  cintanya pada Banyu Biru. Tapi dengan santun Banyu Biru menolak Banowati dan menjelaskan ia sudah akan menikah dengan Sundari! Banowati mencoba merayu Banyu Biru dengan berbagai macam cara. Banowati  berkata jika Banyu Biru menikah dengannya, Banyu Biru yang akan memegang semua perahu Banowati. Banyu Biru tidak perlu mencari ikan di lautan susah payah. Tapi tetap pada pendiriannya. Banowati kian obsesif dan marah pada Banyu Biru. Banowati mengancam  Banyu Biru andai Banyu Biru tetap menikah dengan Sundari, Banowati akan mengambil semua harta benda Banyu Biru! Banyu Biru tetap menolak! Banowati yang sudah cinta buta dengan Banyu Biru nampak kalap. Ia menjerit dan memaksa Banyu Biru harus menikahinya. Warga ingin tahu apa yang terjadi. Warga berdatangan dan melihat mereka. Setelah tahu apa yang terjadi, warga mengejek Banowati yang tak tahu diri. Sudah tahu Banyu Biru akan menikah masih memaksa dan merebut Banyu Biru dan Sundari. Banowati tersadar bahwa warga mengejek dan melecehkannya. Banowati merasa Banyu Biru sudah mempermalukannya dengan menolaknya di hadapan banyak warga. Banowati pergi dengan wajah penuh amarah dan dendam luar biasa.

Ternyata Banyu Biru dan Sundari tetap menjalankan pernikahannya. Betapa dendamnya Banowati yang merasa cintanya dan semua usahanya ditolak oleh Banyu Biru, dan Sundari tidak mendengarkan ancaman Banowati. Saat Banyu Biru dan Sundari berbahagia di hari pernikahannya, Banowati nampak geram menatap dari kejauhan. Banowati merasa terhina luar biasa. Akhirnya  Banowati berusaha membuat sebuah rencana jahat untuk bisa membalas dendamnya pada Banyu Biru dan Sundari!

Beberapa saat kemudian, saat Banowati mendatangi Banyu Biru dan Sundari. Banowati  menarik perahu Banowati yang disewa Banyu Biru, dan Banyu Biru harus membayar sewa selama ini dengan jumlah yang tidak masuk akal tingginya. Banyu Biru yang tidak punya uang harus siap menerima kenyataan ketika semua harta bendanya diambil Banowati. Kata Banyu Biru dan Sundari, apapun boleh tapi bukan cinta mereka.

Saat Banowati sedang berusaha seribu satu cara bagaimana caranya membuat sengsara keduanya, saat di alun-alun, nampak suasana sangat crowded. Dengan mata kepala sendiri Banowati melihat warga menyeret keluarga Pak Poyo untuk dibawa kepada adipati agar menghukum keluarga Pak Poyo karena mereka dituduh sudah menyantet suami Bu Ginah hingga suaminya mati. Saat warga memaksa Pak Poyo dan keluarganya ke adipati, mereka bertemu dengan adipati di tengah jalan. Adipati lalu menjelaskan bahwa dalam pasal 13, Kitab Undang-Undang Kuntara Manawadharmasastra Kerajaan Majapahit, dalam pasal 13, tukang santet, apabila perbuatan itu terbukti, bukan hanya pelaku, tetapi juga anak, cucu, ibu, bapak semuanya yang masih tinggal tidak akan dibiarkan hidup, demi keselamatan negara. Semua harta miliknya disita.

Banowati menyimak semua itu. Ia menyeringai licik. Tak lama kemudian Banowati sudah berada di depan ahli ramuan sakti dan Banowati minta dibuatkan ramuan yang bisa membuat gatal jika dilarutkan di air. Sementara itu Banyu Biru dan Sundari nampak bersiap-siap akan pergi ke guru mereka bernama Nyai Sembur di sebuah padepokan untuk minta agar segera memiliki anak. Beberapa warga sempat bertemu dengan Banyu Biru dan Sundari dalam perjalananan dan sempat bertanya-tanya. Saat Banyu Biru dan Sundari berlalu, muncul Banowati di antara warga  dan  pura-pura  mencari Banyu Biru dan Sundari yang mengatakan Banyu Biru dan Sundari  tidak mau membayar hutang pada Banowati. Tapi warga tidak percaya dan justru mencibir Banowati karena selama ini Banowati selalu kejam pada penyewa perahunya.

Banowati merasa geram. Ia yakin tidak bisa memprofokasi warga akan Banyu Biru dan Sundari. Kini, satu-satunya cara yang bisa dilakukan Banowati pada Banyu Biru dan Sundari adalah memfitnah Banyu Biru dan Sundari dengan cara yang lebih kejam! Banowati menyeringai sendiri. Malam harinya, diam-diam Banowati menyelinap di tanah pekuburan nan sepi. Ia nampak membawa cangkul. Banowati menyeringai membawa sehelai kain mori dari pekuburan. Saat Banowati akan pergi diam-diam, tiba-tiba Banowati bertemu dengan Indar, seorang wanita bisu alias gagu, yang selama ini sebagai penjaga kuburan. Indar nyaris akan lari memanggil warga untuk melaporkan perbuatan Banowati. Tapi Banowati dengan marah mengancam Indar akan membunuhnya jika Indar sampai membongkar apa yang ia lakukan. Indar menangis tak mampu berbuat apa-apa.

Beberapa saat kemudian, suasana malam nampak sepi, beberapa warga desa nampak sedang meronda. Tiba-tiba suara berubah menjadi sangat gempar! Kang Pajri melihat kuburan anak Yu Siti yang dikuburkan tadi siang, nampak seperti ada yang membongkar. Ketika warga mendekati  lubang, nampak kain mori pembungkus bayi sudah raib. Tak lama kemudian Yu Siti muncul sambil menangisi dan mengutuk siapapun yang sudah mencurinya. Dalam beberapa bulan terakhir ini sudah ada enam kain mori yang hilang!

Sementara itu, Banowati ternyata menyuruh Rebo dan Kemis menguburkan kain mori itu di halaman rumah Banyu Biru dan Sundari setelah Banowati menulis namanya dengan huruf Jawa kuno. Rebo dan Kemis menyeringai lebar tugasnya sukses. Ia tidak menyadari Indar juga melihat semua itu.

Sementara itu di rumahnya, Banowati nampak sedang menggosokkan ramuan pemberian tabib ke seluruh tubuhnya. Dan tak lama kemudian… nampak wajah dan seluruh tubuh Banowati berubah menjadi merah, penuh bentol. Pagi hari Banowati langsung pura-pura berteriak histeris keluar rumah. Warga heboh melihat keadaan Banowati.  Banowati mulai membuat cerita bohong sambil menangis bahwa semalam ia merasa ada semacam sinar merah panas menerpa tubuhnya. Banowati yakin ia di santet/ditenung! Warga tak percaya dan justru mencemooh Banowati. Warga berkata bahwa di desa mereka tidak ada satu orangpun yang memiliki ilmu santet. Tapi Banowati bersumpah pada warga ia yakin semalam ia mendapat kiriman santet hingga keadaannya jadi seperti itu.

Banowati lalu memutuskan untuk melaporkan semua itu pada adipati. Adipati dengan bijaksana bertanya apakah yakin santet atau tenung? Banowati berani bersumpah. Kata adipati, lalu siapa kira-kita yang mengirim santet pada Banowati. Adipati bertanya siapa orang yang terakhir kali membenci dan memiliki masalah dengan Banowati? Dengan pura-pura ketakutan dan bersandiwara Banowati berkata tidak berani menyebutkan. Tapi Adipati memaksa Banowati harus menjelaskan karena bagi kerajaan Majapahit, santet atau tenung bukanlah permasalahan kecil. Adipati minta pada Banowati agar mengatakan dan adipati akan melakukan penyelidikan. Dengan pura-pura menangis Banowati menyebutkan nama Banyu Biru dan Sundari. kata Banowati penuh intrik, Banyu Biru dan Sundari sengaja menyantetnya karena ingin membunuh Banowati karena selama ini  Banyu Biru dan Sundari berhutang sangat banyak dengan Banowati dan mereka tidak mau mengembalikan. Banowati yakin Banyu Biru dan Sundari berusaha membunuh Banowati agar Banyu Biru dan Sundari terlepas dari hutangnya menyewa perahu!

Tak lama kemudian utusan adipati muncul menuju rumah Banyu Biru dan Sundari bersama Banowati. Mereka diutus adipati untuk mencari barang bukti atas tuduhan santet yang dialami oleh Banowati. Semua utusan adipati mencari dari dalam rumah hingga di halaman. Tiba-tiba salah seorang utusan melihat gundukan tanah yang mencurigakan dan setelah diangkat nampak kain mori bertuliskan nama Banowati dengan hurus Jawa kuno!!! Betapa kagetnya Banyu Biru dan Sundari. Banowati pura-pura marah dan berkata betapa teganya Banyu Biru dan Sundari padanya. Banyu Biru dan Sundari berkata ini firnah! Ia tidak pernah melakukan apapun! Warga antara percaya dan tidak menghubungkan bahwa kain mori bayi pernah hilang dan kuburan bayi dibongkar. Dengan culas Banowati pura-pura menangis dan minta pada utusan agar melaksanakan uu Majapahit.

Akhirnya Banyu Biru dan Sundari dibawa dengan paksa ke kadipaten. Adipati dengan bijaksana menanyakan semua itu. Banyu Biru bersumpah bahwa ia bukan pelakunya dan Banyu Biru tidak tahu kenapa kain mori itu ada di halamannya. Banyu Biru merasa Banowati memfitnah Banyu Biru. Banyu Biru berani bersumpah atas apapun. Tapi adipati berkata, bukti itu sudah menguatkan. Bukti bahwa seseorang disebut tukang santet adalah ketika ia menulis nama orang lain di atas kain orang mati atau di atas peti mati atau di atas dodot yang berbentuk boneka, atau barang siapa menanam boneka tepung yang bertuliskan nama di kuburan, menyangsangkannya di atas pohon, di tempat angker, atau di jalan silang, orang yang demikian itu sedang menjalankan tenung yang sangat berbahaya. Demikian juga, barang siapa menuliskan nama orang di atas tulang, di atas tengkorak dengan arang, darah dan kemudian merendamnya di dalam air, atau menanamnya di depan rumah korban.

Banyu Biru dan Sundari tetap mencari keadilan. Tapi bukti itu sudah cukup mewakili. Banyu Biru  dan Sundari dimasukkan ke dalam kurungan sembari menerima hukuman yang pantas ia terima. Sementara itu Banowati nampak bahagia karena dengan fitnah itu, dendamnya pada Banyu Biru dan Sundari sudah terbayar. Banyu Biru dan Sundari akan menemui ajalnya sesuai uu yang berlaku.

BEBERAPA SAAT KEMUDIAN….

Banyu Biru dan Sundari sudah bersiap akan menerima hukuman dari kerajaan. Kali ini hukuman yang diterima Banyu Biru dan Sundari akan ditenggelamkan di lautan! Ketika pasukan istana sudah bersiap akan membawa Banyu Biru dan Sundari, muncul Indar si gadis bisu dan  dengan bahasa isyaratnya mengatakan bahwa Banowati berbohong. Banowati yang mencuri kain mori dan menanam di rumah Banyu Biru. Tapi Banowati berkata jangan percaya karena Indar hanya gadis bisu dan gila. Indar marah tapi Banowati masih merasa Banyu Biru harus segera dihukum.

Banyu Biru berkata ia menantang Banowati melakukan sumpah. Itu permohonan terakhir Banyu Biru sebelum mendapatkan hukuman  Banyu Biru bersumpah bahwa tuduhan itu adalah fitnah belaka. Banyu Biru  bersumpah  dengan sungguh-sungguh ia tidak melakukan santet atau tenung. Dia adalah kortban fitnah! Ia bersumpah laut adalah saksinya dan ia akan tunjukkan bahwa laut akan memberikan hukumannya pada siapa yang bersalah. Ternyata  benar,  tiba-tiba ombak bergulung tinggi. Semua nampak ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri. Beberapa di antaranya lari ke atas bukit termasuk adipati, warga, Indar, Banyu Biru dan Sundari.   Dan saat semua berhasil menyelamatkan diri, Banowati, Rebo dan Kemis  yang akan berlari, tiba-tiba merasa kakinya tidak bisa digerakkan. Pasir seakan menguncinya. Akhirnya Banowati dan anak buahnya nampak terseret ombak. Ketiganya masuk ke dalam lautan dan hilang di telan ombak. Akhirnya Adipati yakin bahwa memang Banowati yang bersalahd an sudah memfitnah Banyu Biru dan Sundari. Akhirnya Banyu Biru dan Sundari hidup bahagia dalam kekuatan cinta mereka.

 

http://www.mnctv.com/

Iklan

Perihal edywitanto
wira wiri mlaku bareng angin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: