Wali Prakoso dan Pasir Luhur

Wali Prakoso dan Pasir Luhur

Makdum Husen di Cahyana menangkap 2  anak panah yang hendak menancap pada seekor kera. Ternyata 2 anak panah itu milik 2 pemburu. Makdum Husen menasehati mereka agar menghentikan pekerjaan berburu di wilayah Cahyana.

Selain jika satwa di hutan Cahyana terus diburu akan habis, keseimbangan alam juga akan terganggu. 2 pemburu yang yang tidak kenal Makdum Husen malah marah. Ia harus membunuh kera itu untuk diisap otaknya, karena menurut tabib, otak kera bisa membuat awet muda dan panjang umur. Makdum Husen istighfar, bilang kalau otak kera tidak boleh dimakan. Awet muda tidak ada obatnya, karena manusia akan mengalami penuaan seiring berjalannya usia dan waktu. Umur panjang atau pendek, hanya Allah yang tahu. Bukan ditentukan oleh mengisap otak kera. 2 Pemburu itu makin marah dan memanah. Tapi anak panah seperti mengenai batu yang keras dan patah ujungnya. Mereka gemetaran takut manakala mengetahui ternyata Makdum Husen adalah pemimpin tanah Cahyana. Mereka segera kabur, namun Makdum Husen tidak mengejar karena mendengar suara pohon tumbang dan jeritan orang kesakitan. Makdum Husen segera pergi ke arah suara.

Makdum Husen kaget melihat banyaknya ikan di sungai yang pada mati mengambang. Makdum Husen akhirnya mengetahui, bahwa ikan-ikan sungai pada mati mengambang akibat ulah 2 pencari ikan yang menebarkan racun itu untuk dimakan. Makdum Husen menasehati mereka, bahwa menangkap ikan dengan cara meracun sangat berbahaya tidak hanya bagi ikan, namun bagi orang lain. Tapi 2 pencari ikan itu tidak peduli. Tiba-tiba yang memakan ikan keracunan. Makdum Husen berusaha menyelamatkannya dengan meminumkan air kelapa ijo. Makdum Husein menasehati, bahwa siapa yang menebar angin akan menuai badai. Siapa yang menebar racun, pasti akan terkena racun itu juga. Mereka terkejut karena Makdum Husen ternyata pemimpin wilayah Cahyana. Mereka segera bergegas pergi. 

Seorang Panglima Pajajaran sedang menunggu di sutau tempat. Tak lama datang 2 pemburu yang ternyata 2 prajuritnya yang menyamar, melaporkan tentang keperkasaan Makdum Husen. Tak lama datang si penebang pohon yang ternyata juga prajuritnya yang menyamar, menceritakan tentang keperkasaan Makdum Husen. Lalu datang 2 pencari ikan yang juga merupakan prajurit yang menyamar, malaporkan hal yang sama tentang Makdum  Husen pemimpin wilayah Cahyana. Panglima berkata, mustahil orang perkasa tanpa kelemahan. Pasti ada kelemahannya. Karena mereka tidak tahu kelemahan itu, panglima memutuskan untuk menemui Makdum Husein sendiri.

Panglima menemui Makdum Husein yang sedang membelah kayu dengan kapak untuk kayu bakar. Panglima memang melihat badan Makdum Husen yang perkasa, kekar berotot. Panglima hendak menguji keperkasaan Makdum Husein. Panglima mengambil batu sebesar kepalan tangan, dilemparkan ke arah Makdum Husen. Batu itu hancur mengenai punggung Makdum Husen. Panglima tercekat kagum. Makdum Husen kaget ada yang menyerangnya. Panglima tertawa, memuji kehebetan Makdum Husen yang merupakan cucu dari keturunan Raja Pajajaran. Panglima meminta Makdum Husen membantu kerajaan Pajajaran menggulingkan Demak, dengan cara wilayah Cahyana akan dijadikan benteng pertahanan Pajajaran. Walau Makdum Husen tahu bahwa kakeknya (Syeh Jambu Karang) adalah salah satu putra Pajajaran, namun Makdum Husen menolak permintaan Pajajaran dan lebih memilih setia pada Demak yang seiman dengannya. Panglima tidak terima, menganggap Makdum Husen mengkhianati leluhurnya, Pajajaran. Memihak Demak sama saja memihak trah dari keturunan Majapahit yang  merupakan musuh lama Pajajaran. Makdum Husen bilang, ia tidak mau terlibat permusuhan dengan siapapun, karena Allah sesungguhnya memerintahkan manusia di muka bumi untuk hidup rukun dan saling berdamai. Panglima tetap tidak terima, ingin membawa Makdum Husen menghadap Sri Baginda Raja Pajajaran. Karena menolak, Panglima menyerang Makdum Husen. Namun senjata kujang Panglima yang menusuknya, dipatahkan. Makdum Husen menyuruh Panglima memberikan senjata itu pada Raja Pajajaran. Jika Pajajaran berani menodai tanah Cahyana, Pajajaran akan mengalami nasib yang sama seperti kujang itu. Dengan geram dan dendam Panglima itu segera pergi. Namun diam-diam, Santri Makdum Husen membuntuti.

Panglima menemui prajuritnya yang masih menyamar dan menyusun rencana untuk menyerang Makdum Husen di Cahyana melalui bantaran sungai. Namun Santri Makdum Husen yang menguntit mengetahui rencana itu dan segera menyelinap pergi. Santri Makdum Husen mengikatkan gulungan surat kecil pada kaki burung merpati pos. Burung merpati pos itu dilepas agar menyampaikan surat itu pada Raden Patah. Makdum Husen sedang menyabit rumput untuk memberi makan ternak kambing. Ia melihat merpati pos yang terbang kalang kabutan dikejar burung elang yang hendak memangsanya. Makdum Husen melempar batu kerikil, kena burung elang itu hingga kabur. Burung merpati pos menukik turun, hinggap di tangan Makdum Husen. Makdum Husen membaca gulungan surat kecil, yang ternyata berisi surat rahasia untuk Raden Patah. Surat itu berisi soal rencana penyerangan Pajajaran terhadap Wilayah Cahyana. Makdum Husen tercenung sesaat, lalu mengantongi surat itu. Sebagai gantinya, ia mengikatkan rumput teki pada kaki merpati pos dan diterbangkannya lagi. Tak berapa lama Santrinya datang menyampaikan pada Makdum Husen soal rencana penyerangan Panglima dan Prajurit Pajajaran yang menyamar. Makdum Husein tersenyum sambil bilang sudah tahu hal itu. Santrinya jadi bingung dari mana Makdum Husen tahu. Kala itu ia melihat sarang tawon yang menggelantung di pohon. Makdum Husen mengambil sarang tawon itu dan dimasukkan ke dalam karung. Santrinya jadi makin bingung melihatnya.

Dengan karung berisi tawon itu, Makdum Husen dan Santrinya menuju ke sungai di mana Panglima dan Prajurit Pajajaran sudah menyeberangi sungai dan siap menyerang. Karung tawon itu dilemparkan ke pasukan Pajajaran. Tentu saja pasukan Pajajaran lari kalang kabutan oleh serangan tawon. Mereka akhirnya kembali menyeberangi sungai dan kembali ke Pajajaran. Untuk mengenang peristiwa pulangnya Pasukan Pajajaran itu, sungai tersebut diberi nama Kali Mulih (Sungai Pulang). Santrinya setuju. Santrinya berpamitan untuk pergi menemui kerabatnya di Demak. Makdum Husen merestuinya. Makdum Husen tersenyum menatapi kepergian santrinya. Ternyata Santri itu sebenarnya adalah mata-mata Demak yang bernama Patih Hedin. Ia sengaja dikirim Raden Patah untuk menyelidiki kesetiaan Cahyana pada Demak. Raden Patah menunjukkan rumput teki dan bertanya pada Patih Hedin, apa maksudnya ia mengirimkan rumput teki melalui merpati pos. Patih Hedin terkejut, bilang kalau ia tidak pernah mengirimkan rumput teki itu melalui merpati pos, melainkan surat. Raden Patah jadi bingung, dan menduga kalau ada yang mengganti surat rahasia itu dengan rumput teki. Sunan Kalijogo mengambil rumput teki itu dan menelitinya seksama. Sunan kalijogo dapat mengenali kalau rumput itu dari tanah Cahyana. Makdum Husen sudah tahu kalau ia dimata-matai. Raden Patah jadi tegang.

Sunan Kalijogo bersama Patih Hedin mendatangi Makdum Husen yang tengah menggali batu-batu di bukit untuk membangun pondokan. Makdum Husen tidak kaget dengan pengakuan santrinya (Patih Hedin) sebagai mata-mata Demak yang diperintah Raden Patah untuk mengawasi gerak-gerik Makdum Husen di Cahyana. Makdum Husen bilang ia sudah tahu dari surat merpati pos kalau Patih Hedin adalah orang utusan Demak. Patih Hedin meminta maaf karena telah memata-matainya. Makdum Husen hanya tersenyum dan mengangguk. Sunan Kalijogo menyampaikan salam hormat dan rahmat dari Raden Patah, dan berkenan mengutus Makdum Husen sebagai Wali dari Demak untuk membawa misi Islam ke negeri Medang Kamulan. Bahwa Medang Kamulan merupakan negeri yang merdeka, tidak termasuk Pajajaran (Sunda) maupun Majapahit dan Demak. Medang Kamulan sering dikatakan sebagai negeri transit sehingga muncul nama lain misalnya Medang Sekori, Jawa Pawwatan (Jawa Pamotan) dan Pura Medang. Tapi Demak sudah mencium gelagat dari Pajajaran untuk menguasai wilayah Medang Kamulan untuk menyerang Demak. Jika sampai terjadi perang terbuka antara Demak dan Pajajaran, akan memakan banyak korban jiwa dan rakyat akan menderita. Jika Makdum Husen berhasil masuk ke wilayah Medang Kamulan dan menyebarkan dakwah Islam di sana, maka kemungkinan besar syiar Islam bisa masuk ke wilayah Banten dan wilayah Pasundan lainnya untuk menghambat gerakan Pajajaran. Makdum Husen menjawab, atas nama Allah, ia akan menjalankan syiar Islam dengan damai. Saat itu di bagian tebing bukit, ada Panglima Pajajaran yang masih dendam karena mukanya bopeng-bopeng kena sengatan tawon, ingin membunuh Makdum Husen. Panglima dan prajuritnya menggelundungkan batu besar dari atas bukit. Tapi kedua tangan Makdum Husen yang kekar berotot dapat menangkap dan menahan batu besar itu bagai mengangkat batu apung saja. Batu itu lalu dilemparkan kembali ke atas tebing dan jatuh berdebum memuncratkan tanah. Panglima dan prajuritnya terpental dan lari kalangkabutan. Sunan Kalijogo sangat kagum dan memuji Makdum Husen sebagai orang yang Prakoso (Perkasa). Sunan Kalijogo pun menyuruh Makdum Husen memakai nama Wali Prokoso (Wali yang Perkasa) setibanya di Medang Kamulan.

Panglima kesal atas kegagalannya membunuh Makdum Husen. Prajurit mengajak Panglimanya kembali ke Pajajaran. Namun Panglima malah marah. Panglima mengaku dendam kesumat pada Makhdum Husen karena mukanya makin terasa perih dan panas, jadi rusak bopeng-bopeng akibat sengatan tawon, kayak luka cacar air. Sebelum ia dapat membunuh Makdum Husen, ia tidak puas. Ia sudah tahu kalau Makdum Husen akan ke Medang Kamulan untuk menyebarkan syiar Islam Demak.  Panglima mengajak prajuritnya untuk lebih dulu bergerak ke Medang Kamulan dan membunuh Makdum Husen di sana, dengan cara mempengaruhi Putra Mahkota Medang yang gemar berjudi dan perempuan. Usai sholat lohor berjamaah, Sunan Kalijogo mengambil segenggam pasir dan dimasukkan ke dalam kantung kecil. Karena Pasir itu diambil sehabis sholat lohor maka diberi nama pasir luhur. Pasir itu diberikan pada Makdum Husen sebagai bekal. Makdum Wali segera berangkat ke Medang Kamulan.

Di negeri Medang Kamulan… Banyak Thole (putra Mahkota) membikin ulah. Ia mabuk dan hendak mengambil istri salah seorang warga. Warga tak berani melawan karena takut. Namun muncul prajurit Pajajaran yang menyamar sebagai warga menyerang Banyak Thole. Banyak Thole yang mabuk berhasil dikalahkan. Pada saat itu, muncul sang Panglima yang juga menyamar sebagai Pengembara, menolong Banyak Thole dengan pura-pura menghajar prajuritnya sendiri yang menyamar sebagai warga. Banyak Thole senang atas pertolongan Panglima yang menyamar itu dan mengaku bernama Carang Andhul. Banyak Thole mengangkat Carang Andhul sebagai pengawalnya. Carang Andhul senang, siasatnya berhasil. Banyak Thole curhat pada Carang Andul, bahwa ia kesal pada ayahnya (Banyak Belanak) yang tidak segera memberikan tahta kerajaan Medang Kamulan padanya. Sementara ia kawatir ayahnya akan memberikan tahta pada pamannya (Banyak Geleh). Carang Andul mempengaruhi Banyak Thole agar membuat kerusuhan untuk memancing di air keruh. Semakin banyak kerusuhan, makan semakin terbuka peluang untuk mengambil alih kekuasaan di Medang. Banyak Thole termakan hasutan.

Makdum Wali sampai di suatu kampung wilayah Medang Kamulan. Ia melihat warga kampung tepian sungai yang menyembah buaya dengan memberikan persembahan berupa ayam yang dilemparkan ke sungai. Ayam itu langsung hilang di dalam air karena dicaplok buaya. Wali Prakoso mencoba mengingatkan warga agar tidak menyembah buaya, tetapi menyembah Allah yang Maha Pencipta. Namun warga marah dan mengusir Wali Prakoso. Kejadian itu dilihat oleh Banyak Thole dan Carang Andhul. Carang Andul menghasut Banyak Thole bahwa Wali Prakoso adalah orang berbahaya yang disusupkan Demak untuk menyebarkan agama berbahaya di Medang.  Banyak Thole jadi geram. Carang Andhul terus menghasut, bahwa waktunya membuat kekacauan dengan fitnahan bahwa Wali Prokosolah yang membuat kekacauan.

Wali Prakoso baru selesai sholat di atas batu. Warga datang penuh kemarahan, menyerang Wali Prokoso yang dianggap telah membuat buaya marah dan menyerang kampungnya. Tapi senjata pentungan warga yang menghujam tubuh Wali Prakoso pada patah. Warga jadi mundur takut. Warga kembali panik melihat buaya muncul dan mengakuk. Dengan kekuatannya, Wali Prakoso dapat mengalahkan buaya itu. Buaya besar itu ditangkap ekornya, diputar-putar ke udara lalu dibanting ke tanah hingga klenger. Wali Prakoso bilang, jika buaya itu Tuhan tidak akan mungkin akan mengamuk dan hendak memangsa yang menyembahnya. Buaya adalah binatang buas yang tidak layak disembah. Warga jadi sadar, bahkan marah pada buaya itu. Warga hendak membunuh buaya untuk dijadikan santapan, namun Wali Prokoso melarangnya. Bahwa walaupun buaya binatang buas, Allah melarang untuk membunuhnya karena buaya tidak boleh dimakan.

Banyak Geleh mempertemukan Wali Prakoso dengan kakaknya Banyak Belanak yang merupakan Adipati Medang Kamulan. Rencana Wali Prakoso untuk menyebarkan ajaran Islam di Medang diterima dengan baik. Banyak Belanak mengaku bahwa dia sudah sering mendengar tentang ajaran Islam Walisongo dan ia ingin tahu lebih jauh tentang ajaran agama Islam. Banyak Belanak menyuruh Wali Prakoso menyebarkan dakwah Islam ke daerah Medang di sebelah barat, yaitu daerah Kelundung Bentar, Endralaya, Batulaya, Timbanganten, Ukur, dan Cibalunggung dan daerah Priyangan Timur yang berada di sebelah timur Sungai Citarum, karena daerah itu sering terjadi kekacauan. Wali Prakoso menyanggupi. Banyak Geleh menawarkan diri untuk mendampingi.

Ketika berada di daerah Cibalunggung wilayah sungai Citarum, Wali Prakoso dan Banyak Geleh mendapat serangan dari Sultan Banten. Sultan Banten mengira mereka adalah pengacau dari Pajajaran yang ingin mengganggu ketentraman Banten. Namun Sultan Banten kalah perkasa melawan Wali Prakoso. Tapi mereka sama-sama insyaf karena salah paham. Ternyata Sultan Banten sudah menganut Islam. Mereka saling meminta maaf dan berjanji menjalin persaudaraan untuk menghalangi gerakan pengacau dari Pajajaran melalui syiar Islam. Wali Prakoso membantu Sultan Banten membendung sungai Citarum untuk bisa mengalir ke sawah penduduk. Dengan tenaganya yang sangat perkasa, Wali Prakoso mengangkat batu-batu besar yang akhirnya dapat membendung sungai Citarum hingga mengalir ke irigasi pertanian.

Banyak Thole melakukan pertemuan rahasia dengan Carang Andhul dan prajurit rahasia Pajajaran. Banyak Thole menyuruh mereka menyerang keraton dan membunuh ayahnya agar ia segera naik tahta, selagi pamannya (Banyak Galeh) sedang tidak ada karena pergi bersama Wali Prakoso.  Wali Prakoso dan Banyak Geleh tiba di Medang. Saat itu waktunya sholat Luhur. Wali Prakoso mengajak Banyak Belanak dan Banyak Geleh untuk sholat Luhur berjamaah. Banyak Belanak mendatangi mereka dengan panik, bahwa Pasukan Pajajaran sudah ada di perbatasan untuk menyerang Medang Kamulan. Wali Prakoso melihat Carang Andhul dan prajuritnya di kejauhan. Wali Prakoso mengeluarkan kantung pasir luhur pemberian Sunan Kalijogo. Pasir itu ditebar ke arah prajurit Pajajaran.

Pasir Luhur itu menjadi badai pasir yang dahsyat menghalau Carang Andhul dan prajuritnya. Mereka kalang kabutan oleh Badai Pasir Luhur. Banyak Belanak dan Banyak Geleh sangat takjub melihatnya. Banyak Belanak berkenan menyebut tempat itu sebagai Pasir Luhur. Patih Hedin datang membawa amanat dari Raden Patah. Raden Patah melalui suratnya, memberikan gelar Pangeran Senapati Mangkubumi kepada Banyak Belanak. Banyak Geleh diberi anugerah gelar Patih Wirakencana, sementara Wali Prakoso ditasbihkan sebagai Pangeran Syehk Makhdum Wali Prakoso. Namun demikian, Demak tetap mengakui Medang Kamulan sebagai kerajaan merdeka yang terbebas dari pungutan pajak. Anugerah itu diterima dengan gembira oleh banyak Belanak. Bahkan Banyak Belanak berfatwa, bahwa kerajaan Medang Kamulan namanya akan diganti dengan nama Kerajaan Pasir Luhur yang akan menerapkan hukum-hukum pemerintahan sesuai dengan syariat Islam. Dan Pangeran Syehk Makdum Wali Prakoso diangkat sebagai Penghulu kerajaan yang akan menjalan syariat Islam di negeri Pasir Luhur. Dan Pasir Luhur akan mendirikan sebuah masjid sebagai pusat ibadah. Banyak Thole jadi geram karena niatnya untuk merebut tahta ayahnya makin gagal.

Warga bergotong royong membangun masjid Pasir Luhur. Wali Prakoso mengangkat  batu besar sebagai pondasi. Dengan sekali pukul pakai palu besar, batu itu hancur menjadi bongkahan untuk pondasi. Wali Prakoso memanggul gelondongan kayu dari hutan. Gelondongan kayu itupun dijadikan tiang soko guru. Wirakencana (Banyak Geleh) membantu warga membuat bilik dari bambu tali. Banyak Thole pura-pura ikut membantu. Saat itu Wirakencana yang membelah bambu tak sengaja bilah bambu tali mengenai lengan Wali Prakoso hingga mengucurkan darah. Wirakencana panik dan segera mengobatinya dengan getah pelepah pisang hingga lukanya mampat. Tapi Banyak Thole girang dalam hatinya. Ternyata Wali Prakoso yang perkasa dan kebal senjata, bisa terluka dengan bambu tali. Berarti ia bisa membunuh Wali Prakoso dengan bambu runcing.

Masjid yang sebetulnya menyerupai Langgar telah selesai dibangun. Sunan Kalijogo datang, mengukur arah kiblat dengan arah matahari. Sunan Kalijogo memberitahu kalau arah kiblat masjid kurang tepat, harus diluruskan sesuai arah kiblat yang benar. Banyak Belanak dan Banyak Geleh serta warga bingung, bagaimana menggeser kiblat masjid yang sudah berdiri. Wali Prakoso berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan menggeser Masjid sesuai arah kiblat. Semua takjub melihat kekuatan Wali Prakoso yang mampu menggeser arah kiblat masjid sesuai dengan petunjuk Sunan Kalijogo.

Wali Prakoso sedang mengambil air wudhu bersama Banyak Geleh. Saat itu, Banyak Thole dan Carang Andhul sama-sama memegang bambu runcing, dan melemparkan bambu runcing ke arah Wali Prakoso. Wali Prakoso sempat mendengar suara di belakangnya, segera menoleh. Ia kaget melihat 2 bambu runcing melesat ke arahnya. Satu bambu runcing berhasil ia tepis, namun satu bumbi runcing lagi berhasil menggores pundaknya. Sunan Kalijogo yang baru datang bersama Banyak Belanak ikutan panik. Banyak Belanak marah menyuruh menangkap orang yang melempar bambu runcing. Banyak Thole menyuruh Carang Andhul kabur. Banyak Belanak menyuruh Banyak Geleh mengejarnya. Namun Carang Andhul sudah menghilang. Sunan Kalijogo sejenak berdoa, lalu memberikan obat untuk menyembuhkan luka Wali Prakoso.

Banyak Belanak dan Banyak Geleh geram karena orang yang hendak membunuh Wali Prakoso tidak dapat ditangkap. Sunan Kalijogo bilang pada Wali Prakoso, kalau ada orang yang sudah mengetahui kelemahan dari kekuatan tubuhnya. Wali Prakoso hanya tersenyum, bahwa nyawanya tidak tergantung pada bambu tali, melainkan pada Allah. Kalau Allah  berkehendak,  jangankan dengan bambu tali, hanya dengan kejatuhan daunpun ia akan bisa mati. Sunan Kalijogo mengamini. Sunan Kalijogo melihat banyak serpihan kayu (tatal) di tanah yang akan dijadikan kayu bakar. Sunan Kalijogo mengambil beberapa tatal, lalu disatukan. Sunan Kalijogo lalu menyampaikan  keinginannya untuk membangun Masjid Agung Demak dengan tiang soko guru dari susunan tatal. Sunan Kalijogo meminta Wali Prakoso, Banyak Belanak dan Wirakencana agar membantu pembangunan Masjid Agung Demak. Mereka menyanggupi.

Seperginya Wali Prakoso bersama Banyak Belanak dan Wirakencana ke Demak bersama Sunan Kalijogo, Banyak Thole langsung mengambil alih kerajaan Pasir Luhur bersama Carang Andhul. Warga yang sedang melakukan ibadah di langgar dikacau balau. Bahkan Langgar dibakar. Perempuan-perempuan diambil dengan paksa. Pasir Luhurpun kisruh. Banyak Thole memboleh warganya menggelar perjudian dan mabuk-mabukan. Bahkan boleh mengambil perempuan manapun sesukanya.

Wirakencana bilang, saat ia terkena racun tadi, ia membayangkan kakaknya sedang dalam keadaan yang sama. Sekarat. Ia merasa seperti mendapat fitasat dan ingin kembali ke Medang. Tiba-tiba datang seorang utusan dari Pasir Luhur memberitahu, bahwa Banyak Thole telah mengubur ayahnya hidup-hidup. Banyak Geleh dan Wali Prakoso sangat terkejut mendengar. Banyak Geleh bahkan merutuki kebejatan keponakannya itu.

Kuburan Banyak Belanak segera digali. Benar saja, banyak Belanak memang dikubur hidup-hidup oleh Banyak Thole yang durhaka dan murtad. Banyak Belanak dalam keadaan sekarat sulit bernafas. Wirakencana menangis sedih melihat kakaknya seperti itu. Wali Prakoso menyuruh Banyak Belanak istghfar dan ditanya. Banyak Belanak bilang sudah iklas untuk menghadap Allah. Ia ingin Pasir Luhur dilanjutkan oleh adiknya Banyak Geleh (Wirakencana) dan meminta putranya diampuni. Dengan mengucap syahadat, Banyak Belanak akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Sampai di Pasir Luhur, utusan mengajak Banyak Geleh dan Wali Prakoso melewati jalan setapak. Banyak Geleh sempat curiga kenapa utusan itu mengajaknya lewat jalan itu. Utusan bilang, jalan ini menuju tempat di mana Banyak Geleh dikubur hidup-hidup oleh Banyak Thole. Banyak Geleh jadi makin dibakar amarah sehingga bergegas bersama Wali Prakoso. Tapi utusan lari lebih dulu. Mereka jadi penasaran dan memanggilnya. Ternyata jebakan sudah menanti. Susunan bambu runcing melayang dari atas pohon nyaris menghantam mereka. Mereka lolos dari jebakan itu, namun belasan bambu runcing lainnya melesat ke arah mereka. Wali Prakoso sempat tergores oleh bambu runcing. Namun Wirakencana dapat membuat bambu runcing mereka terpental.  Wali Prakoso menaburkan pasir luhur yang menjadi badai pasir yang dahsyat menggulung Banyak Thole dan Carang Adhul.

Perihal edywitanto
wira wiri mlaku bareng angin

One Response to Wali Prakoso dan Pasir Luhur

  1. dildaar80 mengatakan:

    Assalamu ‘alaikum..

    jazakumullah atas artikel bagus ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: