“Suasana roh kala meninggalkan tubuh”

“Suasana roh kala meninggalkan tubuh”

 Sekujur tubuh terbaring, muka pucat, sejuk, beku dan kaku tidak bermaya.Tapi nun di satu sudut, rohnya masih berada di sisi jasad memperhatikan saja tubuhnya di perlakukan orang. Sewaktu semua perhiasan dan pakaian yang di banggakan dulu di bukakan maka terdengarlah roh menjerit-jerit, merintih dan merayu. Semua makhluk mendengar jeritan kecuali jin dan manusia.

“Wahai orang yang memandikan, ku minta kepadamu kerana Allah, supaya melepaskan pakaianku dengan perlahan-lahan. Sebab pada saat ini aku baru saja beristirahat daripada seretan malaikat maut…!”

Oleh itu, ketika hendak menanggalkan pakaian-pakaian saudara kita yang yang telah meninggal sebaiknya dilakukan dengan perlahan. Jika susah untuk dibuka, gunting saja pakaian tersebut. Orang yang meninggal dunia (yakni ketika roh di cabut oleh malaikat maut), sakitnya seperti di tikam 300 kali. Walaupun pada lahirnya tubuhnya masih sempurna tapi pada hakikatnya tubuh tersebut telah hancur luluh.

Begitu juga waktu dimandikan, dikafankan, dan seterusnya sewaktu di usung ke kubur, roh senantiasa merintih mengharapkan pembelaan daripada manusia. Sewaktu air disiramkan ke badannya ia berteriak: “Wahai orang yang memandikan roh, Demi Allah, janganlah engkau menuangkan air mu dalam keaadaan panas. Dan jangan pulak terlalu sejuk.Sebab tubuhku terbakar dengan keluarnya roh.”

Dan ketika mereka memandikan berkatalah roh: “Demi Allah, Wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menggosok aku dengan kuat. Sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya rohku.”

Sewaktu di mandikan dan di bersihkan najis kepada kemaluan, janganlah di biarkan mayat tersebut terbuka hingga menampakkan auratnya, sudah tentu roh berasa malu dan menangis bila auratnya di pertunjukkan pada orang. Sedangkan ketika hidup sangat di jaga auratnya itu.

Begitulah seterusnya, mayat merasa sakit sekiranya tubuhnya di perlakukan dengan kasar. Untuk mengatasi masalah ini, keluarga dan juga para tamu yang datang janganlah cuma menangis dan bersedih. Sebaliknya hulurkanlah bantuan dengan menghadiahkan bacaan Ya’asin ataun sekurang-kurangnya sedekahkanlah Al Fatihah.

Rasulullah sendiri melarang berbincang bincang hal-hal dunia di hadapan mayat. Apalagi mengumpat dan menceritakan keburukkannya semasa hidup. Begitu juga dengan memasak dan makan-minum di rumah yang di dalamnya ada mayat. Usahakanlah memberi bantuan kepada kaum keluarga yang telah ditinggalkan oleh saudara mereka.

Sewaktu mayat dikeluarkan dari rumah, roh pun meyeru:
“Demi Allah, wahai jemaah ku, Aku telah meninggalkan isteriku menjadi janda. Maka janganlah kamu menyakitinya.Anak-anak ku7 telah menjadi yatim, maka janganlah kalian menyakiti mereka.. Sesungguhnya Pada hari ini aku dikeluarkan dari rumahku dan aku tidak akan kembali selamanya.”
Perkara-perkara yang perlu di tekankan di sini untuk umat Islam:
Jangan di sediakan makan dan minum di rumah yang ada mayat kerana pernah saya menghadiri pengkebumian saudara-saudara kita dan masih ramai malah mereka dengan tidak sedar menyediakan makan minum kepada para tamu yang datang melayat orang yang meninggal kerana mereka sebenarnya tidak tahu(jahil)
Asingkanlah tempat untuk di mandikan mayat tadi dari pandangan orang dan setidaknya di tiraikan kain atau langsir atau tempat khusus bagi menjaga keaiban pada mayat tadi.Dan yang paling diingat, Jangan membongkar keaiban orang yan sudah meninggal tadi selepas kita mandikan mayatnya. Najis keaiban itu adalah suatu dosa yang paling besar!!!! Naudzubillah

Oleh sebab itu di tekankan di sini, sebaik baiknya orang yang akan sama-sama untuk memandikan mayat biarlah dari kaum keluarga yang paling dekat sekali terutama anak-anak dan cucu-cucu.Dalam menjaga keaiban keluarganya yang telah pergi, Semoga di berkati oleh Allah adanya.

Jangan berdiam diri saja atau berbincang -bincang dalam soal keduniaan apabila kita melawat orang yang meninggal karena mayat tersebutsesungguhnya berada dalam keaadan kesakitan sehingga di kuburkan. Sebaik -baiknya bacalah Yaasin dan sedekahkanlah Al Fatihah untuk orang yang telah meninngal dunia.

Penghantaran ke kuburan, sebaik-baiknya kaum keluarga yang terdekat sekali terutama anak –anak dan cucu-cucu mengusung dan menguburkan mayat sehingga akhir, ke liang-Lahat karena mereka lebih mengetahui, lebih memahami, lebih mengenal, lebih terasa akan kehalusan persaudaraan dalam aspek menjaga , mengawal dan menentukan mayat akan lebih selesai dari saat menghembuskan nafas terakhir sehingga di kuburkan..

Dalam suatu riwayat di sebutkan: Sewaktu roh terpisah dari tubuh, ia di panggil dari langit dengan tiga kali jeritan:

“Wahai anak Adam! “
“Apakah kamu meninggalkan dunia atau dunia meninggalkan kamu?”
“Apakah kamu mengumpulkan dunia ataukah dunia mengumpulkan kamu?”
“Apakah kamu mematikan dunia ataukah dunia mematikan kamu?”
Sewaktu mayat di pikul di atas usungan, terdengar lagi tiga jeritan:

Wahai anak Adam!
“Sangat berbahagialah kamu jika kamu termasuk orang yang bertaubat.”
“Sangat berbahagialah kamu jika amalanmu baik.”
“Sangat berbahagialah kamu jika sahabat-sahabatmu dalam keredhaan Allah.”
Sewaktu mayat di letakkan untuk di sholatkan maka ia di panggil tiga kali teriakan:

Wahai anak Adam!
“Segala amal yang telah kamu lakukan akan kamu lihat!”
“Jika amal perbuatan baik, maka kamu akan melihat baik!”
“Jika amal perbuatan kamu jelek, kamupun akan melihat jelek!”
Kemudian apabila mayat sudah berada di tepi kubur
Ia memanggil lagi dalam tiga teriakan

Wahai anak Adam!
“Bukankah kamu menambah damai pada tempat yang sempit ini?”
“Bukankah kamu membawa kekayaan di tempat kefakhiran ini?”
“Bukankah kamu membawa cahaya penerang di tempat yang gelap ini?”
Dan jika mayat di letak di liang lahat maka ia pun dipanggil dengan teriakan tiga kali

Wahai anak Adam!
“Kamu diatas punggungku bersenda gurau, tapi kamu dalam perut ku menjadi menangis.”
“Kamu berada di atas punggungku bergembira ria, tapi kamu dalam perutku menjadi cemas dan duka.”
“Kamu di atas punggungku dapat berbicara, tapi kamu dalam perutku menjadi diam.”
Setelah para manusia pulang meninggalkan mayat yang sudah dikuburkan itu lalu Allah SWT berfirman”Wahai hamba Ku, kamu tetap terpencil dan sendirian, para manusia sudah pergi dan pualang meninggalkanmu dalam kegelapan kubur. Padahal kamu telah berbuat maksiat kepadaKu karena para manusia, karena isteri dan karena anak. Namun aku sangat kasihan kepada mu pada hari ini dengan limpahan rahmat, yang dengannya para makhluk sama kagum. Dan aku lebih kasihan kepada mu daripada kasih ibu kepada anaknya.”
Demikianlah keterangan dalam suatu riwayat mengenai beberapa ucapan dan jeritan serta teriakan yang di tujukan kepada mayat, sejak rohnya lepas dari tubuhnya sehingga mayat ditutup tanah dalam kubur.
SubhanaAllah……

sumber : http://cantiksdansholehah.blogspot.com/

Perihal edywitanto
wira wiri mlaku bareng angin

11 Responses to “Suasana roh kala meninggalkan tubuh”

  1. priyo gunawan mengatakan:

    Siap2 sebentar lagi.

  2. Tampeng Id mengatakan:

    Terima kasih infonya bang,jadi merinding pengen tobat nih :”(

    • edywitanto mengatakan:

      semoga adminpun selalu ingat

  3. prestil barapai mengatakan:

    apa kah benar surga itu ada ……

    • edywitanto mengatakan:

      menurut anda bagaimana ada apa tidak ? menurut admin surga itu ada jika ingin membuktikan surga itu ada … jelas tidak bisa sebab pada saat ini neraka belum di nyalakn dan surga belum di dekatkan
      sebenarnya admid ingin menulis tentang kemampuan ilmu yang berdasarkan bukti dan fakta sayang pada saat ini admin belum sempat mengotak atik situs ISLAM DAN ALQURAN sebab banyak aktifitas,

      manusia disamping pandai juga di anugerahi akal yaang kuat akan tetapi juga tempatnya salah dan lupa menurut ilmu yang paling di yakini sekarang adalah bukti dan fakta

      Admin Ingin bertanya sedikit kepada anda . . .Bagaiman Suasana anda Kla hidup di dalam rahim ibu anda?mapukah anda menceritakan kepada admin ?
      jika tidak mampu beranikah anda mengatakan kepada admin bahwa anda tidak pernah hidup didalam rahim ibu anda?

      satu lagi pertanyaan admin bagaimana cara anda membaca pada selembar kertas yang bertuliskan cinta, kebayakan orang cara membacanya adalah cinta sesuai dengan tulisan tersebut akan tetapi jika di amati lebih dalam ternyata cara membaca secara fakta adalah kosong kosong kosong bayak sekali kosong baru di baca C kosong I kosong N kosong t kosong a kosong kosong dan bayak sekali ruang kosong pada selembar kertas . . . beranikah anda mengatakan kepada admin bahwa ruang kosong pada kertas yang bertuliskan cinta itu tidak ada

      perlu dikaji lebih dalam dan admin ucapkan terimah kasih atas partisipasinya

  4. ayinda mengatakan:

    mrs plg cantik,klo roh ud lps dri raga kecantikan g ad artx..

    • edywitanto mengatakan:

      benar

  5. wahyu mengatakan:

    Saya jadi ingat sudara2 kita yg hidup di kota2 metro (kayak Jakarta), banyak banget yg keblinger, semoga Allah memberi rahmat dan ampunan kpd kita semua<Amiin

  6. hendri mengatakan:

    ” Sebaik -baiknya bacalah Yaasin dan sedekahkanlah Al Fatihah untuk orang yang telah meninggal dunia. ” saya pernah dengar ceramah seorang ustadz, bahwa orang yg sudah meninggal semuanya akan terputus, kecuali 3 perkara ” 1. ilmu yg bermanfaat, 2 doa anak sholeh, 3 amal sodaqoh “” pertanyaan saya ” apakah bacaan yasin dan al fatihah akan sampai buat yg meninggal “” mohon pencerahannya,,, terima kasih,, semoga Allah memberikan rahmatdnya kepada anda yg telah menyebarkan Ilmu yg bermanfaat

    • edywitanto mengatakan:

      maaf baru bisa membalas pertanyyan anda

      Hadist diatas adalah benar sesuai dengan surat yasin ayat 12
      Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).

      Al Baqarah201. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”

      202. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya

      saya kutip perbedaan yang sampai sekarang masih berlangsung pada lamat

      http://kirimpahala.blogspot.com/2012/05/mengirim-pahala-kepada-mayit.html

      MENGIRIM PAHALA KEPADA MAYIT

      Inkarus sunnah beranggapan bahwa seseorang tidak boleh bersedekah, berhaji, berpuasa yang pahalanya diberikan kepada orang lain karena pahalanya tidak akan sampai. Mereka berdalil dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits berikut:
      “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An Najm: 39)
      “Barang siapa mengerjakan amal sholih, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Rabb-mulah kamu dikembalikan.” (QS. Al Jaatsiyah: 15)
      Nabi bersabda: “Jika anak Adam mati, maka akan terputus seluruh amal perbuatannya kecuali pada 3 hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim: Al-Washiyyah, bab: Maa Yalhaqul Insaan Minats Tsawaab Ba’da Wafaatihi hadits no. 14)

      Inkarus Sunnah yang berpegang pada zhohir ayat ini maka akan menolak banyak hadits Nabi tentang mengirimkan manfaat untuk orang lain seperti bersedekah, berhaji, atau berpuasa untuk orang lain. Hadit-hadits tersebut antara lain:
      a. Dalam Kitab Shohih Bukhari, Abdullah bin Abbas menceritakan bahwa ibunda Sa’ad bin Ubadah wafat di saat Sa’ad sedang tidak ada di dekatnya. Sa’ad kemudian datang kepada Nabi shollallahu ’alaihi wasalam seraya berkata: ”Rasulullah, ibu saya telah wafat ketika saya sedang tidak ada di dekatnya. Apakah bermanfaat untuknya jika bersedekah atas namanya?” Beliau membenarkan. Sa’ad berkata: ”Saksikanlah bahwa kebun saya yang berbuah lebat ini menjadi sedekah atas namanya.” (HR. Bukhari dalam Al-Washaya 5/453)
      b. Abu Hurairah dalam Kitab Shohih Muslim menuturkan bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi shollallahu ’alaihi wasalam: ”Ayah saya telah wafat. Ia meninggalkan sejumlah harta, tetapi tidak sempat berwasiat. Apakah cukup bermanfaat untuknya jika saya bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab: ”Benar.” (HR. Muslim dalam Al-Washiyyah 3/1454)
      c. Ibnu Abbas bercerita: Seseorang datang kepada Nabi shollallahu ’alaihi wasalam lantas berkata: ”Rasulullah, ibu saya meninggal dunia, dan ia mempunyai hutang puasa selama satu bulan. Mestikah saya mengqadha puasa untuknya?” Beliau menjawab: ”Ya, sebab hutang kepada Allah lebih patut untuk dilunasi.” (HR. Bukhari dalam Ash-Shaum 1817, Muslim dalam Ash-Shaum 1946, Ahmad dalam Al-Musnad 1868)
      d. Dari Aisyah Nabi shollallahu ’alaihi wasalam bersabda: ” Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya.” (HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147)
      e. Dalam Kitab Shohih Bukhari dari Ibnu Abbas menuturkan bahwa seorang wanita dari Juhainah datang menghadap Nabi shollallahu ’alaihi wasalam. Si wanita lantas berkata: ”Ibu saya pernah bernazar untuk menunaikan ibadah haji. Namun ia belum sempat menunaikannya lantaran keburu meninggal dunia. Bolehkah saya menunaikan ibadah haji atas namanya?” Beliau berkata:”Silakan engkau menunaikan ibadah haji atas namanya. Menurutmu seandainya ibu engkau itu masih mempunyai hutang, apakah kamu akan melunasi hutangnya itu? Hendaklah kalian melunasi hutang kepada Allah, sebab Dia paling berhak mendapat pelunasan.”

      Inkarus sunnah yang mengingkari hadits-hadits di atas, sebenarnya tidak konsisten dengan prinsip yang mereka anut. Mengapa? Karena mereka menolak sebagian, tetapi mengimani sebagian yang lain. Mereka menganggap bahwa mendoakan orang tua, saudara, keluarga, maupun kaum muslimin itu bermanfaat.
      “Dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
      “Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)
      “Apabila kalian mensholati mayat, hendaklah kalian mengikhlaskan doa untuknya.” (HR. Ibnu Majah dalam Al-Janaiz 4801 dan Abu Dawud dalam Al-Janaiz 3/2073)
      Mendoakan orang tua, saudara, maupun kaum mukminin sangat bermanfaat bagi orang yang didoakan, padahal mendoakan bukanlah amalan sendiri tetapi amalan orang lain.

      Mereka juga menganggap bahwa mensholati jenazah itu akan bermanfaat bagi si mayit.
      Nabi bersabda: “Tidaklah seorang mayit disholatkan oleh sekelompok orang Islam yang jumlah mereka mencapai 100, semuanya memintakan syafa’at untuknya, melainkan syafa’at itu akan diberikan pada dirinya.” (HR. Muslim no. 947, 58)
      Bukankah sholat jenazah ini merupakan amalan orang lain bukan amalan si mayit, tetapi ternyata amalan orang lain ini bermanfaat bagi si mayit.

      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ditanya tentang Surat An-Najm 39 dan hadits Muslim “Jika anak Adam mati…” : Apakah hal itu mengharuskan bahwa jika seseorang meninggal dunia, maka tidak akan ada satupun dari amal kebajikan yang sampai kepadanya? Maka Ibnu Taimiyyah menjawab:
      “Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Tidak disebutkan dalam ayat dan hadits di atas bahwa orang yang sudah meninggal dunia tidak dapat mengambil manfaat dari doa yang dipanjatkan untuknya dan amal kebajikan yang dilakukan baginya. Seluruh umat Islam sepakat bahwa orang yang sudah meninggal dunia dapat mengambil manfaat dari itu semua. Hal ini termasuk yang diketahui dalam agama Islam secara pasti dan telah dibuktikan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’. Barang siapa yang menyalahinya, maka dia termasuk ahli bid’ah. Allah berfirman:
      “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al Mu’min: 7-9)
      Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa para malaikat mendoakan ampunan, penjagaan dari siksa dan masuk surga bagi kaum mukminin. Doa malaikat bukan merupakan amal perbuatan manusia.” (Majmu’ Fatawa oleh Ibnu Taimiyyah jilid 24 hal 239 cet. 1 Darul Kalimah Ath-Thayyibah)

      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidaklah mesti setiap hal yang bisa diambil manfaatnya atau menjadi sebab rahmat oleh orang yang sudah meninggal dunia atau orang yang masih hidup berasal dari usahanya sendiri. Bahkan bayi-bayi kaum muslimin akan masuk surga bersama ayah-ayah mereka dengan tanpa usaha. Yang tidak dapat diambil manfaatnya adalah yang khusus dimanfaatkan secara keseluruhan, agar seseorang tidak hanya mengharapkan pahala dari usaha orang lain. Seperti halnya hutang yang dilunasi oleh seseorang untuk orang lainnya sehingga dia menjadi terbebas dari tanggungannya, namun dia tidak berhak untuk menuntut pelunasan hutangnya, justru diharapkan dialah yang melunasi hutangnya sendiri.” (Majmu’ Fatawa oleh Ibnu Taimiyyah jilid 24 hal 239 cet. 1 Darul Kalimah Ath-Thayyibah)

      Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya berkata: “Adapun berdoa dan bersedekah, maka keduanya telah disepakati (ijma’) akan sampai kepadanya (mayit), dan keduanya memiliki dasar dalam nash syariat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7 /465)
      Imam An-Nawawi setelah menyebutkan rentetan hadits-hadits yang menjadi hujjah sampainya sedekah kepada mayit mengatakan: “Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya bersedekah untuk mayit dan itu disunahkan melakukannya, dan sesungguhnya pahala sedekah itu sampai kepadanya dan bermanfaat baginya, dan juga bermanfaat buat yang bersedekah. Dan, semua ini adalah ijma’ (kesepakatan) semua kaum muslimin.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/20.)
      Abu Ja’far Ath-Thahawi berkata: “Do’a dan sedekah orang yang hidup dapat bermanfaat bagi mereka yang sudah mati.” (Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah masalah ke-100)
      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Para imam telah sepakat bahwa sedekah akan sampai kepada mayit, demikian juga ibadah maliyah (harta), seperti membebaskan budak.” (Majmu’ Fatawa, 5/466)
      Abu Sulaiman Walid Al Baji mengatakan: “Maka, Nabi Saw mengizinkan bersedekah darinya, hal itu diizinkan untuknya, karena sedekahnya itu termasuk apa-apa yang bisa mendekatkan dirinya (kepada Allah).” (Al Muntaqa’ Syarh Al Muwatta’, 4/74)
      Ibnu Qudamah mengatakan: “Amal apapun demi mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala yang dilakukan oleh manusia dan menjadikan pahalanya untuk mayit seorang muslim, maka hal itu membawa manfaat bagi mayit itu.” (Al Mughni, hal. 567-569)
      Khathib Asy Syarbini mengatakan: “Sedekah bagi mayit membawa manfaat baginya, wakaf membangun masjid, dan membuat sumur air dan semisalnya.” (Mughni Muhtaj, 3/69-70)
      Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya Bab Maa Yustahabu Liman Tuwufiya Fuja’atan An Yatashaddaquu ‘Anhu wa Qadha’i An Nudzur ‘anil Mayyit (Bab: Apa saja yang dianjurkan bagi yang wafat tiba-tiba, bersedekah untuknya, dan memenuhi nazar si mayit).
      Imam Muslim, dalam kitab Shahih-nya, memasukkan hadits ini dalam Bab Wushul Tsawab Ash Shadaqat Ilal Mayyit (Bab: Sampainya pahala sedekah kepada mayit).
      Imam An-Nasa’i, dalam kitab Sunan-nya memasukkan hadits ini dalam Bab Fadhlu Ash Shadaqat ‘anil Mayyit (Bab: Keutamaan bersedekah untuk mayit).
      Syaikh Abdul Aziz bin Baz (Mantan Mufti Arab Saudi) berfatwa: “Adapun bersedekah dan berdoa bagi mayit kaum muslimin, maka semua ini disyariatkan.” (Fatawa Nur ‘Alad Darb, 1/89)
      Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin (Ulama Arab Saudi) mengatakan: “Adapun sedekah buat mayit, maka itu tidak apa-apa, boleh bersedekah (untuknya).” (Fatawa Nur ‘Alad Darb no. 44)
      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Seorang wanita boleh menghajikan wanita lain, (hal ini) berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ Fatawa, 26/13)
      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tentang menghajikan orang yang sudah mati atau orang yang tidak kuat badannya, dengan harta yang diambil dari orang yang dihajikan itu sebagai biaya selama haji, maka ini boleh, dengan kesepakatan para ulama. Adapun menghajikan orang yang mengambil upah, (hal ini) masih menjadi perselisihan pendapat di antara para ahli fikih.” (Majmu’ Fatawa, 26/13)
      Imam Asy-Syafi’i dan Imam Malik berpendapat bahwa tidak sampai kepada mayit kecuali apa yang diterangkan oleh dalil tentang pengesahan untuk memberikan hadiah kepada mayit yaitu berbentuk doa, shadaqah, haji dan umrah. Adapun di luar itu tidak sampai kepadanya dan tidak pula disyariatkan perbuatannya dengan niat memberikan hadiah. Itulah pendapat yang masyhur (populer) dari madzhab Imam Asy-Syafi’i dan Imam Malik.” (Syarah Aqidah Al-Thahawiyah, hal. 452 dan Al-Majmu’ Imam An-Nawawi, 15/521)
      Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata: “Para ulama telah bersepakat bahwa orang yang telah mati mendapatkan manfaat dengan shalat (jenazah) atasnya, doa untuknya, haji baginya, dan semacamnya, dari segala sesuatu yang manfaatnya telah pasti didapatkan oleh seseorang dengan sebab amal orang lain.” (Tafsir Adhwaul Bayan, Surat An-Najm ayat 39)

      Firman Allah dalam Surat An-Najm ayat 39 :
      “Bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya.”

      Berikut ini penjelasan Surat An-Najm ayat 39:
      Mengenai ayat di atas seorang shahabat Nabi, ahli tafsir yang utama, yang pernah didoakan secara khusus oleh Nabi agar pandai menakwilkan al Qur’an yakni Ibnu Abbas ra. berkata : “Ayat tersebut telah dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman Allah SWT: “Kami hubungkan dengan mereka anak-anak mereka”, maka dimasukanlah anak ke dalam surga berkat kebaikan yang dibuat oleh bapaknya.’ (Tafsir Khazin, IV/213)
      Firman Allah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas ra sebagai penasakh Surat An-Najm ayat 39 itu adalah sebagai berikut : “Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur :21)

      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam menafsirkan QS. An-Najm 39: “Allah tidak menyatakan bahwa seseorang tidak bisa mendapat manfaat dari orang lain, namun Allah berfirman, seseorang hanya berhak atas hasil usahanya sendiri. Sedangkan hasil usaha orang lain adalah hak orang lain. Namum demikian ia bisa memiliki harta orang lain apabila dihadiahkan kepadanya. Begitu pula pahala, apabila dihadiahkan kepada si mayyit maka ia berhak menerimanya seperti dalam solat jenazah dan doa di kubur. Dengan demikian si mayit berhak atas pahala yang dihadiahkan oleh kaum muslimin, baik kerabat maupun orang lain.” (Majmu’ Fatawa, 24/366)

      Asy-Syaukani berkata menafsirkan Surat An-Najm ayat 39: “Dan makna ayat tersebut, ‘Dia (manusia) hanya mendapatkan balasan usahanya, dan amal seseorang tidak bermanfaat kepada orang lain’, maka keumuman ini dikhususkan dengan firman Allah ta’ala, ‘Kami hubungkan mereka dengan anak cucu mereka’. (Q.S. Ath-Thur: 21), serta dengan ayat semisal itu tentang syafaat para nabi dan para malaikat untuk hamba-hamba (Allah), dan disyariatkannya doa orang-orang yang hidup untuk orang-orang yang telah mati, dan semacamnya. Tidak benarlah orang yang mengatakan ‘Sesungguhnya ayat itu dihapuskan dengan semisal perkara-perkara ini’, karena sesungguhnya yang khusus tidaklah menghapuskan yang umum, tetapi mengkhususkannya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dalilnya telah tegak bahwa manusia mendapatkan manfaat dengannya, sedangkan itu bukan usahanya, hal itu menjadi pengkhusus keumuman ayat ini.” (Tafsir Fathul Qadir, Surat An Najm ayat 39)
      Asy-Syaukani berkata dalam kitabnya yang lain : “(Ayat) ‘Tidak ada seseorang itu…..’ maksudnya tidak ada dari segi keadilan (min thariqil adli), adapun dari segi karunia (min thariqil fadhli), maka ada bagi seseorang itu apa yang tidak dia usahakan.” (Nailul Authar, IV/102)

      Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata: “Ayat itu hanyalah menunjukkan peniadaan kepemilikan manusia terhadap sesuatu yang tidak diusahakannya. Ayat ini tidak menunjukkan peniadaan bahwa manusia tidak mendapatkan manfaat dengan usaha orang lain.” (Tafsir Adhwaul Bayan, Surat An-Najm ayat 39).

      Nabi bersabda: “Jika anak Adam mati, maka akan terputus seluruh amal perbuatannya kecuali pada 3 hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim: Al-Washiyyah, bab: Maa Yalhaqul Insaan Minats Tsawaab Ba’da Wafaatihi hadits no. 14)

      Berikut penjelasan mengenai hadits tersebut:
      Ibnul Qayyim berkata untuk membantah orang yang berargumen menggunakan hadits Muslim “Jika anak Adam mati…” : “Maka ini pengambilan dalil yang tidak pada tempatnya. Sebab Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tidak mengatakan ‘terputus pengambilan manfaatnya’, tapi yang diberitahukan adalah ‘terputusnya amal perbuatan’, sedangkan amal perbuatan orang lain adalah milik orang lain. Apabila dia menghadiahkan pahala amal perbuatannya, maka pahala si pelaku tersebut akan sampai kepadanya, bukan pahalanya sendiri. Yang terputus lain hal, sedangkan yang sampai kepadanya lain hal lagi.” (Kitab Ar-Ruuh oleh Ibnul Qayyim)

      Ibnu Abil Izzi Al-Hanafi (murid Ibnu Katsir) menjelaskan: “Dalam hadits tersebut tidak dikatakan inqata intifa’uhu (terputus keadaannya untuk mendapat manfaat) tetapi disebutkan inqata ‘amaluhu (terputus amalnya). Adapun amalan orang lain (yang masih hidup) maka itu adalah milik orang yang mengamalkannya, jika dia menghadiahkannya kepada si mayit, maka akan sampailah pahala orang yang mengamalkan itu kepadanya. Jadi yang sampai itu adalah pahala orang yang mengamalkan bukan pahala amal si mayit itu.” (Syarh Aqidah Thahawiyah: 456)

      Yang menjadi perbedaan pendapat di kalangan Ahlus Sunnah adalah masalah mengirimkan pahala bacaan Al Qur’an kepada mayit karena hal ini tidak terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah.
      Diposkan oleh Indro Susanto di 15:51

      Penulis berpendapat suatu ilmu yang belum pernah manusia menjalani sesungguh amat sulit menjelaskan dan kebenaran mutlak milik allah akan tetapi untuk mencapai win win sokution adalah

      bacaan yasin dan al fatihah akan sampai buat yg meninggal atau tidak yang paling tahu adalah allah dan kita sebagai manusia tidak mampu meneliti bagaimana cara allah bekerja

      Al Zalzalah
      7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
      8. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

      jika kita mengirim bacaan yasin dan al fatihah kepada manusia yang telah meninggal janganlah berpikir sampai atau tidak, bermanfaat atau tidak sesungguhnya bacaan yasin dan al fatihah yang kita kirimkan kepada ahli mayit sangat bermanfaat kepada kita dan rasa kagum serta rasa terima kasih kita kepada ahli mayit yang kita kirimi tersebut.

  7. sayit mansur mengatakan:

    jalan terus nulisnya….,jangan hiraukan yang 30%,yang 70% baca serius koq!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: